YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
226. Bima Punya Rencana


__ADS_3

Syifa berbalik arah. Dia yang tadinya ingin curhat dengan sang kakak tidak jadi melanjutkan langkahnya saat mengetahui jika Mama Lily ada di dalam sana. Syifa semakin yakin, jika kakaknya ini mempunyai hubungan kembali dengan Haidar.


Keterlaluan sekali Papa kalau tidak mengizinkan kak Yumna dengan Bang Haidar.


Syifa melangkahkan kakinya ke lantai bawah, mengetuk pintu ruang kerja Bima dengan cukup keras dan tidak sabaran. Dia masuk begitu saja meski belum seizin penghuni ruangan tersebut.


Bima mengerutkan keningnya, tidak biasanya Syifa masuk ke dalam ruangan ini dan duduk di depan Bima. Kedua tangan anak ini terlipat di depan dada dan terlihat wajahnya kesal.


"Ada apa?" tanya Bima menghentikan laju ketikan pada laptopnya.


"Papa tidak kasih restu sama Kak Yumna dan Bang Haidar?" tanya Syifa. Bima menutup laptop, menatap putri keduanya ini meski dia merasa bingung.


"Kenapa?" tanya Bima.


"Keterlaluan!" ujar Syifa kesal.

__ADS_1


"Papa keterlaluan apa?" tanya Bima lagi.


"Papa kenapa sih? Harusnya Papa izinkan Kak Yumna dengan orang yang dia cintai. Meski Bang Haidar dulu pernah melukai Kak Yumna, tapi kan Kak Yumna ingin balikan lagi sama Bang Haidar! Izinin napa, Pa! kasihan Kak Yumna!" ujar Syifa.


Bima hanya tersenyum kecut mendengar ucapan permintaan anak keduanya ini. Sedari dulu, Syifa tidak tahu apa yang terjadi pada Yumna dan Haidar tentang pernikahan kontrak yang mereka lakukan, yang Shifa tahu hanya mereka berpisah karena tidak cocok. Itu saja.


"Kata siapa Papa tidak setuju? Papa hanya ingin melihat kesungguhan dari Haidar saja. Yumna mau dengan siapa pun, Papa tidak masalah. Hanya saja, kali ini pria yang akan bersama dengan Yumna, bukankah kita harus sedikit membuat dia memperlihatkan kesungguhannya?" jawab Bima. Ucapan dari papanya tersebut membuat Shifa menggaruk kepalanya. Syifa perlu sedikit mencerna beberapa kalimat terakhir yang ayahnya katakan.


Bima ingin tertawa, tapi dia menahannya saja.


"Jadi ... intinya Papa setuju, kan?" tanya Syifa pada Bima. Bima menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Dia menempelkan telunjuknya di depan bibir.


Syifa tersenyum senang. Dia bangkit dan sedikit berlari untuk memeluk ayahnya, memberikan sebuah kecupan mesra dan sayang pada Bima.


"Aku sayang Papa. Aku gak mau lihat Kak Yumna sedih lagi. Papa janji ya, apapun keputusan Kak Yumna, dukung dia." Syifa bicara layaknya orang dewasa, membuat Bima tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Bima menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi setelah kepergian Syifa dari ruangan itu. Dia menghela napasnya dengan sedikit berat. Haidar sudah dia tunggu kesungguhannya sejak beberapa hari yang lalu, setelah pembicaraannya dengan sang Lily mengenai hal ini, tapi pria itu tidak kunjung datang juga. Entah apa sebabnya, Lily sedang mencari tahu apa alasannya.


Bima kembali membuka laptopnya, dia melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.


Selang sepuluh menit, Lily masuk ke dalam ruangan itu sambil membawakan teh hangat dan sedikit cemilan di atas piring.


"Apa Yumna sudah bicara?" tanya Bima pada sang istri. Lily berputar ke belakang Bima dan memijat pundak dan leher pria itu. Bima merasakan nyaman pada tempat yang Lily pijat.


"Mas. Aku sudah bicara sama Yumna."


"He-em. Lalu?"


"Yumna melarang Haidar untuk datang, karena dia takut jika kamu tolak kedatangan mereka."


Bima menghela napasnya kembali. Dia mengambil tangan Lily dan menariknya, membawa istrinya itu untuk duduk di atas pangkuan. Dipeluknya pinggang Lily yang selalu ramping.

__ADS_1


"Aku punya satu rencana, tapi kamu harus bantu aku untuk melaksanakan rencana tersebut," ucap Bima pada Lily.


"Rencana? Rencana apa?"


__ADS_2