YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
222. Balik Mengancam


__ADS_3

Haidar menatap Ronald dengan kesal, ucapannya barusan itu membuat dia ingin marah. Akan tetapi, dia bisa apa? Mungkin memang benar apa yang Ronald katakan, dirinya terlalu bodoh untuk bisa melihat itu semua.


"Please, dong. Bantu gue. Bujukin Papa Bima," ucap Haidar memohon.


Ronald menghentikan tawanya. "Astaga! Gue bisa apa untuk bujuk Pak Bima biar terima elo lagi? Denger ya, seorang ayah pasti gak akan rela kalau anaknya di dekatin sama cowok yang udah pernah sakitin hati anaknya, apalagi jadiin dia janda! Elo ngerti gak sih? Gue nih, ya. Kan sekarang udah jadi seoang ayah. Gue ngerti rasanya kalau anak gue disakitin sama orang lain. Disini ...." Ronald menyentuh dadanya sendiri.


"..., disini yang gue rasain tuh sakit. Gak mudah buat maafin orang yang sudah nyakitin perasaan anak ...."


"Tapi kan anak elo masih bayi, masih usia dua bulan, kan?" tanya Haidar memotong ucapan Ronald.


Ronald menatap Haidar tidak suka.


"Nah, kan. Beg*nya keluar lagi. Nih ya dengerin gue. Meski anak gue masih usia dua bulan, tapi pikiran gue itu udah sepuluh tahun lebih maju dari sekarang. Gue juga kepikiran kalau sampai di masa depan ada yang jahatin dia. Gue gak terima, lah. Gue akan ambil tindakan tegas untuk orang yang sudah sakitin anak gue. Nah, Papa Bima juga sama, dong. Dia gak akan rela anaknya di sakitin dan kemudian balik lagi sama orang yang udah sakitin hati anaknya. Apalagi sampai Yumna pergi beberapa bulan dari mereka."


Haidar mendelik tidak suka pada Ronald.


"Dia Papa Bima gue, elo gak perlu sebut dia Papa Bima juga!" kesal Haidar dengan nada yang tak biasa di dengar oleh Ronald.


"Astaga!" Ronald mengusap wajahnya dengan kasar. Haidar seperti orang yang sedang cemburu.


"Gitu aja elo cemburu, gue sebut Papa Bima. Itu kan karena elo juga yang sedari tadi panggil dia Papa Bima, padahal kan cuma mantan mertua, belum tentu juga balik jadi mertua elo!" ujar Ronald dengan sama kesalnya.


"Ya udah, deh. Ngomong sama elo bikin gue bisa naik darah. Gue mau makan siang dulu." Ronald kini bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Eh, elo mau kemana?" tanya Haidar tak terima Ronald kini pergi sebelum bisa membantunya.


"Kan gue bilang, mau makan siang! Gue kesini cuma mau tengokin elo aja, gue kira elo mau bunuh diri gitu karena stress mikirin balikan sama Yumna, ternyata elo gak kayak yang gue pikirin, masih anteng di kursi yang empuk!" ujar Ronald.


Haidar menatap sinis sahabat yang tidak pernah bisa menyaring omongannya itu. Ronald dan Ben sama-sama sebelas dua belas.


"Enak aja lo! Kalau gue mati, kasihan dong si Otong belum rasain kehangatan sama sekali!" ujar Haidar kesal. Dia seketika menutip mulutnya yang keceplosan.


"Hahaha! Elo ... seriusan itu? Belum rasain naik turun gunung sama sekali?" Ronald tertawa dengan keras dan terpingkal, memegangi perutnya yang terasa sakit karena tidak bisa berhenti tertawa.


Haidar malu, wajahnya merah karena sahabatnya itu menertawakannya.


Bodoh! Kenapa bisa keceplosan segala?


"Bisa diem gak sih lo?" titah Haidar dengan kesal. Akan tetapi, Ronald tidak juga menghentikan tawanya.


"Itu serius, Haidar? Maksud gue ... okelah, Yumna gak bisa elo dapatin karea gue tau dan udah jelas alasannya, tapi Vio ... rugi elo cuma jadi mainannya dia doang!" Ronald masih saja tertawa membuat Haidar ingin sekali menyumpal mulut Ronald dengan kaos kakinya.


"Udah deh, dasar kampr*t lu! Ngetawain gue terus!" ucap Haidar dengan kesal.


"Sori-sori. Habinya lu lucu banget. Hidup di antara dua wanita tapi elo masih perjaka? Hebat!" ujar Ronald sambil bertepuk tangan.


Haidar mendelik tidak suka dengan ucapan temannya itu.

__ADS_1


"Iya, lah. Gue masih perjaka. Emang punya lo, nikah sama Tia udah beberapa kali tuh si Otong diobral!" Haidar balik mengejek Ronald.


Ronald melotot mendengar ucapan Haidar dengan nada ejekan sepeti itu.


"Hei, awas loh ya kalau sampai bilang ini sama Tia. Dia taunya gue gak nakal di masa lalu loh!" tunjuk Ronald tepat di wajah Haidar. Haidar hanya mengangkat kedua bahunya.


"Gak janji, deh. Kecuali kalau elo mau bantuin gue bisa taklukin hatinya Papa Bima!" Haidar tak mau kalah.


Ronald mengusap wajahnya kasar. Dia menatap kesal pada pria jomlo di depannya ini. Menyesal sekali dia datang ke tempat ini, harusnya tidak usah datang saja, biarkan Haidar mau seperti apa juga!


"Bohong itu gak baik loh, apalagi sama istri sendiri. Kan kasihan kalau Tia tiba-tiba tau masa lalu elo yang bengal seperti itu, terus kalau anak elo tau, dan berpikir 'Wah, Papa gue ternayat kelakuannya gitu, ya. Kecewa gue sama Papa!'," Haidar menirukan suara khas anak kecil.


"Hai, anak gue baru usia dua tahun, ya!" Ronald kembali tidak terima.


"Iya, memang usia anak elo masih dua tahun, tapi kan elo tadi bilang, elo tuh harus berpikiran sepuluh tahun ke depan, kan? Jadi ya jaga-jaga aja kalau mungkin bukan dari gue, ya orang lain yang bicara!" ujar Haidar dengan tenang.


Ronald menatap haidar dengan kesal, ingin sekali melempar dia dari lantai lebih dari sepuluh ini, tapi itu kan namanya pembunuhan!


Haidar menggerakkan alisnya naik dan turun dengan cepat.


"Bantu gue, atau gue bilangin sama Tia? Pilih deh!" ujar Haidar.


Ronald pasrah, untuk sekarang ini dia tidak mau di cap pria yang busuk oleh sang istri, apalagi dengan adanya anak di antara mereka.

__ADS_1


"Asem, lo!" cerca Ronald. Haidar tertawa dengan keras melihat sahabatnya itu pergi dengan kesal.


__ADS_2