
Semakin lama rasa sakit pada perutnya semakin terasa. Mungkin saja hari ini adalah hari dia akan melahirkan mengingat rasa sakit yang dia alami seperti rasa sakit waktu itu. Akan tetapi, Yumna tidak lantas membangunkan Arkhan. Setidaknya untuk saat ini dia masih bisa menahannya dan hanya berdoa agar dia bisa menahannya setidaknya sampai siang nanti setelah Haidar selesai dengan pertemuannya.
"Kalian bisa sabar nunggu siang, nggak? Kita tunggu Papa selesai meeting, ya?" ujar Yumna sambil mengusap perutnya dengan lembut. Seakan mengerti dengan ucapan sang ibu, sakit di perutnya itu mereda sedikit. Yumna tersenyum senang, dia tidak ingin mengganggu Haidar untuk saat ini. Meeting yang pria itu lakukan sangat penting dan juga sangat diharapkan Haidar agar dia bisa mengambil hati Bima lagi. Meski Yumna sudah mengatakan jika sang ayah sudah baik kepada Haidar, tapi rupanya suaminya itu lebih ingin lagi membuktikan dirinya untuk lebih layak lagi sebagai menantu.
Sebuah notif pesan masuk ke dalam hp Yumna, segera dia mengambil hp yang ada di sampingnya dan membaca pesan tersebut.
[Kamu sudah sarapan?] tanya pesan tersebut yang ternyata dari sang suami
[Sudah. Kamu sedang apa?]
[Sedang jalan menuju tempat meeting, doakan aku agar kerjaan ini lancar ya.]
Tanpa Haidar memintanya, Yumna juga sudah melakukan hal itu sedari kemarin.
[Ya, tentu saja. Aku selalu doakan kamu, Sayang.]
Tidak banyak yang mereka lemparkan dari pesan-pesan tersebut, karena Haidar juga telah sampai di tempat meeting.
Yumna melihat jam yang ada di layar Hpnya, masih jam sebelas pagi. Rasa sakit yang mendera perutnya kini mulai terasa lagi setiap sepuluh menit sekali. Tarik napas dan embuskan. Untuk kali ini dia tidak ingin membuat heboh orang lain.
"Mbak!" teriak Yumna memanggil sang asisten. Namun, wanita itu sedang membereskan taman di belakang rumah sambil mendengarkan musik dari hp-nya sehingga suara teriakan Yumna tidak terdengar sama sekali.
"Mbak!" Yumna berteriak sekali lagi. Ditunggu beberapa saat lamanya wanita itu belum datang juga. Akhirnya, Yumna memutuskan untuk membangunkan sang adik yang tidur di sampingnya. Dia tidak tega, tapi juga takut jika terjadi hal yang tak diinginkan.
"Ar. Arkhan! Bisa bantu Mbak nggak?" tanya Yumna menepuk pipi Arkhan sedikit keras.
Arkhan memang tidur dengan sangat nyenyak, tapi jika dibangunkan seperti itu, dia tidak sulit untuk membuka mata.
__ADS_1
"Hem, ada apa? Kakak mau rujak?" tanya Arkhan yang baru saja membuka mata. Biasanya wanita itu membutuhkannya untuk mengupas mangga muda atau pepaya.
"Nggak. Antar Mbak, yuk!" Yumna tak lagi bisa menahan sakitnya sehingga dia meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang serasa ingin meledak.
Melihat wajah kakaknya yang kesakitan, Arkhan segera bangkit dari pembaringannya dan memegangi pundak sang kakak.
"Kakak mau lahiran?" tanya pemuda itu.
"Kayaknya sih gitu. Antar yuk ke rumah sakit."
Tidak perlu lagi menunggu penjelasan, Arkhan segera memapah Yumna ke luar dari rumah untuk menuju mobilnya. Dia juga pergi ke ruangan lain untuk mengambil pakaian bayi yang sudah siap di dalam tas, juga dengan buku-buku catatan kehamilan Yumna yang memang sudah dipersiapkan di dalam sana.
"Tunggu sebentar, aku telepon Mama dan yang lainnya!" seru pemuda itu, tapi Yumna menahan tangan Arkhan dan mencegahnya.
"Itu nanti aja deh, sekarang mending ke rumah sakit dulu. Kakak, udah nggak tahan mules banget."
"Tolong nanti kasih tau Mbak, Mbak Yumna ke rumah sakit!" ucap Arkhan kepada Pak Dani.
"Mbak Yumna mau lahiran sekarang?" tanya Pak Dani yang mulai heboh. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari Arkhan saking paniknya, begitu pagar terbuka, dia langsung menancap gas dan pergi dari sana.
Pak Dani menatap penuh harap dan melantunkan doa agar majikannya selamat hingga melahirkan. Tidak dia sangka, sama seperti ibunya, Pak Dani juga bisa menyaksikan sendiri perjalanan rumah tangga Yumna yang penuh liku seperti Lily terdahulu.
*
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan yang padat merayap, asap dari kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat terlihat mengepul bersamaan dengan debu yang beterbangan. Panas yang sangat terik terasa di luaran sana, terlihat dari sinar matahari yang menyilaukan mata.
"Mbak sabar ya. Kita pasti akan cepat sampai ke rumah sakit sebentar lagi!" seru Arkhan menangkan Yumna. Padahal Yumna kini tidak apa-apa. Duduk dengan tenang sambil menarik napas dan menghembuskannya seperti arahan dokter saat dulu dia merasakan sakit.
__ADS_1
"Mbak dari tadi tenang, kamu aja yang panik," ujar Yumna kepada sang adik.
Arkhan melirik sang kakak, memang benar wanita itu sangat tenang sekali, seperti bukan orang yang baru pertama kali melahirkan saja. Salut untuk kakaknya yang tidak mengeluh sama sekali di momen seperti ini.
"Ya aku panik lah, sakit kah? Bayinya belum mau keluar, kan? Aku nggak bisa bantu lahiran bayi di tengah jalan kayak gini!" seru Arkhan, semoga saja kakaknya bisa menahannya hingga mereka sampai ke rumah sakit.
Yumna tersenyum geli melihat sang adik yang panik seperti ini.
"Nggak lah, lagian keponakan kamu juga nggak akan repotin om-nya di sini. Mbak masih bisa menahannya kok. Tenang aja," ujar Yumna.
Arkhan tak lantas tenang dengan perkataan Yumna yang seperti itu, tetap saja dia memikirkan hal yang buruk. Bisa jadi kan seperti yang dia lihat di video di lama Facebook atau YouTube, ada wanita yang melahirkan di jalan, ada juga yang melahirkan di parkiran rumah sakit. Ah, betapa kasihannya sang kakak jika tidak segera mendapatkan perawatan yang seperti itu.
"Sebentar lagi, nggak sampai satu jam kita sampai di rumah sakit. Kakak telepon Mama deh sama Bang Haidar!" ujar Arkhan.
"Iya. Aduh!" rintih Yumna terdengar lagi tatkala merasakan linu dan mulas di perutnya.
"Eh, jangan lahiran di sini!" Arkhan heboh.
"Nggak, cuma ini lagi ngerasain sakit aja. Nikmat kalau kata orang mah," kelit Yumna. "Jangan dulu bilang sama yang lain sebelum dokter bilang memang hari ini mau melahirkan, nanti heboh lagi di rumah sakit kayak kemarin," ujar Yumna meminta pada sang adik
"Terus aku harus kayak gimana?" tanya Arkhan bingung.
"Ya sudah, diam saja. Nanti kalau Kakak bilang boleh hubungi yang lain baru telepon Mama dan Papa."
Arkhan mengerti, meskipun dia tidak setuju juga dengan pemikiran sang kakak. Yumna tidak tahu saja jika dirinya kini tengah panik mendapati kejadian seperti ini.
Yumna melirik sang adik, dari raut wajahnya tampak sekali jika adiknya itu sedang khawatir akan dirinya. Lucu juga melihat Arkhan yang biasanya sangat tenang dan tidak banyak bicara seperti itu keadaannya.
__ADS_1