
"Dasar keterlaluan!" ucap Syifa dia sedang berjalan tergesa menuju kelasnya. Sudah hampir terlambat, semua murid sudah banyak yang masuk ke dalam kelas, beruntung guru yang akan mengajarinya belum datang ke kelas.
"Fiuhhh, selamat!" Syifa mengelus dadanya, lalu masuk ke dalam kelasnya. Beberapa orang menatap Syifa sembari menahan tawa. Tak jauh dari sana Ameera melambaikan tangannya dari bangkunya. Dia tertawa kecil membuat Syifa heran.
"Kenapa?" tanya Syifa, dia menyimpan tasnya di kursi lalu duduk.
"Gaya rambut baru ya?" Ameera tertawa terbahak, Syifa segera membuka tasnya dan mengambil cermin kecil dari sana.
"OMG!" Seru Syifa saat melihat penampilan rambutnya yang berantakan. "Pantesan aja dari tadi banyak yang lihatin aku!" Syifa segera mengambil sisir kecil dan merapikan kembali rambutnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dimana teman-teman yang lainnya masih saja melirik menahan tawa melihatnya.
"Lagian kenapa coba berantakan? Gak mandi, hem?" tanya Ameera lalu tertawa lagi.
"Enak aja. Mandi lah, cuma tadi om Rey bawa motor nya kenceng banget!" Syifa kembali kesal saat mengingat kejadian tadi.
"Demi apa, om Rey anter kamu?" Ameera terkejut bertanya, Syifa hanya mengangguk. "Tapi kok bisa berantakan gini?"
"Pake motor Arkhan!" ucapnya kesal.
"Waaahhh... Gila! Dia anter om Reyhan pake motor? Berarti... kamu..." Ameera terdiam, lalu tersenyum menggoda Syifa. Syifa mendelik ke arah sahabatnya. Ameera hanya tersenyum sembari mengangkat alisnya beberapa kali.
"Apa?! Gara-gara calon pacar kamu tuh aku di tinggal, jadi terpaksa deh minta anter om Rey!" ucap Syifa garang.
"Uuuuhhhh so sweet... Peluk om Rey dong!" cubit Ameera di lengan Syifa. Syifa mengaduh sambil mengelus lengannya yang sakit. "Iiihhh mauuu....!" ucap Ameera dengan nada manja. Syifa memutar bola matanya malas.
"Heh, yang konsisten dong! Jangan selingkuh. Mau aku bilangin sama Arkhan kalu calon pacarnya demenin om Rey?" ancam Syifa. Ameera hanya tertawa.
"Kan mumpung belum, jadi sah-sah saja dong. Lagian kan Om Rey orangnya ganteng! Mateng lagi!" ujar Ameera dia memegang pipinya dengan kedua telapak tangannya dengan pandangan mendamba.
"Buah kali!" ucap Syifa. Mereka tertawa bersama-sama.
"Tapi aku setuju loh kalau kamu sama om Rey!" ucap Ameera dengan serius.
"Ihh...aku sama om Rey? Gak lah! Bukan tipe aku juga!" ucap Syifa sambil mengedikan bahunya.
"Yee. Dia itu tipe cowok idaman tahu, apa lagi sifatnya yang dewasa dan agak dingin-dingin gimana gitu, bikin para gadis ingin menaklukan hatinya!"
"Trus kamu juga termasuk gitu?"
"Enggak! Hehe... Aku kan udah ada si tengil!" Ameera tersenyum dengan lebar hingga matanya menyipit.
"Ih dasar!"
Tak lama seorang guru wanita datang dan mereka pun memulai pelajarannya.
Matahari bersinar dengan sangat terik. Udara terasa panas, debu-debu halus beterbangan terbawa oleh angin, begitu pun dengan dedaunan kering.
Syifa dan Ameera berjalan keluar dari gerbang sekolahan, Arkhan dan Azkhan juga berjalan beberapa meter di belakang mereka berdua. Pak Naryo sudah menunggu dengan mobilnya di luar gerbang. Begitu juga dengan Papa Ridho yang menjemput Ameera bersama Rama yang juga baru pulang dari sekolahnya.
Mereka berpisah dan masuk ke dalam mobil masing-masing. Namun sebelum Syifa masuk ke dalam mobil, tangannya di tahan oleh seseorang dari belakang. Syifa terkejut saat melihat siapa yang menahannya.
"Pak Naryo. Syifa pulang sama saya. Bapak duluan saja dan bilang saja kalau ada yang tanya, saya culik dia sampai sore!" Pak Naryo hanya melongo mendengar perkataan pria itu.
"Eh Om Rey, apa-apaan sih?" tanya Syifa dia mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Reyhan.
"Tunaikan janji kamu yang tadi pagi hari ini juga!" ucap Reyhan menatap Syifa.
"Eh, om. Tapi..."
"Gak ada tapi-tapi!" Reyhan menarik tangan Syifa dan membawanya berjalan ke arah motor Arkhan yang dia bawa. Arkhan melongo kan kepalanya keluar dari jendela mobil, menatap kepergian dua orang itu.
"Motor kamu aku pinjam!" seru Reyhan pada Arkhan.
"Oke! Jangan lupa sebagai sewa motor dan bawa kabur kakak gue, pulangnya bawain martabak telur ya!" teriak Arkhan.
"Oke!" balas Reyhan berteriak.
"Dasar adik l*knat!" Syifa juga tak kalah berteriak marah pada adiknya. 'Bisa-bisa nya mereka membiarkan aku di bawa paksa begini!'
Arkhan dan Azkhan tertawa puas.
"Pak Nar, ayo pulang sebelum Syifa lari kesini lagi!" ujar Arkhan.
"Tapi mas, nanti gimana kalau ibu marah?" tanya pak Nar dengan takut dan bingung.
"Gak bakalan, orang perginya juga sama Om Rey."
__ADS_1
"Tapi kalau ada apa-apa gimana?" tanya pak Naryo lagi.
"Kalau ada apa-apa ya suruh tanggung jawab aja!" jawab Arkhan santai. Azkhan memukul belakang kepala Arkhan.
"Sembarangan lu ngomong! ati-ati deh..."
"Ish, apaan sih! Kan gue juga gak salah, kalau ada apa-apa kan om Rey tanggung jawab. Lu mikirnya kemana sih?" Arkhan meninju lengan adiknya cukup keras. Dia merasa kesal.
"Ya lagian lu ngomong nya gitu kan fikiran gue jadi kemana-mana!" ucap Azkhan. Arkhan memutar bola mata nya malas.
"Pak Nar, ayo! Kok malah diem aja!" Arkhan berseru pada pak Naryo. Pak Naryo mengangguk lalu mulai menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.
...*...
"Apa sih om, bawa-bawa Syifa kesini?" tanya Syifa, mereka kini sedang duduk di sebuah kafe yang cukup ramai.
"Mau nagih janji tadi pagi!" Ucap Reyhan, sambil menyenderkan punggung pada sandaran kursi.
"Ya tapi gak sekarang juga kali om! Syifa ada tugas nih!" kesal Syifa sambil merengut.
"Itu urusan kamu! Besok aku akan pulang ke Singapura, Jadi hari ini kamu harus traktir aku." ucap Reyhan lalu memanggil seorang pelayan. Pelayan itu mendekat dan memberikan sebuah buku menu.
"Tapi om Syifa gak..."
"Shhhtttt..." Reyhan menempelkan telunjuk di depan bibirnya. "Kalau kamu mau belajar, buka saja bukunya disini. Aku lapar!" Syifa terdiam. Reyhan pun kembali pada buku menunya, menyebutkan beberapa makanan dan juga minuman hingga hidangan penutup. Pelayan itu pamit pergi lalu selang beneran lama kemudian kembali lagi dengan beberapa hidangan yang di pesan Reyhan tadi.
Syifa melongo melihat betapa banyaknya makanan yang di pesan Reyhan. Dia menelan ludahnya dengan susah payah.
"Om, gak salah?" tanya Syifa.
"Memangnya kenapa? Aku sedang lapar, dari pagi belum makan gara-gara kamu minta anter ke sekolah." ucap Reyhan lalu mengambil hidangan utama untuk dia makan.
"Emang sesudah om anter aku ke sekolah, om gak pulang?" tanya Syifa.
"Enggak!" ucap Reyhan, dia memasuki makanan ke dalam mulutnya.
"Kenapa?" tanya Syifa lagi.
"Sibuk!" jawabnya singkat, lalu kembali makan dengan lahap. Syifa memperhatikan Reyhan, dia memang masih memakai pakaiannya seperti tadi pagi.
"Anak kecil itu harus banyak makan biar cepat tinggi! Lihat badan kamu kecil, pendek begitu. Makanya tidak heran kalau kamu kalah jauh sama si kembar!" Ucap Reyhan membuat Syifa merasa dia tertimpa batu besar di kepalanya. Syifa merengut kesal.
Reyhan menyodorkan piring dengan isi yang sama pada Syifa. "Makan!" titah Reyhan.
"Syifa belum lapar om!" ujar Syifa mendorong piringnya ke tengah.
"Kalau kamu gak makan kita gak akan pulang!" tutur Reyhan.
"Ish, pemaksaan!" Syifa semakin merasa kesal, ia kembali menarik piringnya.
"Kalau pemaksaan tuh begini!" Reyhan mengambil satu sendok penuh dari piring miliknya dan memegangi pipi Syifa dengan satu tangannya hingga mulut gadis itu terbuka, lalu dengan cepat dia memasukan makanan ke dalam mulut Syifa.
Syifa hanya melongo, tidak menyangka dengan apa yang di lakukan oleh Reyhan.
"Kunyah!" titah Reyhan karena Syifa hanya diam tak kunjung mengunyah makanannya. Syifa tersadar, dia menggerakkan rahangnya dengan pelan. Masih menatap Reyhan yang sibuk dengan makanannya.
"Demi apa, om Rey suapi aku? Pake sendoknya lagi. Itu berarti aku... dan om Rey... Oh no!!! Bukankah itu seperti... ciuman tidak langsung?!" tiba-tiba dada Syifa berdebar. Rasanya seperti kelinci yang berlompatan kesana kemari.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Reyhan memanggil pelayan untuk meminta bill makanan.
Reyhan menyodorkannya pada Syifa. Syifa melongo melihat angka yang lumayan cukup besar untuknya.
"Tiga ratus dua puluh tujuh ribu?!" gumam Syifa sangat pelan. Dia menelan ludahnya dengan kasar. Rasanya dia ingin sekali memuntahkan makanan itu kembali.
Reyhan hanya diam, melihat ekspresi penuh dengan aura hitam di wajah Syifa. Dia tersenyum sangat tipis.
"Kenapa? Ayo bayar. Mau pulang gak?" tanya Reyhan.
Syifa mengalihkan tatapannya pada Reyhan. Syifa menyondongkan tubuhnya ke depan dan menghalangi wajahnya dengan buku menu dari pelayan di sebelahnya. Dia menggerakkan jarinya meminta Reyhan mendekat. "Om, bisa tunggu sebentar disini gak? Uang Syifa gak cukup."
"Kenapa gak bilang dari tadi?" ucap Reyhan, dia kembali menegakkan tubuhnya. Syifa tidak terima, ia merasa kesal dengan Reyhan.
"Om tadi gak mau denger aku ngomong sih. Aku kan mau bilang soal itu!" Ujar Syifa kesal. "Ya udah, Syifa cari ATM dulu. Om tunggu disini!" Syifa berdiri.
"Gak usah." ucap Reyhan. "Ini mbak, kembaliannya ambil saja!" Reyhan mengeluarkan uang untuk membayar tagihan makannya.
__ADS_1
"Gak punya uang, sok mau traktir lagi!" Reyhan berkata dengan sinis. Syifa memutar bola mata malas.
"Lagian salah om sendiri. Aku kan bilangnya mau jajanin, bukan mau traktirin!" ucap Syifa smbil menggendong tas sekolahnya. "Pulang ah, Syifa banyak tugas!" Syifa berdiri dan melangkah diikuti Reyhan di belakangnya.
"Memangnya apa bedanya, di jajanin sama di traktirin?" tanya Reyhan, dia berjalan di samping Syifa.
"Hmmm... ya...." Syifa merasa bingung.
"Bingung kan?" Reyhan tertawa dengan lepasnya.
"Enggak!" Teriak Syifa tidak mau kalah.
"Terus?"
"Yaa... Apa ya?!" Syifa menggaruk lehernya yang mendadak gatal. Reyhan masih tertawa apalagi melihat wajah Syifa yang menggemaskan. Rasanya dia ingin mencubit pipi itu.
"Tau ah. Tapi kan bukan ini yang mau Syifa beliin buat om Rey!" cicit Syifa.
Reyhan menatap tajam pada gadis di sampingnya.
"Terus. Mau beliin apa?" tanya Reyhan penasaran.
"Ya bukan ini pokoknya."
"Kalau begitu ayo! Kita pergi ke tepat yang kamu mau!" Reyhan menggandeng tangan Syifa menuju motor yang di parkirnya.
"Eh om, gak bisa sekarang. Tugas Syifa banyak banget. Dan harus di kumpulkan besok!" Syifa menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Reyhan.
"Tugas biar aku bantu, sekarang ayo kita pergi!"
"Kemana?"
"Ke tempat yang kamu tadi bilang. Kamu mau jajanin aku apa?" tanya Reyhan.
"Tapi om, kita kan udah makan."
"Memangnya kenapa? satu macam makanan lagi perutku juga masih muat! Jangan lupa, kamu masih punya hutang janji, dan juga buat makanan yang tadi, itu juga aku akan jadikan sebagai hutang. Lain kali boleh kamu bayar. Dan sekarang kamu harus tepati janji yang tadi pagi dulu!" tutur Reyhan.
"Haaa!!! Om gila ya! Yang tadi itu kan bukan salah aku, kenapa jadi aku berhutang sama om?" protes Syifa.
"Salah kamu sendiri gak bilang pada waktu-waktu awal."
"Tadi aku mau ngomong tapi om yang gak kasih aku kesempatan!" Teriak Syifa dengan penuh amarah. Reyhan mengangkat bahunya cuek, dan menyerahkan helm pada Syifa.
Akhirnya karena Reyhan bersikeras untuk meminta Syifa menunaikan janjinya, mereka baru pulang pada saat malam menjelang.
Syifa berjalan meninggalkan Reyhan yang masih memarkirkan motornya di garasi. Dia melangkah dengan kasar, wajahnya merah, mulutnya cemberut.
"Syifa kamu dari mana?" tanya Lily saat melihat putri keduanya melangkah masuk ke dalam rumah.
"Mama tanya aja tuh sama pria menyebalkan di belakang!" tunjuk Syifa dengan dagunya. Lily menatap ke arah dimana Reyhan juga sedang berjalan ke arahnya. Syifa berjalan dengan cepat meninggalkan Lily dan juga Reyhan.
"Rey, apa yang kamu lakukan sama Syifa sampai dia marah begitu?" yang Lily pada Reyhan.
"Gak ngapa-ngapain kok, Nyonya!" tutur Reyhan mengangguk dengan hormat.
"Reyhaaannn!!!!" Lily menggeram tak suka, memasang wajah marah. Reyhan tersenyum dengan lebarnya hingga matanya menyipit.
"Tidak ada apa-apa, mama. Cuma Syifa kesal tidak bisa mengerjakan tugas sekolahnya karena aku tadi!" jujurnya. Lily menatap heran pada Reyhan.
"Kenapa?"
"Apa pak Naryo gak kasih tahu mama kalau aku culik Syifa sebentar? Syifa punya janji mau traktir aku makan. Jadi karena besok aku akan pulang, aku tagih janji itu." Reyhan tertawa pelan. Lily hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Dasar kamu ya! Malam ini bantu Syifa kerjakan tugas. Awas kamu kalau gak bantu tugas Syifa, jangan harap kamu besok bisa pulang ke Singapura!" ancam Lily dengan jari telunjuk mengarah ke wajah Reyhan.
"Yes Mom!" Reyhan memberikan sikap hormat pada Lily.
"Ya sudah sana, mandi. Mama akan buatkan makan malam buat kita semua!" Lily pergi ke dapur sementara Reyhan pergi ke kamarnya di lantai atas.
*
*
*
__ADS_1