YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
382


__ADS_3

Haidar merasa sebal, saat anaknya keluar dari ruangan bersalin dia tidak tahu. Bahkan, saat Yumna dipindahkan ke ruang inap dia tidak tahu sama sekali. Sialnya yang membangunkannya adalah perawat yang membantu kelahiran kedua anak-anaknya. Haidar dibangunkan dan tidak melihat siapa pun ada di depan ruangan itu.


Dasar, anak sendiri dilupain! Ujar haidar kesal di dalam hatinya. Dia mengusap kepalanya yang sakit dan sedikit benjol, tidak dia ingat karena apa, tapi yang dia ingat tadi saat pingsan dia jatuh tertelungkup yang tidak mungkin sama sekali kepala belakangnya yang terbentur, kan? Lantas kenapa benjol di belakang kepala?


Haidar masih bingung memikirkan hal tersebut dan akhirnya menyerah untuk mencari jawaban. Menatap anggota keluarganya yang tengah mengelilingi kedua bayinya, mereka tidak henti menatap si kecil yang tengah tertidur pulas.


"Kamu kenapa?" tanya Yumna saat melihat Haidar yang mengusap belakang kepalanya.


"Nggak tau, tapi kepala aku benjol," ujar Haidar. Yumna mengulurkan tangannya dan mengusap belakang kepala Haidar yang memang ada sedikit benjolan.


"Kenapa benjol kayak gini? Kamu kepentok apa?" tanya Yumna sekali lagi.


"Nggak tau, nggak inget," ujar Haidar.


"Uh, kasihan banget Papa. Sini, Mama usap sampai sembuh," ucap Yumna, Haidar mematung mendengar panggilan dari istrinya itu.

__ADS_1


"Papa?"


"Iya, Papa. Kan sekarang kita sudah punya dua bayi yang lucu, jadi ini Papa, ini Mama," ujar Yumna menunjuk Haidar dan dirinya bergantian.


Haidar tersenyum senang, suka dengan panggilan tersebut.


"Sini, sakit banget ya?" tanya Yumna meminta Haidar untuk mendekat dan mengusap kepala suaminya itu dengan lembut.


"Kamu pingsan karena apa tadi?" tanya Yumna yang mendengar jika Haidar pingsan setelah keluar dari ruangan bersalin.


"Nyebelin banget, aku ditinggal di sana," adu Haidar pada sang istri yang masih mengusap kepalanya.


"Idih, manjanya. Harusnya kamu yang pijetin istri, kenapa malah kamu yang diusap-usap?" tegur sang mami kepada putranya.


"Mami, kepala Haidar benjol kenapa, Mi?" tanya Yumna pada mertuanya.

__ADS_1


Mitha tersenyum meringis mengingat apa yang dia lakukan tadi tanpa sengaja. "Nggak tau, mungkin kepalanya kebentur kali," jawab Mitha, Arya yang mendengar itu menggelengkan kepalanya. Jelas-jelas istrinya yang menjatuhkan kepala Haidar kasar di kursi tadi.


"Kebentur apa? Aku ingat aku jatuh ke depan," ujar Haidar.


"Ya ... Mami nggak tau, kenapa tanya Mami? Lagian kenapa juga kamu pingsan? Nggak laki banget sih!" ujar Mitha kemudian menyingkir setelah mengambil gelas miliknya dari atas nakas.


"Tapi kenapa kalian ninggalin aku di sana? Kejam banget Mami!"


Mitha meringis memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Bukan kejam, tapi Mami nggak pengen jauh dari cucu Mami. Mami sampai lupa, kirain kamu sudah ada yang bangunin," jawab Mitha tanpa merasa bersalah sama sekali. Haidar mendelik sebal kepada ibunya.


"Ada ibu macam begini!" gumam Haidar pelan, tapi Mitha mengacuhkan ucapan anaknya itu dan memilih untuk kembali menatap wajah kedua cucunya yang sangat cantik dan tampan.


"Sayang, kenapa aku nggak punya ibu yang sayang aku ya? Dari dulu Mami kejam sama aku, apa mungkin aku ini anak tiri? Atau anak pungut?" ujar Haidar dengan suara yang sengaja dia buat besar. Jelas Mitha bisa mendengarnya, dia juga mengabaikan ucapan Haidar yang seringkali protes kepadanya.


Merasa diacuhkan, Haidar merajuk lagi pada istrinya. "Sabar, Sayang. Mungkin memang Mami itu sayang dengan caranya sendiri."

__ADS_1


__ADS_2