YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
137. Mimpi Buruk


__ADS_3

Yumna terbangun dari tidurnya. Mimpi buruk yang baru saja dia alami membuat keringat dingin keluar dari kening Yumna.


Yumna memutuskan untuk bangun dan minum air putih yang selalu tersedia di atas nakas di samping tempat tidur.


Ada rasa sesak dalam dirinya mengingat mimpi barusan. Hanya mimpi, tapi terlihat seperti nyata.


Ini hanya mimpi, Yumna! Mimpi hanya bunga tidur!


Yumna mengingatkan dirinya sendri. Kembali menenggak air hingga hampir setengah gelas. Hawa di kamarnya sudah dingin karena AC, tapi tidak membuat tubuh yang berkeringat itu menjadi dingin pula. Panas terasa karena gelisah.


Kembali berbaring dan mencoba memejamkan matanya. Akan tetapi, tidak bisa kembali terpejam. Yumna melirik ke arah jam dinding. Waktu baru saja menunjuk angka dua lebih sedikit. Bayangan Haidar keluar dari dalam mobil dengan cucuran darah di kepala membuat Yumna menjadi gelisah, takut, dan juga khawatir.


Ini hanya mimpi. Hanya mimpi! Dia tidak apa-apa!


Kembali menegaskan pada dirinya agar tidak risau. Tapi otaknya tidak bisa sinkron. Mengambil gawai dan kemudian bangkit untuk duduk.


Dicarinya nomer kontak Haidar.


"Sial!" gerutu Yumna. Disaat seperti ini Yumna menyesal. Tidak ada kontak Haidar disana karena Yumna mengganti nomornya setelah pergi dari rumah dulu. Hanya menyalin kontak keluarganya saja dan sahabatnya.


Yumna berdiri, selimut jatuh di lantai. Kakinya berjalan ke arah balkon kamar.


Langit di atas sana terlihat gelap. Awan mendung menutupi cahaya bulan yang temaram. Angin bertiup dengan menghantarkan hawa dingin. Namun, Yumna tidak menghiraukan itu. Hatinya masih saja cemas tanpa sebab.


Ayolah, Yumna! Itu hanya mimpi!

__ADS_1


Kembali menegaskan kata itu dalam hati. Tangan Yumna terkepal, masih memegang benda pipih di tangan hingga buku-bukunya memutih. Akhirnya Yumna pasrah dengan keadaan. Dia mana bisa tahu dengan apa yang terjadi di kejauhan sana!


Jangan hiraukan pria itu. Dia sedang bahagia dengan wanita itu sekarang. Mungkin saja Dia sudah menikah! Tentu saja sudah. Sebelum bercerai saja dia bilang akan melamar wanita itu!


Enggan menyebutkan nama, dalam hati Yumna berdialog sendiri. Mencoba untuk menenangkan diri, tapi malah hatinya bersedih ketika ingat akan hal itu.


Yumna tertawa lirih.


"Masa bodoh!" ucapnya lalu kembali ke dalam kamar tanpa melirik lagi ke arah bulan yang kini mulai menampakkan sinarnya.


Pagi menjelang. Yumna bangun dengan keadaan tubuh menggigil. Ini pasti karena semalam dia keluar dari kamarnya dan terkena angin malam. Kemarin kepala Yumna pusing karena terkena hujan, dan semalam di tambah angin dingin yang menerpa. Pikiran yang gelisah menambah pusing kepalanya. Padahal sebelum bangun dia bertekad untuk melupakan mimpinya itu.


Yumna memaksakan diri untuk bangun, tidak ingin hanya karena suhu tubuh menurun dia lantas berleha-leha. Apalagi dengan mimpi semalam. Pasti jika tinggal di rumah, Yumna akan memikirkan dia terus.


"Selamat pagi, Nek. Kakek." Sapa Yumna lalu duduk di kursinya. Nenek yang tengah menyiapkan sarapan untuk kakek balik menyapa dengan senyuman begitu kakek.


"Aku gak disapa?" tanya Abian dengan senyum lebar. Kedua alisnya naik turun dengan cepat.


"Gak! Gak penting!" ucap Yumna yang mendapat kekehan dari kakek. Yumna menerima piring berisi nasi dan lauk dari nenek.


Bian mendecih kesal.


Selesai sarapan. Yumna meminta untuk berangkat bersama dengan Bian.


"Tumben gak bawa mobil?" tanya Bian saat mereka sudah ada di dalam mobil.

__ADS_1


"Males nyetir. Udah jangan banyak ngomong! Elu laki-laki kok mulutnya lincah banget!" sergah Yumna saat Abian baru saja akan membuka mulutnya. Bian kembali mengatupkan mulutnya.


"Dasar, elo galak banget jadi orang. Jauh dari jodoh, loh! Gak punya temen nanti!" peringat Abian memperingati Yumna bak anak kecil.


"Baguslah. Karena gue juga mau sendirian sekarang. Mau jodoh, mau temen, gue lagi gak mau di ganggu!" ucap Yumna menyenderkan punggungnya di kursi, kedua tangan terlipat di depan dada, lalu memilih untuk menutup matanya.


Bian hanya diam. Jika sudah seperti itu Yumna sudah pasti tidak mau di debat.


Bian melajukan mobilnya dengan perlahan keluar dari pelataran rumah besar itu.


Sesekali Bian melirik Yumna, wanita itu tidak mengubah posisinya sama sekali. Entah dia tidur atau malas tidak mau berbicara dengannya.


"Yumna!" panggil Bian. Yumna hanya diam.


"Heh, Yumna!" panggil Bian sekali lagi.


"Hemm.." barulah Yumna menjawab dengan gumaman.


"Elo kenapa sih? Sakit, ya?" tanya Bian lagi.


"Enggak. Gue cuma ngantuk semalem kebangun gak bisa tidur lagi!" jujur Yumna. Masih memejamkan matanya.


"Bangunin gue kalau udah sampai kantor, ya."


"Oh... oke!"

__ADS_1


__ADS_2