
Malam pun tiba, Haidar bersama keluarganya bertolak menuju kediaman Mahendra. Mereka sangat antusias dengan acara kali ini, pasalnya mami dan papinya sangat mendamba menantu terutama untuk mengubah sifat putranya agar berubah menjadi lebih baik, tidak lagi berbuat seenaknya, tidak lagi abai dengan tanggung jawabnya.
Haidar merasa jengah sepanjang perjalanan mami dan papi nya tidak berhenti mengoceh, papi yang sedikit pendiam kali ini meladeni ocehan maminya. Di belakang mereka mengikuti satu mobil, berisikan paman, tante dan nenek Haidar, serta sepupunya.
Haidar membiarkan saja mereka terus berbicara, percuma juga dia menyuruh mereka diam, mami dan papi terlalu senang.
"Ya ampun, sekarang mau lamaran saja sudah seperti ini antusiasnya bagaimana nanti kalau menikah?"
Haidar mengusap layar hpnya, dia menatap sedih foto dirinya bersama Vio. Semalam dia sudah menelfon Vio perihal acara lamarannya, dia menjelaskan segala sesuatunya, Vio terdengar sedih saat Haidar bilang akan melamar Yumna tapi Haidar juga menjelaskan bahwa ia melakukan ini untuk menunggunya sampai kontrak dengan agensinya selesai. Pernikahan Haidar dan Yumna hanyalah status semata.
"Maafkan aku Vi, hanya ini caranya agar kita bisa sama-sama. Mami dan papi akan jodohkan aku dengan yang lain, aku tidak mau. Kebetulan Yumna juga tidak suka dengan aku dan kami membuat perjanjian."
"Bagaimana kalau kamu nanti jatuh cinta sama Yumna?" Vio dengan suara sendunya di seberang sana.
"Tidak akan. Kami sepeti Tom Jerry. Lagipula dia juga cewek bar-bar, yang aku suka itu kamu. Kamu segalanya dari dulu di hati aku. Hanya saja aku sudah tidak bisa lagi bertahan seperti dulu. Hanya Yumna yang bisa menolong kita, dan hanya aku yang bisa menolong dia. Aku harap kamu mengerti. Maafkan kedua orang tuaku yang gak bisa ngerti kamu."
"Iya baiklah. Aku percaya. Maafkan karena aku tidak mudah melepas tanggung jawabku sekarang ini. Meskipun kamu bisa membayar pinalti pada pihak agensi jika aku keluar sekarang, tapi aku hanya ingin bertanggung jawab dengan yang aku perbuat. Maaf Haidar."
"Tidak apa-apa. Justru jika aku minta kamu keluar sekarang dari dunia kamu, aku akan merasa bersalah. Ini cita-cita kamu sejak dulu!"
__ADS_1
Itulah sepenggal percakapan Haidar bersama Viola tadi sore.
Tak terasa mobil sudah masuk ke dalam sebuah gerbang besar. Di sambut oleh dua penjaga yang membukakan pintu. Haidar tersentak kaget, pasalnya ini bukan rumah Yumna, Rumah Ini berkali-kali lipat besarnya dari rumah yang kemarin saat Haidar mengantarkan Yumna.
"Mi, kita dimana? Ini bukan rumah Yumna!" seru Haidar bingung.
"Bukan? Kata siapa? Mami cukup sering ke rumah ini, dan ini rumah Lily, calon mertua kamu yang sebentar lagi anaknya akan kita sunting! Iya kan pi!" Mami menoleh pada suaminya.
"Iya, papi juga pernah di undang oleh Pak Bima kesini satu kali bersama mami untuk makan malam!" papi membenarkan. Haidar melongo tak percaya, dia sama sekali tidak tahu siapa Yumna.
"Kamu kalau antar Yumna pasti ke rumah yang satunya ya di jalan XX." tanya mami. Haidar mengangguk.
"Pantas kamu tidak tahu alamat ini. Itu memang salah satu rumah milik keluarga Mahendra, Lily pernah bilang punya rumah di daerah itu. Biasanya rumah itu..."
"Iya Mahendra. Bima Satria Mahendra! Kenapa?" tanya mami.
"Enggak apa-apa, mi." ucap Haidar. Dia baru ingat nama Mahendra, dan dia juga sempat lupa kalau Yumna punya marga Mahendra di belakang namanya. Yumna Azzura Mahendra.
"Gawat, kenapa aku berurusan dengan keluarga Mahendra?!" Haidar menepuk jidatnya. "Salah satu pengusaha besar, dan pemilik saham yang cukup berpengaruh di negeri ini. Aku salah sudah membuat perjanjian dengan anaknya!" Batin Haidar, tiba-tiba dia merasa takut, takut akan masa depan mereka berdua.
__ADS_1
"Sudah ayo turun!" Papi memarkirkan kendaraannya di samping kendaraan lainnya yang sudah lebih dulu ada disana.
Haidar dan yang lainnya turun. Dia semakin ragu saat akan berjalan ke dalam rumah. Di dalam kepalanya terus berdengung nama Mahendra. Meskipun perusahaan papinya juga sejajar dengan Mahendra corp. tapi Haidar merasa tidak nyaman. Yumna sudah membohonginya! Dia bilang anak dari seorang asisten tapi nyatanya dia putri dari salah satu orang penting negeri ini.
Lily dan Bima menyambut kedatangan mereka di teras, dengan raut penuh kebahagiaan dari semua orang. Para pria saling berjabat tangan sedangkan para mama berpelukan, cipika cipiki ria.
"Akhirnya datang juga!" Sambut Lily.
"Iya Ly, ini anak meski laki, tapi dia dandannya lebih lama dari pada maminya!" Mitha berkelakar, membuat para orangtua menahan tawa, sedangkan Haidar merasa kesal karena di fitnah. Sebenarnya dia lama karena telfon Vio terlebih dahulu.
"Calon menantuku!" Lily mengusap lengan kekar Haidar. Haidar tersenyum canggung, mencium tangan Lily dan Bima bergantian.
"Ayo masuk, yang lain sudah menunggu." Lily mengajak keluarga Rahadian untuk masuk ke dalam rumah.
Di dalam sana sudah ramai dengan kehadiran para sahabat. Adit-Celia bersama Alvas yang seusia dengan Syifa. Roman-Nila, dengan si kembar Andara dan Andini, mereka masih di tingkat SMP. Yoga-Wanda, tentunya bersama Aldy. Ridho-Santi bersama dengan Ameera dan Rama.
Papi Arya segera bergabung dengan yang lainnya, karena para sahabat Bima juga kebetulan dia mengenalnya sudah lama, sebagai sesama pebisnis. Selain menjalin kerja sama dengan perusahaan milik Bima dia juga menjalin kerjasama dengan perusahaan Adit.
"Wah, aku senang Ly, akhirnya kita akan menjadi keluarga. Gak nyangka." ucap Mitha pada Lily, para mama juga merasa senang, putri dari sahabat mereka akan dipinang oleh putra dari seorang pebisnis handal juga. Mereka berkumpul sambil berbincang di tempat yang sudah di sediakan. Suasana riuh ramai di ruangan itu.
__ADS_1
Haidar menatap pada punggung seorang pria disana. Dia pernah bertemu dengan pria itu di pesta Tia waktu itu. Pria itu sedang menyesap minumannya tak henti menatap ke arah tangga.
'Apa dia menunggu Yumna?' batin Haidar terus memperhatikan Aldy yang masih menatap ke lantai atas.