
Yumna baru saja sampai di rumah, dia masuk dengan langkah yang gontai. Tak di pedulikannya Pak Naryo yang barusan menyapa dirinya. Fikirannya tertuju pada kejadian yang baru saja di alaminya. Patah hati? Ya, dia baru saja mengalaminya lagi. Bahkan ini lebih parah sakitnya di banding dengan melihat Aldy mencium wanita lain pada saat dulu.
"Na kamu sudah pulang?" mama menyapa dari ruang keluarga, disana juga ada ketiga adiknya yang sedang bersenda gurau. Seperti biasa Syifa yang menjadi korban kejahilan kedua adik kembarnya.
"Ya, Ma. Yumna mandi dulu ya." jawab Yumna lalu segera berjalan menuju ke arah tangga. semua orang yang ada disana menatap Yumna dengan tatapan sedih, tak mudah mendapatkan senyum dari kakak sulungnya itu, setiap hari wajahnya layu dan suram. Mama menatap Yuna dengan perasaan iba, tak mudah bagi Yumna menjalani hidupnya skarang. Apalagi dia sudah mengakui jika dia mungkin suka dengan Haidar.
Arkhan dan Azkhan dua pemuda yang punya satu pemikiran saling tatap satu sama lain. Mereka yakin jika kali ini kakaknya berwajah suram seperti itu tidak lain tidak bukan pasti karena pria itu. Tunggu saja, jika mereka berkesempatan bertemu dengannya lagi jangan harap keadaannya akan lebih baik dari waktu itu, lain kali beberapa jarinya akan di buat patah!
Yumna baru selesai mandi saat Lily mengetuk pintu dan masuk ke dalam sana. Dia menghela nafasnya berat, mama datang pasti akan bertanya sesuatu. Dia memang belum bercerita, tapi seakan mama sudah tahu apa yang menimpa dirinya.
__ADS_1
"Mau cerita?" belum apa-apa mama sudah bertanya, ah bukan betanya, tapi menuntut cerita!
Yumna bingung. Haruskah semua yang menimpa dirinya, harus ia ceritakan pada mama?
Lily duduk di tepian kasur, dia menepuk pahanya pelan. Yumna tahu akan isyarat itu, dia mendekat dan duduk di samping Lily. Perlahan membaringkan dirinya dengan kepala di paha sang mama.
"Mau cerita tidak?" tanya Mama. Jika Yumna tak mau bercerita dia pun tak akan memaksa. Yumna punya privasi yang harus ia hormati, dan ia hargai segala sesuatunya.
Sepuluh menit, Lily masih menunggu. Dia mengelus kepala Yumna dengan sayang. Yumna sepertinya sedang bimbang. Dia sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Ma. Jika di persidangan terakhir aku gak datang bagaimana?" tanya Yumna. Lily mengernyitkan keningnya. Bingung sudah pasti, selama ini Yumna selalu patuh datang ke pengadilan untuk urusan perceraiannya.
"Yumna ingin menenangkan diri. Tidak ingin bertemu dengan Haidar. Boleh kan, Ma?" tanya Yumna. Dia membalikkan tubuhnya, tengkurap. Di peluknya pinggang ramping sang mama yang kecil. Sebisa mungkin menahan sesak di dada dan tak ingin menitikkan air matanya.
Meski tidak mengerti dengan alasannya, Lily hanya mengiyakan saja.
"Mama akan coba bicara dengan pengacara. Kamu mau menenangkan diri kemana? Berapa lama?" tanya Lily. Dia yakin kalau Yumna butuh suasana baru. Apapun yang akan dia lakukan, Lily akan mendukung selama itu masih dalam tahap yang wajar.
"Mama izinkan aku?" Yumna menoleh menatap wajah mama yang kini berubah sendu. Mama mengangguk.
__ADS_1
"Kalau papa mengizinkan, mama juga akan izinkan." Yumna menarik dirinya untuk duduk. Dia menatap mama dengan perasaan haru, lalu memeluknya erat. Pelukan mama memang yang terbaik, yag paling hangat dan tak ada yang bisa menandinginya.
"Trimakasih, Ma. Aku janji aku gak akan berlarut-larut dalam hal ini." janji Yumna bersungguh-sungguh. Lily mengangguk seraya mengusap kepala Yumna dengan pelan.