YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
256. Bahagia Itu Kita Yang Buat


__ADS_3

Haidar mengerutkan keningnya, melihat Yumna yang canggung seperti itu. "Kamu ini kenapa? Apa kamu mikir yang aneh, ya?" tanya Haidar pada Yumna.


Ditanya dan ditatap seperti itu oleh Haidar membuat Yumna menjadi malu. Bisa-bisanya dia berpikiran jauh ke tempat lain.


"Eh, enggak! Siapa juga yang mikir aneh? Aku cuma masih kaget aja kok kamu bisa ada di sini dan gak ngabarin aku kalau kamu sudah pulang," ucap Yumna berkelit.


"Hehe, sengaja gak ngabarin. Soalnya takut kamu jadi berharap dan kalau aku terlambat atau ada gangguan di jalan terus gak jadi pulang nanti kamu kecewa lagi," ucap Haidar dengan senyum di bibirnya.


"Iya juga, sih." Yumna terkekeh pelan. Memang benar apa yang Haidar katakan barusan, lebih baik jangan beritahu daripada dirinya menjadi menunggu dan gelisah.


"Kok kamu bisa bawa mobil ini sih?" tanya Yumna saat Haidar kembali menjalankan mobil milik keluarganya.


"Bisa, dong. Kan calon papa mertua sudah izinkan," ujar Haidar menjawab pertanyaan dari Yumna.


"Eh, sudah ketemu papa?"


"Sudah. Kalau belum mana mungkin aku bawa mobil ini, kan?" tanya Haidar balik. Yumna menganggukkan kepalanya, benar juga jika tidak mana mungkin Haidar membawa mobil milik ayahnya.


"Terus, soal pekerjaan itu gimana?" tanya Yumna, sedikit berdebar dia bertanya dan menunggu jawaban dari Haidar. Laki-laki itu terdiam sejenak, membuat Yumna kini menjadi penasaran. Jika menurut informasi yang dia dapatkan tugas dari ayahnya sulit untuk dilakukan apalagi oleh Haidar yang hanya penerus perusahaan milik Papa Arya.


"Kok diam? Kamu gak berhasil?" tanya Yumna lirih. Kini rasa takut menggelayuti pikirannya, jika Haidar gagal dengan misi ini, apakah Bima tidak akan memberikan restu kepada mereka berdua?


Haidar menolehkan kepalanya pada Yumna dan tersenyum kecil, tangannya terulur untuk mengusap kepala Yumna dengan lembut.


"Jangan kamu pikirkan soal itu. Aku berhasil," ucap Haidar. Yumna tersenyum dengan sangat lebar, sangat senang sekali mendengarnya. Setiap malam dan setiap hari dia berdoa dan berharap jika Haidar bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.


"Mau makan malam di mana?" tanya Haidar pada Yumna.


"Di mana saja, aku gak masalah."

__ADS_1


"Oke. Restoran?"


"Jangan! Aku masih pakai baju kerja. Rasanya gak pantas ke restoran pake baju ini." Tunjuk Yumna pada pakaian yang dia pakai.


"Terus? Kita akan kemana?"


"Terserah, pokoknya yang enak aja," ujar Yumna yang kemudian mendapatkan anggukkan kepala dari Haidar.


"Tempat dulu kita terakhir makan. Bagaimana?" tanya Haidar lagi.


"Bukit?" Yumna mengingat tempat itu. Haidar mengangguk.


"Itu terlalu jauh. Waktunya gak akan cukup untuk pulang pergi ke sana. Ingat aku harus pulang jam sembilan, Haidar."


"Memangnya kenapa?"


"Mama akan marah kalau aku pulang terlambat," ucap Yumna.


Yumna mengarahkan tinjuannya pada lengan Haidar dengan cukup keras. "Aku juga mau menikah, tapi gak gini juga kali konsepnya!" ucap Yumna kesal. Haidar tertawa dengan sangat puas sekali. Sudah sangat lama dia tidak melihat calon istrinya yang barbar seperti ini.


"Haha, memangnya kamu mau konsep yang seperti apa? Apa mau seperti dulu?" tanya Haidar kali ini.


Yumna terdiam sejenak, dia menggelengkan kepalanya. "Tidak mau? Kenapa?" tanya Haidar sekali lagi menatap Yumna sekilas lalu kembali pada jalanan di depannya.


"Tidak tau, masih gak tau aja mau konsep yang kayak gimana nanti. Aku belum ada gambaran yang pasti," ujar Yumna.


"Aneh, biasanya wanita tuh punya mimpi dan punya rencana untuk di hari pernikahannya. Kenapa kamu gak ada?" tanya Haidar bingung.


"Gak tau. Nanti lah aku pikirkan lagi soal itu, lagipula perceraian kita juga belum sampai satu tahun."

__ADS_1


"Jadi? Kamu gak mau adakan pesta lagi?" tanya Haidar.


"Rasanya aku malu dengan teman dan keluarga besar, kita berpisah dan kemudian kembali lagi, apa harus juga adakan pesta?" Kali ini Yumna menundukkan kepalanya. Salah satu yang dia pikirkan selama ini ketika kembali bersama dengan Haidar.


"Kenapa harus mikirin orang lain? Please, pikirin diri kamu sendiri. Apa yang kamu lakukan adalah hal yang terbaik untuk kamu. Bukan orang lain penentu kebahagiaan kita, tapi kita lah sendiri yang menentukan layak bahagia atau tidak," ucap Haidar pada Yumna. Yumna hanya terdiam mendengar permintaan dari laki-laki itu. Benar, tidak salah dengan apa yang Haidar katakan. Akan tetapi, mengingat jika dirinya adalah salah satu penerus dari Keluarga Mahendra membuat langkahnya menjadi terbatas.


Haidar mencoba untuk fokus pada jalanan di depannya, sedikit melirik pada Yumna yang kini hanya diam tidak lagi berbicara. Tangan Yumna dia raih dan dia tempelkan di dadanya, sesekali membawa tangan itu untuk dia kecup dengan lembut.


"Bisa aku minta senyummu? Kamu akan sangat cantik kalau berikan aku senyuman." Pinta laki-laki itu dengan tersenyum pula. Yumna tersipu malu, kini memberikan seyuman pada Haidar.


"Nah begitu lebih baik. Aku gak suka kamu banyak mikirin hal yang belum tentu terjadi. Please, saat denganku, pikirkanlah hal yang menyenangkan mulai dari detik ini." Pinta Haidar pada Yumna.


Yumna tersenyum kecil mendengar ucapan Haidar, terhibur dengan ucapan laki-laki itu. Sedikit hal yang membuatnya takut di hari kemarin kini perlahan menghilang.


"Haidar, apa kamu gak akan tergoda lagi dengan wanita lain?" tanya Yumna yang seketika membuat Haidar menolehkan kepalanya.


"Aku? Siapa?" tanya Haidar bingung.


"Siapa saja. Aku tidak mau diduakan lagi," ujar Yumna. ,alu rasanya jika mengingat masa lalu Haidar. Ingat jika dulu dia beristrikan Yumna, tapi hatinya milik orang lain.


"Sekarang hati ini hanya untuk kamu, perhatian ini hanya buat kamu. Apa yang ada di dalam diri aku sekarang hanya untuk kamu seorang," ucap Haidar dengan tulus dan bersungguh-sungguh.


"Aku mau kamu janji sekarang ini. Jangan kamu ingkari. Berani?" tanya Yumna, menarik tangannya yang ada pada dada Haidar dan menyodorkan jari kelingkingnya pada laki-laki itu.


"Kenapa tidak berani? Aku hanya milikmu seorang." Haidar menyambut jari kelingking Yumna sehingga jari mereka berdua kini saling bertautan dengan erat.


"Ada yang lain lagi? Asal jangan syarat yang sulit seperti yang diberikan Papa Bima," tanya Haidar pada Yumna.


Yumna menggelengkan kepalanya. "Gak ada. Cukup tugas dari papa yang bikin kita berpisah kemarin."

__ADS_1


"Tentu saja, setelah ini kita gak akan berpisah lagi, karena aku akan secepatnya membawa mami dan papi untuk kembali melamar kamu."


Yumna tersenyum dengan ucapan Haidar barusan.


__ADS_2