YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
16 Keputusan Yumna dan Haidar 1


__ADS_3

"Apa telfon gue?! Pake mami elo bilang sama mama, elo kangen gue lagi! Jadinya kan mama gue gangguin tuh!" suara Yumna terdengar galak dari seberang sana.


'Buset dah, ni anak lagi PMS kali ya? Galak amat!' batin Haidar.


"Kalem dong neng, gue mau bicara baik-baik juga. Soal kangen itu mah mami gue yang ngada-ngada, lagian elo mau gue kangenin? Nanti kalau elo udah jatuh cinta sama gue, yang ada elo pasti bakal kangen gue. Hehe."


"Huweeekkkk, gak bakalan gue kangen sama elo! Sorry ya yang ada elo yang akan jatuh cinta sama gue!" Ujar Yumna membuat Haidar memutar bola matanya malas. Membayangkan saat ini bagaimana mulut Yumna yang bergerak memaki dirinya. (Padahal mah emang iya Yumna sedang mengumpati Haidar tanpa suara di rumahnya sambil menunjuk-nunjuk hp mama Lily).


"Elo ngapain telfon nomor mama gue?" Tanya Yumna sengit.


"Anu... itu..."


"Apa?!"


"Bisa kita ketemu? Kayaknya kalau di omongin lewat hp gak enak juga." pinta Haidar. "Gue jemput sekarang ke rumah elo!"


"Eh jangan-jangan. Mendingan kita ketemuan aja di luar, sekalian gue mau ada yang di beli." ucap Yumna.


"Oke. Di kafe Bintang sekarang gue OTW, ya."


"Eh tunggu! Kafe bintang itu dimana?"


"Ya ampun Yumna itu kafe terkenal loh, masa gak tahu dimana! Ada GPS juga!" seru Haidar tidak percaya.


"Gue gak tahu, dan males kalau ketemuan di tempat yang gue gak tahu. Tempat yang kemarin aja!"


Tuuuttt...


Tuuutttt...


Panggilan di matikan.


"He... ni anak, aneh memang!" ujar Haidar sambil menatap layar hpnya yang mati.


Haidar membuka seluruh pakaiannya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


"Kalau mandi bisa kelamaan dia nunggu, bisa-bisa kalau gue telat dia ngomel-ngomel lagi!" ucap Haidar lalu selesai mencuci mukanya dia pergi ke walk in closet. Mengambil bajunya, dan celana. Tak lupa sebelum itu menyemprotkan minyak wangi pada tubuhnya.


"Biarin lah, gak ada yang tahu kalau gue gak mandi, yang penting gue ganteng, wangi!" Haidar merapikan rambutnya dengan sisir ke belakang dia menatap dirinya di dalam cermin, mengagumi dirinya sendiri.


Sambil bersiul Haidar berjalan santai keluar dari kamar. Dia melihat sang mama yang masih sibuk di dapur.


"Mi, Haidar pergi ya!" pamit Haidar pada sang mama sambil berlalu.


"Eh, hp mami mana?" tanya Mami setengah berteriak.


"Lupa mi, ada di kamar! Mami ambil sendiri ya, aku buru-buru!" Haidar langsung berlari dia terlalu malas untuk naik kembali ke kamar dan mengambil hp maminya.


"Ish itu anak." Mitha hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak semata wayangnya.


Haidar mengendarai motornya, sekitar dua puluh menit dia sampai disana. Beruntung meja yang kemarin dia pakai sedang kosong, dan dia langsung duduk disana.


Seorang pelayan mendekat ke arah Haidar sambil membawa menu di tangannya.

__ADS_1


"Flat White." ucap Haidar sambil memberikan kembali buku menu pada pelayan itu. Pelayan itu mengangguk kemudian undur diri untuk membawakan pesanan Haidar.


Sepuluh menit.


Dua luluh menit.


Tiga puluh menit.


Hingga...


Satu jam kemudian.


Haidar merasa kesal karena yang di tunggu belum juga datang. Dua cangkir Flat White sudah habis di depannya, dia sudah mulai merasa bosan.


"Dasar gadis itu..." gumam Haidar kesal dia mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya. Dia tidak pernah menunggu selama ini untuk seseorang apalagi wanita. Dan itu adalah Yumna!


"Kenapa gue gak minta nomer dia sekalian tadi!" gumam Haidar merasa menyesal.


"Hai. Udah lama nunggu?" suara seseorang membuat Haidar mendelik ke arah samping. Melihat Yumna yang tersenyum dengan malas, lalu duduk di depannya.


"Wajah tanpa dosa!" Haidar kesal. Dia memalingkan wajahnya dengan tangan di lipat di depan dada. Dia sungguh bosan menunggu selama satu jam.


"Sudah lama?" tanya Yumna.


"Elo lihat aja, gue udah habis dua cangkir kopi." Haidar menggebrak meja di depannya. Kesal!


"Maaf-maaf." Yumna membentuk huruf V dengan jari tangannya. "Waktu elo telfon kan gue baru aja pulang kerja. Gue mandi dulu. Tahu kan kalau cewek mandinya itu agak lama." Ujar Yumna dengan di sertai cengiran khasnya.


"Iiyyuuhh, jorok banget sih elo pulang kerja gak mandi?!" seru Yumna yang langsung di bekap mulutnya oleh Haidar.


"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya Yumna! Malu-maluin aja!" Yumna terkejut karena Haidar membekap mulutnya, dia memukuli lengan Haidar agar melepaskan tangannya.


Haidar pun melepas tangannya dari mulut Yumna.


"Apa sih lo!" teriak Yumna, membuat beberapa pengunjung menatap mereka berdua.


"Bisa gak sih, gak usah berisik?!" tanya Haidar. "Volumenya tuh kecilin!"


"Lagian elo jorok amat gak mandi!"


"Gue gak mandi karena ingin cepet ketemu elo, nanti kalau elo kelamaan nunggu ngomel-ngomel lagi, kayak kereta api! Tahunya gue sampai nunggu sejam. Tahu gitu gue juga mandi tadi. Mana badan kerasa lengket lagi!" kesal Haidar.


Yumna memasang muka jijiknya. "Elo mau apa minta kita ketemu? Mami elo gimana?" tanya Yumna to the point. Haidar menggaruk belakang kepalanya.


"Gagal! Mami keukeuh pengen gue sama elo sedangkan papi dia terserah gue sama siapa. Kalau gue gk sama elo, atau bawa yang lain, gue bakalan sama si Lala. Elo?"


"Gue juga. Mama bilang dua pilihan elo atau si Putra." Yumna menghela nafas lelah.


"Seno itu?"


"Iya. Putra Suseno!"


"Hafal banget nama dia!" ejek Haidar.

__ADS_1


Yumna mendecih tidak suka. Mereka terdiam benerapa saat lamanya. Sampai pelayan datang untuk kembali menawarkan makanan.


"Jadi gimana?" tanya Yumna.


"Ya terpaksa!" jawab Haidar.


"Terpaksa apa?" Yumna mengernyitkan dahinya.


"Kita harus jalani!"


"What?!!!" pekik Yumna segera ia menutup mulutnya dengan satu tangan, sadar jika sedari tadi meja merekalah yang menjadi perhatian orang lain karena terlalu berisik.


"Ya itu sih terserah elo. Elo mau sama gue atau sama si Putra itu. Kalau gue sih gampang bisa seperti dulu, kabur! Hehe." Haidar tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Cih dia masih bisa ketawa, padahal kan ini gara-gara dia. Coba kalau kemarin gak akuin gue pacarnya di depan maminya itu!" kesal Yumna.


"Eh gak bisa gitu dong! Ini kan gara-gara elo kemarin! Tanggung jawab dong! Cari solusinya! Gue gak mau ya nikah sama si mesum itu, dan gue juga gak mau nikah sama elo!" tutur Yumna tegas.


"Ya gimana lagi dong. Udah terlanjur juga."


"Kenapa elo jadi cowok gak tanggung jawab sih?!" Yumna menggebrak meja, dia semakin kesal karena Haidar tidak punya solusi dari permasalahan yang ia buat. Lagi-lagi membuat pandangan beberapa orang tertuju pada mereka.


"Eh jangan kenceng-kenceng dong, entar mereka kira tanggung jawab apa lagi!" Haidar merasa risih dengan tatapan mereka padanya.


"Au ah, gue pusing!" Yumna menyandarkan dirinya pada sandaran kursi, dia mengambil minuman di depannya dan menenggaknya hingga habis. Nafasnya naik turun karena Yumna hanya mengambil satu tarikan nafas saat minum. Haidar menggelengkan kepalanya melihat tingkah Yumna.


"Cewek gak bisa jaga imej!"


"Gini deh. Kalau kita jalani dulu gimana? Papi bilang gue punya waktu dua hari buat ambil keputusan dan gue udah mikir dari semalam."


"Kirain gue ini kosong!" tunjuk Yumna pada kepalanya sendiri. Haidar melotot, baru kali ini ada yang berani mengejeknya dengan terus terang!


"Ish elo nih, kalau elo laki udah bonyok lu!"


"Jadi gimana?"


"Kita garus buat kesepakatan. Kita jalani, dan pada akhirnya nanti kita bisa dapat yang kita inginkan! Elo bisa sama laki-laki yang elo cinta, dan gue bisa bareng sama pacar gue."


Yumna tersentak, bukan karena soal kesepakatan tapi akhir kalimat yang tadi di ucapkan Haidar.


"Elo punya pacar?"


"Punya. Kenapa? Jangan cemburu ya, pacar gue itu model. Gue bisikin..." Haidar mencondongkan dirinya ke depan, begitu pun Yumna hingga mereka bisa melihat sangat jelas cahaya di mata masing-masing. "Pacar gue itu...Viola mcKenzie!" bisik Haidar bangga. Tapi berbeda dengan Yumna dia malah tertawa terbahak sambil memegangi perutnya.


"Kenapa ketawa?" Tanya Haidar. Dia merasa Yumna memang sedang menertawakan dirinya. Ya siapapun itu yang mendengarnya akan bereaksi sama.


"Elo gak percaya?" Haidar mulai kesal.


"Elo sama Vio? Haha... Gak mungkin! Mimpi lo?!" Yumna terus tertawa, terpaksa Haidar membuka galeri di hpnya dan menunjukkan semua foto tentang kebersamaan dirinya dengan Vio, sang model cantik yang sedang naik daun!


Yumna terdiam saat satu persatu melihat foto Haidar dengan Viola, benar dan itu bukan editan.


Rasanya seperti ada yang aneh di dalam hati Yumna hingga ia hanya melihat satu persatu foto itu dengan diam.

__ADS_1


__ADS_2