
"Ya, sudah. Kalau begitu, kamu duduk dulu di sini sebentar, aku mau selesaikan lari dua putaran dulu." Pinta Haidar. "Sepuluh menit saja," ucapnya menambahkan. Yumna menggerakkan tangannya tanpa berbicara, Haidar segera pergi berlari menjauh untuk menyelesaikan larinya yang masih belum selesai.
Yumna hanya memperhatikan Haidar berlari, suaminya itu memang sangat rajin sekali dalam berolahraga, apalagi saat dokter menyarankan hal tersebut sebagai program kehamilannya sejak waktu itu, dua bulan setelah menikah Yumna dan Haidar sudah merencanakan ingin cepat punya momongan, mengingat mereka berdua adalah anak pertama dari keluarga masing-masing apalagi Haidar adalah anak satu-satunya yang membuat mereka meyakini jika tidak baik untuk menunda memiliki momongan.
Haidar tengah fokus dengan berlarinya, tetapi di dalam pikirannya apa yang Yumna pikirkan telah menjadi beban pikirannya juga. Bukan dia abai dengan keinginan Yumna, tapi dia hanyalah manusia yang tidak bisa melakukan banyak hal tanpa seizin Sang Maha Pencipta. Manusia hanya bisa merencanakan saja, tapi tetap Tuhan lah yang mempunyai kuasa untuk mewujudkannya.
Haidar sempat berpikir, apakah mungkin dari dirinya yang bermasalah, tapi setelah melakukan pemeriksaan dengan lebih detail, tidak ada yang salah pada diri mereka berdua. Semuanya sehat, miliknya tak ada masalah, begitu juga dengan rahim Yumna yang sehat dan tak ada masalah. Akan tetapi, tidak tahu mengapa sampai enam bulan ini Yumna belum mengandung juga.
Yumna masih menunggu dengan setia, dia sedikit menyesal karena tidak membawa hp-nya. Pergi dengan sedikit terburu-buru membuat dia melupakan benda pipih itu. Alhasil, hanya memainkan botol yang dia bisa, memandangi benda tersebut dari pada sedih karena pemandangan yang ada di sekitarnya adalah keluarga lengkap dengan anak mereka.
Sebuah pesawat mainan mendarat di dekat kaki Yumna membuat dia menghentikan permainan botol di tangannya. Mau tidak mau dia mengangkat wajahnya saat seorang anak laki-laki mendekat ke arahnya dan mengambil pesawat mainan tersebut. Sejenak kedua mata mereka saling beradu satu sama lain membuat kehangatan muncul di dalam hati Yumna. Anak laki-laki berusia tiga tahun itu telah mencuri perhatiaannya. Mata anak laki-laki itu yang bulat membuat Yumna kagum akan ketampanan wajahnya. Hanya dua detik saja, kemudian anak laki-laki itu mengalihkan wajahnya dan berlari ke arah keluarganya berada. Yumna merasa menyesal karena tidak menyentuh pipi anak itu tadi.
Anak itu kini tengah bermain kembali bersama dengan saudaranya, bermain lempar pesawat sambil tertawa dengan keras dan juga riang. Yumna hanya memperhatikan dengan hati yang iri. Dia juga ingin memiliki seorang anak kecil di antara dia dan Haidar.
"Hei, lihatin apa?" Suara Haidar mengagetkan Yumna, Haidar mengambil alih botol yang ada di tangan Yumna dan meminumnya. Sambil minum air Haidar mengalihkan tatapannya pada apa yang Yumna lihat, hanya ada satu keluarga yang duduk di tengah taman bersama dengan anak-anak mereka. Mata Yumna seakan tidak berkedip menatap anak laki-laki yang kini tengah mengejar pesawat mainan yang dilemparkan oleh yang lainnya.
"Yuk, pergi," ucap Haidar menarik tangan Yumna sedikit memaksa. Yumna benar kecewa karena dia harus kehilangan momen bahagia wajah anak laki-laki tersebut. Meski entah siapa anak itu, tapi dia senang melihat senyum anak itu di sana.
Haidar menarik Yumna. Akan tetapi, bukan ke arah di mana mobil mereka di parkiran, melainkan pergi ke arah di mana keluarga tersebut berada. Yumna bingung dengan hal tersebut.
__ADS_1
"Hai, selamat pagi, boleh kita berbincang sebentar? Saya seorang agen pencari bakat untuk anak kecil. Saya lihat putra Anda yang kecil sangat tampan sekali, apakah kalian berminat untuk menjadikan dia model produk pakaian anak milik kami?" tanya Haidar setelah berjongkok di dekat kedua orang tua anak itu. Yumna sedikit terkejut dengan apa yang Haidar katakan barusan, begitu juga dengan kedua orangtua anak laki-laki itu.
"Oh, maaf. Kartu nama saya ada di mobil. Saya akan mengambilnya nanti jika Anda berdua berminat untuk menjadikan putra kecil Anda menjadi model pakaian milik kami."
Dua orang itu saling berpandangan satu sama lain dengan bingung. "Eh, kami tidak ada niat untuk menjadikan anak-anak kami model. Terima kasih atas tawaran Anda," ucap ayah dari kedua anak laki-laki itu. Seakan sadar dengan ancaman dua orang asing yang tidak dikenal, membuat dua anak laki-laki tersebut mendekat dan duduk di samping ibu mereka, mendekat dan memeluk lengan keduanya dengan erat.
"Sayang sekali, anak setampan ini tidak jadi model pakaian anak-anak kami. Padahal dari segi wajah dia akan sangat cocok sekali kalau jadi model kami. Iya kan, Sayang?" tanya Haidar sambil mengedipkan satu matanya kepada Yumna. Meskipun tidak tahu apa yang Haidar katakan, tapi keinginan terbesar Yumna saat ini adalah mencubit pipi gembil anak ini sekarang.
"Iya, sayang sekali. Padahal saya kira jika anak Anda akan menjadi terkenal jika menjadi model kami," ucap Yumna sambil mengelus pipi itu, tidka jadi dia cubit karena takut jika anak itu akan semakin ketakutan.
"Maafkan kami. Anak kami tidak perlu menjadi model atau sebagainya, kami sudah cukup puas dengan pencapaian yang mereka punya saat ini," ucap wanita yang merupakan ibu dari keduanya sambil mengelus kepala si kecil.
"Ya sudah kalau begitu. Senang berkenalan dengan Anda, jika Anda berminat dengan tawaran saya, datang saja ke perusahaan saya," ucap Haidar lalu menyebutkan nama sebuah perusahaannya lengkap beserta dengan alamat. Dua orang itu menganggukkan kepalanya.
Haidar berdiri diikuti oleh Yumna dan mereka kembali ke mobil.
Yumna ingin tertawa setelah mereka mauk ke dalam mobil. Dia tidak menyangka jika Haidar sangat pandai sekali berakting tadi.
"Ya ampun, Haidar. Aku tuh sampai gak bisa bicara apa-apa lagi tadi tuh," ucap Yumna sambil tertawa terkekeh, mengingat apa yang tadi Haidar lakukan. Begitu juga dengan Haidar yang sama tertawa kecil, kini dia bisa melihat senyum dan tawa di wajah istrinya. "Kamu kok bisa ada kepikiran buat akting segala sih? Gimana nanti kalau mereka datang ke perusahaan kamu dan mengambil tawaran tadi? Mereka akan ketipu karena kamu gak punya baju untuk dijadikan model pakaian," ujar Yumna, masih sambil tertawa kencang.
__ADS_1
"Hehe, yang penting sekarang kamu senang kan?" tanya Haidar. Yumna menganggukkan kepalanya, masih tidak percaya dengan apa yang sudah Haidar lakukan barusan.
"Aku pegang pipi dia, lembut," ucap Yumna sambil menatap telapak tangannya tak percaya. "Gimana kamu bisa tau aku pengen sentuh dia?" tanya Yumna lagi.
"Hehe, aku tau lah. Kamu tuh suka melamun kalau ada yang di pikirin, terus kepikiran deh cara buat kamu bisa pegang anak itu," ujar Haidar lagi.
"Kalau ternyata dia datang ke sana, gimana?" taya Yumna dengan kebingungan selanjutnya.
"Gampang, kenapa gak bikin aja model pakaian buat anak-anak dan kita jualan secara online dan ofline saja? Bikin toko pakaian anak-anak yang bagus sekalian," ucap Haidar dengan entengnya.
"Ish, kamu nih. Emang dikira gampang gitu bikin pakaian anak terus dijual?"
"Gampang aja. Apa pun untuk istriku senang dan bahagia, pasti akan aku lakukan," ucap Haidar.
Yumna menjadi terharu mendengar ucapan suaminya, Haidar sangat peka sekali terhadap dirinya sehingga kini sudut mata Yumna basah karena terharu.
"Aku senang, makasih banyak, Haidar," ucap Yumna sambil mengusap sudut matanya yang basah. Haidar mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Sama-sama. Jangan nangis dong, aku gak tega lihat kalau kamu sedih." Pinta Haidar.
__ADS_1
"Aku nangis karena kamu sangat pengertian sama aku, aku bahagia, bukan sedih," ucap Yumna kemudian.