
"Maaf, saya juga tidak melihat. Ini salah saya karena terburu-buru," ujar Yumna. lalu keduanya terdiam saat melihat satu sama lain.
"Aldy?" ucap Yumna tidak menyangka dengan kehadiran teman kecilnya tersebut di sana.
"Eh, Yumna? Sedang apa kamu di sini?" tanya Aldy dengan bingung. "Bukannya kamu kerja sama Papa Bim–."
"Shutttt!" Yumna dengan cepat menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya membuat ucapan Aldy terputus. Yumna menyeret paksa laki-laki itu sedikit menjauh dari depan pintu lift di mana masih banyak orang yang berlalu lalang di sana. Beberapa orang yang ada di sana menatap Yumna dengan penuh tanda tanya, beberapa juga tahu siapa laki-laki tersebut yang merupakan teman dan juga klien dari atasan mereka.
"Eh, kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Aldy bingung saat Yumna membawanya ke dekat dinding. Yumna kembali menempelkan jari telunjuknya.
"Anu, itu banyak yang lewat. Halangin jalan," ucap Yumna dengan malu, sadar dengan tangannya yang masih memegangi lengan Aldy sehingga segera dia melepaskan tangan itu dari sana.
"Kamu ngapain di sini?" tanya keduanya bersamaan.
__ADS_1
Keduanya lalu terdiam dan tertawa malu. "Aku kerja di sini," ucap Yumna. "Kamu?"
"Aku mau ketemu Randy."
"Pak Randy pemilik perusahaan ini?" tanya Yumna lagi. Aldy menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak ada di kantor Papa Bima? Bukannya kamu ada di sana membantu Papa Bima?" tanya Aldy.
Yumna tertawa kecil. "Aku udah lama gak di sana lagi."
"Gak apa-apa, cuma pengen cari suasana yang berbeda aja."
Aldy tersenyum kecil dan mengacak rambut Yumna dengan lembut, membuat poni Yumna kini berantakan. Hal yang sering dulu dia lakukan pada Yumna saat mereka masih sangat kecil sekali. Aldy yang tidak punya adik membuat dia menganggap Yumna adalah segalanya. Adik dan juga sahabat, dan ... ternyata adalah wanita yang dia sadari jika Yumna adalah wanita yang sangat berarti.
__ADS_1
"Maaf. Aku refleks," ucap Aldy dengan malu. Hal yang tidak seharusnya dia lakukan lagi kepada Yumna di usia mereka yang sekarang ini. Aldy mengalihkan tatapannya dari wajah Yumna yang semakin cantik saja di usia nya yang sudah matang.
Tanpa Yumna sadari ada seseorang yang menatap kedua orang itu dari kejauhan. Rasanya kesal sekali karena dia sudah menunggu hampir sepuluh menit lamanya dan Yumna belum juga keluar dari dalam kantornya.
Haidar hanya diam saja menunggu. Dia hanya memperhatikan laki-laki yang hanya dia tahu nama dan juga hubungan apa dengan Yumna di masa lalu.
"Aku gak nyangka bakalan ketemu kamu di sini, padahal aku cukup sering loh datang ke sini, tau ada kamu aku bakalan sering ajakin makan siang juga," ucap Aldy. Mendengar kata makan siang membuat Yumna membulatkan matanya. Dia melupakan hal penting tersebut di mana mungkin suaminya sudah menunggunya di luaran sana.
"Aku lupa!" seru Yumna sambil menepuk dahinya.
"Kenapa?" tanya Aldy bingung.
"Haidar jemput aku buat makan siang bareng," jawab Yumna. "Pergi dulu, ya" seru wanita itu lagi sambil berbalik dengan cepat. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat sosok suaminya ada di dekat meja resepsionis sedang bersandar sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Yumna menjadi salah tingkah karena ketahuan berbicara dengan Aldy, dia takut melihat wajah Haidar yang datar seperti itu.
__ADS_1
"Haidar," gumam Yumna pelan, sedangkan Aldy hanya menatap Yumna dengan diam.