
Hanya dua hari mereka berempat di rumah Melati, Syifa dan kedua adiknya harus kembali pada aktivitasnya masing-masing. Mereka tidak bisa mengambil banyak libur karena tengah menghadapi ujian semester yang akan diadakan sebentar lagi. Berat hati Melati melepaskan kepergian cucunya ini, meski Yumna bukan cucu kandungnya, tapi rasa sayang wanita itu terhadap Yumna sangat besar sekali.
***
Yumna kini tengah duduk di taman belakang rumah dengan laptop di pangkuan. Dia sedang fokus pada layar di depannya, mencari lowongan pekerjaan di perusahaan lain.
"Apa Kakak masih cari lowongan? Kenapa gak balik aja sih ke perusahaan papa?" tanya Azkhan saat baru sampai di dekat kakaknya.
"Gak ah, Kakak mau cari kerja sendiri saja. Kamu dan Arkhan yang harusnya bantu papa di kantor, kalian kan anak laki-laki," ucap Yumna tanpa menoleh sama sekali kepada adik bungsunya ini.
Azkhan duduk di samping Yumna dan bersandar di sana. "Apa jangan-jangan Kakak resign karena gak enak hati sama kami?"
"Gak enak hati kenapa?"
"Ya terus kenapa, dong? Memang apa salahnya kalau Kakak yang bantu papa di perusahaan? Kenapa mendadak lepasin jabatan sih?" tanya Azkhan.
"Gak apa-apa. Kakak lebih ingin mencari kerja dengan usaha sendiri. Kalian yang lebih berhak untuk pegang perusahaan. Jadi, kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk bisa menggantikan posisi papa nanti," ujar Yumna.
"Aku gak mau pegang perusahaan. Pusing, banyak meeting segala," ujar Azkhan, kali ini sukses membuat Yumna mengalihkan tatapannya dari layar tersebut.
"Kenapa? Suatu saat kamu dan Arkhan harus bantu papa mengelola perusahaan."
"Arkhan aja deh, Syifa juga. Biar aku lanjutkan usaha bengkel dan kafe aja," ujar Azkhan lagi.
__ADS_1
"Papa izinkan gak ya?" Kali ini terdengar nada keluhan dari mulut adiknya ini.
"Kamu harus bicara sama papa, kalau kamu gak bicara tentu papa gak akan tau, lah," ujar Yumna.
Helaan napas kasar terdengar jelas dari adiknya tersebut. "Iya, sih. Papa gak akan tau kalau gak bilang. Aku gak mau pegang perusahaan, rasanya gak nyaman kalau ada di kantor papa."
"Bicara saja yang baik, asal alasan kamu bisa diterima, papa sepertinya juga gak akan maksa, deh."
"Iya. Kakak mau kemana besok? Sudah dapat pekerjaan?" tanya Azkhan.
"Masih cari. Ada sih, ini perusahaan asing. Tapi gak tau, apa bisa kerja di sana atau enggak," ujar Yumna.
"Pasti bisa. Masa lulusan Singapura gak bisa," ujar sang adik menyemangati.
***
Beberapa hari berlalu, Yumna yang kini sedang mengeringkan rambutnya menerima email dari sebuah perusahaan. Matanya membelalak saat melihat email yang telah dia kirimkan beberapa hari yang lalu telah mendapatkan balasan. Senang sekali rasanya saat membaca apa yang ada di dalam sana, perusahaan asing yang sedang dia incar memintanya untuk datang untuk melakukan wawancara dan membawa CV lamaran.
Yumna sampai melompat senang membaca kabar berita tersebut, gegas dia mempersiapkan apa yang dia butuhkan untuk hari esok.
Makan siang, Lily melihat wajah Yumna yang tidak seperti biasanya, terlihat sedikit berbeda dengan senyuman yang tidak luntur dari wajah cantik putri pertamanya.
"Apa ada kabar bagus?" tanya Lily saat mereka berdua makan siang.
__ADS_1
"Kabar apa?" Yumna melirik Lily, tidak menyangka jika ibunya akan bicara seperti itu, seakan tahu dengan apa yang terjadi sekarang ini.
"Sepertinya ada yang beda. Ada yang bikin kamu senang?" tanya Lily lagi.
Yumna tersenyum dengan sendok yang dia **** di mulutnya. "Besok aku akan wawancara di perusahaan asing," ujar Yumna memberi tahu sang ibu.
"Wah, serius?"
Yumna mengangguk dengan semangat.
"Kenapa sih kamu gak balik aja ke perusahaan papa? Papa butuh bantuan, loh!" tanya Lily dengan menyelidik putrinya.
Yumna menggelengkan kepalanya. "Yumna cuma ingin berkarya sendiri, Ma. Untuk saat ini ingin cari pengalaman di luar nama besar Mahendra," ujar Yumna lagi. Lily paham dengan apa yang Yumna maksudkan. Bukan sekali dua kali anak-anaknya mengatakan hal yang sama.
Helaan napas terdengar dengan jelas dari Lily. Yumna merasa sedikit bersalah mendengarnya.
"Apa kamu yakin mau di sana?"
"Aku harus yakin, Ma. Setidaknya aku ingin tau, apakah aku ini layak atau tidak," ujar Yumna.
Lily tertawa kecil. "Siapa yang bilang kamu gak layak? Mama yakin kamu sangat layak sekali. Usaha dan kerja keras kamu selama ini sudah membuktikan kalau kamu sangat layak di dunia bisnis. Papa sudah mengakui itu, kan?"
Yumna mengangguk, membenarkan apa yang ibunya katakan, tapi menurut ayahnya layak, belum tentu menurut yang lain layak. Yumna adalah Yumna yang gigih dan keras kepala, sama seperti ayahnya.
__ADS_1