YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
116. Hati Lain yang Tersakiti


__ADS_3

"Aku gak tahu, Pa. Apa aku akan perjuangkan rasaku atau tidak. Tapi untuk saat ini aku cuma ingin sendiri saja dulu. Lagipula..." Yumna terdiam sebentar. "... Haidar bilang, dia akan bertunangan dengan Vio setelah kami resmi bercerai. Mungkin aku gak akan berjodoh dengan dia. Biarlah dia bahagia dengan pilihannya sendiri. Seperti kisah Mama dan Papa, Papi Adit dan juga Mami Celia. Cinta akan datang di saat yang tepat dan pada orang yang tepat juga kan, Pa?" ucap Yumna dengan penuh kepasrahan.


Bima mengangguk, dia menatap putrinya ini dengan kagum, Yumna memiliki kekuatan yang sama dengan istrinya. Bima mendekat ke arah Yumna dan mencium kepala putrinya dengan sayang, Yumna tersenyum senang. Dia mendapat jawaban dari apa yang dia rasakan sekarang, lalu bagaimana dia akan menghadapinya? Ada banyak cara dan dia sudah memikirkan bagaimana caranya supaya bisa menekan rasa yang ada.


"Ya, cinta akan menuntun kita, kemana hati kita akan berlabuh." ucap Bima.


...***...


Sementara itu pada saat yang sama di kediaman keluarga Rahadian.


"Kamu gila Haidar!! Kamu dan Yumna belum juga bercerai dan kamu sudah berencana untuk bertunangan dengan Vio?!" mami berang mendengar Haidar yang baru saja mengutarakan keinginannya.


"Kami akan betunangan setelah perceraian itu, Mi. Bukan sekarang!" Haidar ikut emosi saat mami lagi-lagi tak terima dengan keputusan dan keinginannya.

__ADS_1


"Sudah berapa kali Mami bilang Haidar, Mami gak setuju dengan keputusan kamu!"


"Itu karena Mami gak kenal dengan Vio. Cobalah untuk mengenal dia, Mi. Aku mohon!" pinta Haidar.


"Berapa ribu kamu akan memohon pada Mami, Mami tetap gak akan terima dia. Papi, terserah papi akan dukung siapa, pokoknya Mami gak aka setuju. TITIK!!" Final mami pada akhirnya. Mitha pergi ke dalam kamarnya dengan membanting pintu keras. Tak peduli dengan tatapan dan juga putranya yang masih ingin melakukan apa maunya.


Papi yang sedari tadi diam hanya menghela nafasnya lelah, bukan sekali dua kali dia melihat pemandangan yang seperti ini. Dia rindu masa-masa damai seperti dua bulan yang lalu, dimana masih ada Yumna di dalam rumah ini. Tak pernah ada teriakan ataupun perdebatan, yang ada dia melihat tawa istrinya yang sangat renyah dan sangat bahagia.


"Pi. Papi bilang kalau Mami akan setuju! Mana buktinya?!" teriak Haidar tak tahan. Dia sudah tak bisa berfikir lagi akibat keinginannya yang terus di tentang sang mami.


Haidar mengacak rambutnya dengan frustasi, dia berteriak dengan kesalnya membuat Bi Nah yang masih ada di dapur terperanjat kaget.


"Kenapa semua orang gak ada yang mendukungku?!!" tak peduli dengan beberapa orang yang sudah beristirahat Haidar menendang meja kaca hingga terguling dan pecah berserakan di lantai.

__ADS_1


Bi Nah mendekat karena mendengar suara barang yang pecah.


"Ya ampun, Mas Haidar... Apa yang Mas..."


"Akh... semua gak ada yang sayang sama aku. Semua orang egois!!" teriak Haidar lalu berlalu ke arah tangga dengan berlari dia naik ke lantai atas.


Bi Nah menatap kepergian Haidar dengan tatapan sedihnya. Seorang anak laki-laki yang manis kini telah berubah menjadi tak terkendali. Salahnya, semua orang memanjakan dia di saat dia masih kecil, hingga kini dia berulah saat keinginannya tak di turuti.


Dengan segera seorang maid datang dan membawa sapu dan juga tempat sampah.


"Bibi gak apa-apa?" tanyanya dengan khawatir, tuan mudanya ini sangat keterlaluan, bahkan berani sekali membentak wanita yang sudah membantu mengasuh dirinya semenjak masih kecil.


Bi Nah terisak pelan, gadis muda itu megusap punggung Bi Nah dengan lembut. Kasih sayangnya pada tuan muda tak bisa di ragukan lagi,bahkan mungkin lebih dari nyonya pada putranya sendiri.

__ADS_1


Satu lagi, tanpa sadar Haidar sudah menyakiti hati seseorang.


__ADS_2