YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
385


__ADS_3

Haidar pergi ke kantin untuk membelikan makanan bagi semua anggota keluarganya, hampir satu jam lamanya karena kantin juga baru saja buka di pagi buta seperti ini, Haidar membawa beberapa plastik makanan dan hendak kembali ke ruangan Yumna. Namun, panggilan dari seseorang terdengar dengan cukup jelas sehingga Haidar berhenti dan terpaku menatapnya.


"Haidar, kamu lagi apa di sini?" tanya Vio yang kebetulan bertemu dengan Haidar di sana.


"Istriku melahirkan," ucap Haidar.


Vio mematung saat mendengar itu, bukan lagi menyebut nama Yumna seperti biasanya, tapi kali ini Haidar menyebutkan istriku.


"Haidar, apa kita tidak bisa seperti dulu? Aku nggak bisa lupain kamu," ucap Viola penuh harap. Dia sudah berusaha keras untuk melupakan Haidar, tapi laki-laki itu tidak juga bisa dia lupakan dengan baik.


"Maaf, Vio. Bukannya kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi semenjak terakhir kita ketemu?" ujar Haidar jelas menolak.


"Aku minta maaf dengan segala yang pernah aku lakuin sama kamu, baik itu dulu atau kemarin. Aku menyesal, Haidar, sudah khianati kamu," ucap Vio.


Haidar melihat wajah itu yang penuh penyesalan, tapi kali ini tidak ada celah sama sekali untuk wanita itu apalagi sekarang ini dia sudah memiliki dua anak dengan Yumna.


"Maaf, aku nggak bisa. Untuk semua kesalahan kamu, aku sudah maafkan, tapi untuk kembali aku minta maaf. Aku nggak bisa. Kamu lebih baik cari kebahagiaan kamu sendiri. Biarkan aku bahagia dengan istri dan anak-anakku," ucap Haidar dengan tegas. Haidar akan pergi dari sana, tapi Vio memanggilnya lagi.


"Apa kamu nggak bisa jadikan aku istri kamu yang kedua, atau istri simpanan juga boleh. Aku nggak apa-apa," ucap Viola keras kepala.


Haidar menggelengkan kepala mendengar permintaan konyol dari mantan kekasihnya ini.


"Aku butuh tempat berlindung, Haidar," tambah Vio. Sudah lelah dirinya menjalani hidup yang sulit seperti ini. Dia ingin hidup dengan damai meski harus memohon kepada Haidar.


"Jangan gila kamu! Aku nggak mau. Hidup aku sekarang sudah bahagia, tolong jangan ganggu hidup aku lagi, Vio." Haidar berbalik dan meninggalkan Viola. Dia tidak ingin berlama-lama ada di dekat wanita itu.


Air mata meleleh dari pelupuk mata Vio. Haidar benar-benar sudah berubah dan tidak mau meliriknya lagi.


"Aku nggak akan menyerah, Haidar!" gumam Viola sambil mengepalkan kedua tangannya erat.

__ADS_1


Haidar telah kembali ke ruangan Yumna, Syifa menyongsong kantong kresek yang ada di tangan Haidar dan membawanya ke meja.


"Nggak banyak makanan di kantin, belum pada matang," ucap Haidar yang mengeluarkan beberapa roti untuk Yumna dan yang lainnya.


"Nggak apa-apa, yang ada saja."


Yumna menerima roti itu dan menikmatinya, tubuhnya lelah, dia juga sangat lapar setelah menyusui barusan. Roti itu dia makan dengan lahap.


Haidar duduk termenung, dia masih berpikir apa yang terjadi dengan Viola dan tidak habis pikir kenapa wanita itu sangat ingin bersamanya, bahkan rela untuk menjadi istri simpanan.


...***...


Dua hari Yumna di rumah sakit, akhirnya dia pulang ke rumahnya. Permintaan Lily dan Mitha ditolak dan dia memilih untuk pulang ke rumahnya sendiri. Yumna tidak mau salah seorang dari mereka iri atau menganggapnya pilih kasih. Akan ada hati yang tersakiti jika dia mengikuti permintaan untuk tinggal di rumah ibunya atau rumah mertuanya.


Lily dan Mitha merasa berat saat Yumna memutuskan untuk tinggal di rumahnya sendiri, saat-saat setelah melahirkan biasanya ibu muda butuh teman dan butuh bimbingan untuk mengurusi anaknya, apa lagi Yumna mengurusi dua anaknya yang masih bayi. Bergantian Lily dan Mitha bermalam di rumah Yumna untuk beberapa malam ke depan, meski lebih banyak jika Haidar yang mengurus mereka di malam hari.


"Kenapa? Haus juga ya?" tanya Yumna. Haidar yang sedang menggendong Aidan sedikit menjauhkan Aidan dari tubuhnya saat merasakan hangat dan basah di lengannya.


"Kayaknya jagoanku ngompol," ujar Haidar, Yumna tertawa saat melihat wajah Haidar tampak lucu sekali. Haidar segera membawa Aidan ke atas kasur dan menggantikan popoknya.


Sudah tiga hari semenjak keluar dari rumah sakit dan Haidar sudah lihai mengurusi anak-anaknya. Dia tidak membiarkan Yumna lelah sendirian mengurusi anak-anaknya. Bahkan Haidar rela tidak tidur demi menjaga kedua anaknya dengan baik.


...***...


Acara aqiqah akan dilakukan di rumah Yumna, sedari pagi mereka telah sibuk mempersiapkan ini. Yumna sekeluarga mengundang tetangga sekitar dan juga anak-anak yatim untuk hadir di acara bahagia mereka.


Semua orang telah bersiap, tamu-tamu sudah datang dan berkumpul di ruangan tengah yang telah disulap menjadi ruangan acara berlangsung.


Haidar menggendong putranya, sementara Bima menggendong putrinya. Arya sedikit iri, ingin juga menggendong cucunya itu selama di dalam acara, tapi dia sadar jika sang putra harus tetap memiliki hubungan baik dengan mertuanya agar bisa hidup dengan bahagia.

__ADS_1


Lantunan solawat terdengar dengan sangat merdu mengiringi acara aqiqah tersebut. Bima dan Haidar membawa Aura dan Aidan berkeliling dan sedikit rambut mereka dipotong oleh beberapa orang yang ada di sana. Tak sadar, Haidar dan Bima menangis terisak saat membawa buah hatinya itu, juga dengan Yumna dan Lily serta Mitha, mereka terlarut dalam tangis bahagia.


Acara telah selesai, Yumna beristirahat sebentar sebelum kembali ke kamar. Kedua anaknya ada di gendongan Bima, sementara Aura ada bersama dengan Arkhan yang menggendongnya kaku.


Arkhan terpana, terpaku melihat makhluk mungil yang ada di pangkuannya kini. Bahagia tidak bisa dia ungkapkan, serasa menjadi seorang ayah meski hanya sementara.


"Aku juga mau gendong!" seru Syifa ingin mengambil Aura, tapi Arkhan menyingkirkan tangan Syifa dari keponakannya itu.


"Jangan, dia lagi tidur, nanti bangun," tolak Arkhan, membuat Syifa memanyunkan bibirnya.


Yumna duduk bersama dengan Haidar, menyelonjorkan kedua kakinya dengan nyaman, menatap anak-anaknya yang ada tak jauh di sana.


"Anak-anak kita nggak akan kekurangan kasih sayang," ucap Haidar tiba-tiba. Yumna tersenyum dan menjatuhkan kepalanya di bahu Haidar.


"Iya."


"Mereka pasti akan sangat bahagia dikelilingi orang-orang yang sayang dengan mereka," ujar Haidar lagi. Teringat jika dirinya dulu harus hidup hanya dengan kedua orang tuanya yang sibuk dan dia tumbuh besar bersama dengan pengasuhnya, dan dia merasakan sepi di tumbuh kembangnya.


"Iya, Haidar. Mereka akan sangat senang sekali dengan limpahan kasih sayang yang didapatkan. Juga akan sangat senang sekali kalau tahu ayahnya sangat sayang dengan mereka, rela kurang tidur demi menjaga mereka di malam hari," ucap Yumna.


Kening Yumna mendapatkan ciuman lembut dari Haidar. "Demi mereka, aku nggak akan menyerah untuk terus belajar. Semoga aku akan menjadi lebih baik lagi dan menjadi ayah yang bisa mereka banggakan."


Yumna menelusupkan jemarinya pada jari-jari besar Haidar. "Kita akan selamanya seperti ini, kan? Hidup bahagia dan menikmati peranan orang tua?" tanya Yumna.


"Ya tentu saja. Terima kasih karena kamu sudah mau terima aku lagi, Yumna."


Haidar berjanji akan menjaga hatinya hanya untuk Yumna dan anak-anaknya. Tidak ada lagi nama wanita lain di dalam hatinya, tidak akan dia membuka celah meski sebesar helai rambut sekalipun untuk orang lain masuk ke dalam hatinya.


...TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2