
"Aahhh... kenapa bisa aku kehabisan tiket?!" kesal Yumna saat dia kehabisan tiket penerbangan ke Jakarta. Dan dia harus menunggu dua jam untuk penerbangan selanjutnya. Begitu juga dengan maskapai penerbangan lain.
"Menyebalkan! Aku juga lapar! hiks!" Yumna menelungkupkan kepalanya di atas koper. Dia bersama dengan penumpang lain sedang duduk di bangku ruang tunggu bandara.
"Aku lupa kenapa tadi gak sarapan dulu di hotel! Semua gara-gara Haidar!" gumam Yumna kesal.
"Mbak. Maaf?" seseorang mengetuk bahu Yumna dengan satu jari telunjuknya. Yumna mengangkat kepalanya dan menoleh pada asal suara. Seorang pria tidak terlalu muda dengan tubuh tinggi kekar berbalut jaket hitam, rambut berantakan namun terlihat tampan, berdiri di sampingnya.
"Hemmm? Ada apa?" jawab Yumna malas.
"Aku dengar mbak gak kebagian tiket pesawat ke Jakarta?" Yumna memiringkan kepalanya.
"Benar! Memangnya kenapa?" tanya Yumna.
"Aku punya satu tiket pesawat, orang yang aku tunggu tidak akan datang. Kalau mbak mau, mbak boleh pakai daripada mubazir!" dia menyerahkan tiket tersebut pada Yumna. Mata Yumna berbinar senang, dia lantas mengambil tiket tersebut, membaca nama yang tertera pada tiket itu, atas nama seorang perempuan.
Senyumnya memudar. Yumna menyerahkan kembali tiket itu pada si pemilik.
"Gak jadi ah!"
"Kenapa?" si pria mengerutkan keningnya. Heran.
"Anda ini orang asing. Gak seharusnya saya bicara sama orang asing! Bagaimana kalau anda ini orang jahat?" pria itu sempat terkejut, gadis di depannya ini begitu terbuka dengan pemikirannya!
Yumna menutup mulutnya dengan tangan lalu memukulnya pelan. Sadar akan kesalahannya barusan. Bukannya marah pria itu malah tersenyum.
"Ya sudah, kalau mbak gak mau saya juga gak maksa. Saya cuma nawarin, daripada tiket ini saya buang." pria itu berdiri lalu melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Yumna terdiam sebentar, menatap punggung pria itu. "Tapi lumayan juga sih. Daripada gak bisa berangkat, udah terlanjur juga pergi dari hotel. Kalau nunggu juga lama!" Yumna berdiri.
"Eh, mas! Saya mau tiketnya!" panggil Yumna, mendengar suara gadis yang tadi pria itu berhenti. Yumna mendekat ke arahnya dan mengambil tiket dari tangan pria itu.
"Saya ganti uang tiketnya ya!" Yumna hendak membuka dompetnya namun pria itu melambaikan tangannya.
"Tidak usah mbak. Lagian itu tiket juga sudah terlanjur saya beli."
"Ahhh, kalau anda nolak uangnya saya juga gak mau tiket ini. Saya gak mau punya hutang budi sama orang lain, apalagi orang asing seperti masnya. Lebih baik saya berenang aja deh pulang ke Jakarta daripada terima tiket ini secara gratis!" Yumna mengeluarkan uang beberapa lembar, sedikit dia lebihkan untuk kebaikan orang itu.
Pria itu mundur satu langkah dari Yumna.
"Maaf mbak. Saya gak terima uang dari perempuan, apalagi tiket itu memang saya yang sudah berikan pada mbaknya."
"Kenapa jadi laki-laki sok jual mahal?" Yumna mendecih sebal. Harus bagaimana untuk membuat laki-laki ini menerima uangnya.
Yumna berfikir sebentar, haruskan ia memasukkan uang itu ke dalam saku baju pria di depannya lalu dia melarikan diri?
Kruuukkkk...
Perut Yumna berbunyi. Yumna mengelus perutnya yang lapar.
Pria itu tertawa saat melihat ekspresi Yumna yang tadi sedang berfikir tapi sekarang dia terlihat sangat lapar.
"Tapi kalau mbak mau traktir saya, saya akan terima. Saya belum sarapan!"
Yumna tersenyum senang.
__ADS_1
"Oke. Masnya tunggu disini! Saya akan ambil koper dulu!" lalu Yumna berlari ke arah kopernya berada.
Dengan susah payah Yumna menyeret kopernya. Semakin berat dari saat dia berangkat karena beberapa barang tambahan yang ia beli kemarin.
Pria itu mendekat ke arah Yumna dan menawarkan dirinya untuk membantu. Mereka lalu berjalan ke arah kafe yang berada tak jauh dari sana.
Yumna makan dengan lahap. Dia sangat lapar sekarang. Mungkin karena semalam dia banyak menangis dan juga tadi pagi dia sesegera mungkin keluar dari hotel, bahkan dia tidak minum sama sekali.
Pria itu menatap Yumna, tersenyum. Merasa lucu melihat cara makan gadis di depannya ini. Berbeda dengan gadis lainnya yang selalu jaim saat makan bersama dengan dirinya.
'Gadis yang unik!'
"Masnya kenapa? Maaf ya mas, saya terlanjur lapar, jadi...hehe...." Yumna meringis malu. Sadar dengan tatapan pria itu, Yumna menegakkan dirinya.
"Tidak apa-apa. Mbak teruskan saja makannya. Saya lebih suka dengan wanita yang apa adanya. Saya tidak keberatan!"
Mendengar hal itu, Yumna merasa malu, dia kembali makan, namun kali ini lebih pelan. Mereka menghabiskan makanan mereka, tepat sebelum panggilan pemberangkatan pesawat.
"Mas, terima kasih atas tiketnya ya!" ucap Yumna sambil membungkukan sedikit tubuhnya.
"Saya yang harusnya berterima kasih karena sudah di traktir."
"Ahh... Kalau begitu kita impas!" Yumna mengibaskan tangannya. "Ya sudah, saya masuk dulu ya. Bye!" Yumna melambaikan tangannya.
Pria itu membalas lambaian tangan Yumna. Lalu setelah Yumna tak terlihat lagi, dia tersadar dan menurunkan tangannya dan menatapnya.
"Hahh... Kenapa aku membalas lambaian tangannya?!" merasa lucu dengan reaksi tubuhnya pada gadis muda itu. Gadis yang unik!
__ADS_1