YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
153. Rasa Ingin Melindungi


__ADS_3

Sadar dengan tatapan Juan kepadanya, Yumna hanya diam mengalihkan tatapannnya ke arah depan. Sedangkan Juan kini terdiam dengan pikirannya sendiri. Suara Syifa dan Azkhan yang ada di sampingnya tidak terdengar lagi di telinganya.


Beberapa saat lamanya Juan terdiam, tidak meyangka dengan apa yang tadi dia dengar. Tidak menyangka jika Yumna pernah menikah. Tidak pernah gadis itu membicarkan hal ini.


Oke, memang dirinya adalah orang asing bagi Yumna. Entah lah, rasanya dia merasa ada sesuatu yang terasa aneh, entah kecewa atau bagaimana yang dia rasakan di dalam hatinya kini?


"Kita mau ke mana?" tanya Arkhan yang masih melajukan kendaraannya ke arah depan. Dia menoleh ke arah sang kakak sekilas.


"Kita cari makanan dong Kak, aku lapar!" seru Syifa dari belakang. "Kak Yumna, kita makan ayo. Kak Juan juga, kita makan sama-sama ya. aku lapar!" Syifa kembali berseru, memecahkan suasana sepi yang ada di dalam mobil itu.


"Iya, kalau begitu ayo kita cari makan. Pak Juan juga ikut dengan kami ya." Yumna menawarkan seraya melirik ke arah Juan, pria itu menganggukkan kepalanya.


"Yeeeey... kita makaaan!!" Syifa berteriak, membuat kakak dan adiknya menutup telinga mereka.


Arkhan melajukan mobilnya ke arah sebuah kafe. Setelah sampai mereka keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam kafe itu.

__ADS_1


Syifa dan kedua adik kembarnya, berjalan mendahului sang kakak dan juga temannya.


Yumna dan Juan merasa canggung sekarang. Mereka berjalan berdua mengikuti adik mereka yang sudah masuk ke dalam cafe. Keduanya saling diam tidak berbicara. Sungguh rasanya aneh sekali dengan keadaan mereka saat ini.


"Jadi kamu sudah pernah menikah?" tanya Juan kepada Yumna. Langkah mereka sangat pelan seakan tidak ingin cepat-cepat masuk ke dalam sana.


"Iya aku pernah menikah." Yumna menjawab dengan pelan seperti dia berbisik. Hatinya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Juan. Bukan terganggu dengan ucapan pria itu, tapi hatinya merasa sakit saat mengingatnya.


"Dan selesai, makanya aku pergi menenangkan diri ke rumah nenek." ucap Yumna lagi.


"Tidak apa-apa, aku dimana saja boleh." jawab pria itu dengan tenang, keduanya masuk ke dalam kafe dan kemudian bergabung dengan ketiga adik Yumna. Satu kursi tambahan sudah disiapkan oleh Arkhan, dia ambil dari meja kosong yang ada di samping meja mereka.


"Kak Juan mau pesan apa?" tanya Syifa kepada Juan yang kini duduk di samping kakaknya, sedangkan dirinya duduk di antara adik kembarnya.


"Aku apa saja, bebas." jawab Juan kepada Syifa. Syifa mengangguk lalu mulai menyebutkan pesanan semua orang. Syifa sangat hapal sekali dengan makanan kesukaaan masing-masing saudaranya.

__ADS_1


Kelima orang itu kini makan bersama-sama. Seperti biasa syifa menjadi gadis periang yang menghidupkan suasana ditambah dengan Azkhan yang selalu menjawab pertanyaan Syifa. Arkhan hanya sesekali menjawab jika ditanya. Juan tertawa mendengar syifa yang sibuk bercerita tentang masa sma nya, sesekali dia melirik ke arah yumna yang hanya mendengarkan cerita adiknya.


Mereka telah selesai dari acara makan siangnya. Kelima orang itu kini bergegas keluar dari cafe dan kembali ke dalam mobil. Dengan segera Arkhan melajukan mobilnya ke jalanan yang ramai.


"Alamat Kak Juan di mana?" Tanya Arkhan kepada pria itu. Juan menyebutkan sebuah alamat dan kemudian Arkhan mulai memacu kendaraannya ke tempat yang dituju.


Mobil mereka telah sampai di tempat tujuan. Syifa terpesona melihat rumah Juan yang bak istana. Sangat besar dan juga megah,


"Kalian mau mampir?" tanya juan sebelum dia membuka pintu mobil.


"Ah tidak, terima kasih. Kami akan langsung pulang. Aku sudah kangen dengan mama." Yumna menolak tawaran dari Juan. Juan hanya menganggukan kepalanya, sebelum dia turun dari dalam mobil dia juga mengucapkan kata terima kasih kepada empat saudara itu.


Syifa melambaikan tangannya kepada Juan saat mobil mereka kembali berjalan meninggalkan rumah mewah itu. Juan membalas lambaian tangan Syifa seraya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Sampai mobil itu menghilang di tikungan Juan belum masuk ke dalam rumah. Di dalam hatinya merasa aneh. Rasa ingin melindungi wanita itu dan memberikan rasa bahagia kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2