YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
195. Aku Ingin Berjuang


__ADS_3

"Pak Dion, saya permisi untuk duluan ya," ujar Yuma pada Dion yang masih terdiam menatapnya. Dion yang sedikit terkejut segera menganggukkan kepala mendengar ucapan Yumna barusan. Dia hendak mengangkat tangannya tapi dia urungkan karena dia menyadari jika Yumna kini bersama dengan orang lain, terutama dia harus sadar diri dengan kedudukannya sekarang. Yumna tidak bisa ia raih baik dulu maupun sekarang ini.


"Iya, silahkan duluan saja," ujar Dion dengan senyum penuh luka. Nyatanya semenjak dia memutuskan untuk mundur karena Yumna telah menikah, dan juga kenyataan Yumna adalah anak dari CEO pemilik perusahaan tempatnya bekerja, Dion tidak ingin lagi berharap kepada wanita itu. Meski kini hatinya belum sepenuhnya bisa melupakan harapan-harapan yang dulu pernah menjadi asanya.


Yumna masuk ke dalam mobil yang kini sudah dibukakan pintunya oleh Haidar. Dia tersenyum senang dengan wajah yang merah karena malu. Jika dulu saat haidar membukakan pintu untuknya, dia akan bersikap biasa saja, tapi tidak dengan kali ini.


Ah, wajahku. Jangan sampai memerah, batinnya dengan dada yang berdebar.


Haidar kini mulai berlari di depan mobilnya untuk kembali ke belakag kemudi.


"Kita kemana setelah ini?" tanya Haidar pada Yumna.


"Kemana?" tanya Yumna balik, dia tidak menyangka dengan pertanyaan pria yang duduk di sampingnya ini.


"Em ... maksudku, aku antar kamu pulang atau ... kita kemana dulu begitu? Makan malam?" tanya Haidar dengan penuh harap. Di dalam hati berharap jika Yumna akan berkata 'iya'.

__ADS_1


Yumna tersenyum dengan dada yang sama berdebarnya. Dia tidak tahu saja, ada hal yang sama yang Haidar rasakan di dalam dadanya juga.


Yumna menatap jam di pergelangan tangan, ini memang sudah mendekati waktunya makan malam. Dia belum meminta izin pada Mama Lily.


"Untuk makan malam, aku gak tahu kalau sekarang. Aku tetap harus meminta izin pada mama dan juga papa," ujar Yumna dengan malu. Dia takut jika Haidar akan menertawakannya karena di usianya yang sekarang ini dia masih harus meminta izin kepada orangtua.


"Oh. Begitu, ya," gumam Haidar dengan sedikit tak bersemangat.


Yumna yang mendengar nada suara Haidar yang seperti itu kini hanya menunduk, merasa tak enak hati dengan penolakannya barusan.


"Tidak apa-apa. Aku ngerti kok. Kamu ini kan anak perempuan. Tetap harus meminta izin pada kedua orangtua jika mau keluar dari rumah,"ucap Haidar kini dengan tersenyum.


Yumna tak menyangka dengan apa yang Haidar katakan barusan. Pria ini apakah memang sudah berubah?


"Tidak apa-apa. Setelah mendapatkan izin, kita akan pergi untuk makan malam. Kalau perlu aku yang akan datang ke rumah kamu untuk meminta izin pada Mama dan Papa," ujar Haidar lagi membuat Yumna kini menatap Haidar semakin tak percaya.

__ADS_1


Haidar yang merasa di tatap sedemikian rupa mengalihkan pandangannya dari fokusnya di jalanan ke arahYumna. Sedetik tatapan merka beradu. Terlihat sinar pada sorot mata masing-masing.


Yumna merasa malu, dia segera memalingkan wajahnya ke arah lain dan lebih memilih menatap bunga yang kini ada di pangkuannya. Malu, iya. Canggung, pasti.


"Memangnya kamu gak takut datang ke rumah?" tanya Yumna lirih.


"Untuk apa aku takut? Aku sedang ingin memperjuangkan sesuatu, gak boleh takut duluan lah," ujar Haidar pada Yumna.


Yumna tidak ingin menoleh. Dia takut jika Haidar masih menatapnya. Bagaimana jika Haidar masih menatapnya dan membuat wajahnya semakin merah?


"Yumna, kalau aku ingin memperjuangkan kamu, dan aku ingin membawa kamu kembali ke rumahku, apa kamu mau?"


...**********...


Sambil nunggu ini up lagi, mampir yuk ke salah satu karya temenku 😘

__ADS_1



__ADS_2