YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
105. Sadarlah Wahai Haidar


__ADS_3

Suara hentakkan musik terdengar memekakan telinga. Lampu kelap kelip di atas kepala membuat suasana semakin riuh, apalagi saat seorang penari striptis keluar dan melakukan aksinya di atas panggung. Semakin riuhlah keadaan di sekitar sana apalagi saat seluruh baju dia buka dan dia lemparkan ke arah pengunjung.


Vio meliuk-liukan badannya di tengah keramaian, tak ia pedulikan dengan tatapan liar para pria yang terarah kepadanya. Dia sedang menikmati waktunya sekarang.


"Eh Vi. Ajak lah Haidar. Masa dia datang kesini cuma minum-minum doang!" ucap Sarah, salah satu teman model Vio.


"Dia gak suka joget-joget. Ke klub aja baru-baru ini dia mau!" teriak Vio mencoba mengimbangi suara dari musik yang menggema memekakan telinga.


"Gila ya lu. Anak orang elu racunin!" Sarah tertawa. "Jangan-jangan dia juga susah buat elo ajak mojok." kelakar Sarah. Vio mendengus kesal.


"Emang. Imannya kuat banget. Padahal gue juga pernah kasih dia obat, tapi dia malah dorong gue."


"Ya ampun... Elo seorang model yang sedang naik daun di tolak sama cowok sendiri? Dia buta atau gimana sih? Badan bohay seksi gini di tolak?" Sarah tertawa.


"Dia belum tahu aja nikmat dunia, tapi gue yakin kalau dia udah rasain gue dia pasti ketagihan." teriak Vio.


"Iya lah. Secara elo udah pinter banget, sampai si Kenzo aja klepek-klepek dan tak berdaya sama goyangan elo." Sarah tertawa begitu juga dengan Vio. Mereka melanjutkan aktifitas mereka, tak peduli dengan banyak mata yang menatap mereka dengan lapar.


"Nih!" Sarah mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebuah plastik kecil berisi serbuk, entah serbuk apa.


Vio tersenyum menyeringai. Sahabatnya ini sangat pengertian sekali.


Dia mengambil bungkusan plastik itu sambil tersenyum licik. "Thank's." ucapnya. Lalu pergi ke arah Haidar.


Haidar duduk di meja bartender. Dia sudah menghabiskan dua gelas wine, tenggorokannya kini sudah terbiasa dengan minuman haram itu.


Mami pasti akan marah, tapi fikirannya yang kalut membuat dia melarikan diri kesini bersama dengan kekasihnya. Vio benar, sekarang fikirannya rileks, tidak lagi memikirkan masalah Yumna dan perceraian itu.


"Sial.!!!!" Haidar menyimpan kasar gelas di tangannya hingga beberapa pengunjung menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Kini fikirannya kembali di penuhi oleh Yumna. Senyumnya, wajah marahnya, dan juga wajah kesal dia.


"Aku kangen dia..." Haidar melabuhkan kepalanya di atas meja. Dia mengetuk-ketuk meja kaca.


Vio tersenyum pria ini sudah mabuk.


"Sayang. Kita turun, yuk!" ajak Vio.


"Kamu saja sana. Aku mau disini." Haidar mendorong lengan Vio dan kembali menenggak minumannya yang tinggal sedikit.


"Satu lagi!" pinta Haidar pada bartender.


"Sayang kamu itu sudah mabuk. Mending kita turun yuk, biar sedikit fresh!" Dia membelai pipi Haidar sedangkan tangan satunya dia menyodorkan plastik berisi serbuk itu pada bartender tanpa Haidar ketahui.


Bartender tersenyum, dia sudah mengerti. Sangat mengerti.


Tak butuh waktu lama, minuman itu sudah tersedia kembal di hadapan Haidar. Segera dia menenggaknya berhara bayangan Yumna enyah dari fikirannya.


Dengan sekali tenggak dia menghabiskan minuman tersebut hingga ujug bibirnya basah. Haidar mengusapnya dengan punggung tangan.


"Sayang, ayo. Mau turun gak?"


Hiadar menoleh ke arah asal suara. Vio tersenyum dengan semanis mungkin seperti biasanya. Haidar tersenyum. Cantik! Yumna memang cantik. Eh...


Dia menggelengkan kepalanya, masih ingat dengan siapa dia datang dan juga siapa yang kini ada di hadapannya, Vio. Sial, kenapa aku malah ingat dengan Yumna!


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Vio. Dia tahu jelas dengan reaksi obat yang dia berikan tadi, pasti sudah bereaksi.


"Kamu cantik banget malam ini!" Haidar menarik pinggang Vio dan mengambil tengkuknya. Di lumatnya bibir seksi wanita itu, entah sadar atau tidak sedang dimana mereka Haidar tidak peduli!

__ADS_1


"Mmhhh..." suara desahan Vio terdengar, dia mendorong dada Haidar.


"Jangan disini. Banyak orang. Aku malu." tutur Vio saat Haidar hendak mendekatkan dirinya lagi.


Haidar memutar kepalanya, benar, banyak orang disini. Sial.


"Ayo kita pergi!" Haidar bangkit dan menarik tangan Vio. Dia sedikit terhuyung, hingga Vio harus membantu memapahnya.


Sarah mendekat ke meja bartender dan memberikan selembar uang berwarna merah padanya. "Kerja bagus!"


"Trimakasih!"


Sarah kembali lagi ke tempatnya melanjutkan tariannya yang sempat terhenti.


...*...


Brukkk!!!


"Ahhhh..." Haidar melenguh saat Vio melemparkannya ke atas ranjang empuk. Kepalanya pusing, matanya berputar-putar. Dia harus menyipitkan matanya. Bibirnya tersenyum. Pemandangan indah di depannya membuat air liurnya sulit untuk di telan.


"Come Baby. Faster!" Haidar mengerakkan satu jarinya ke arah Vio yang kini hanya memakai dua dalaman saja. Vio tersenyum nakal melihat isyarat itu. Dia mendekat ke arah haidar.


Tentu kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan. Dia akan lebih mudah untuk masuk ke dalam keluarga Rahadian.


"Indah." Sentuhan tangan dan bibir Haidar di tubuhnya membuat Vio mendesis keenakan.


"Ahh...."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2