
"Bian! Kamu ... kamu beneran datang?" tanya Yumna tidak percaya. Yumna masih menatap pria yang kini ada di depannya ini. Dia masih terkejut. Benarkah ini pria jahil nan tengil itu atau bukan?
"Iya, aku datang. Beneran datang," jawab Bian masih dengan senyum. Dia menggerakkan tangannya sebagai penegasan jika ingin di peluk. Yumna mendekat ke arah Bian. Bian tersenyum senang dengan Yumna yang menghampirinya. Sebentar lagi dia akan bisa memeluk dan menghirup aroma wangi dari parfum Yumna yang selalu dia suka.
Yumna berhenti tepat satu langkah di depan Bian. Dia tersenyum lalu mencubit perut pria itu dengan cukup keras. "Aww!" Bian terpekik lumayan keras. Tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh sepupunya ini.
"Sakit! Kenapa kamu cubit aku!" seru Bian dengan sambil mengusap perutnya yang sakit.
"Hehe, ternyata aku gak mimpi," ucap Yumna dengan tersenyum lebar.
Bian berdecak dengan kesal mendengar ucapan sepupunya ini. Dia membalas Yumna dengan mencubit kedua gadis itu dengan cukup keras, juga hingga kepala Yumna menggeleng ke kanan dan ke kiri.
"Biaaaan, sakit!" seru Yumna pada sepupunya itu. Dia menepis tangan Bian dari pipinya dan mengusap pipinya yang sakit dengan kedua tangan.
"Kamu juga yang duluan. Aku kan juuga sakit kamu cubit!" tutur Bian dengan sedikit kesal juga.
"Kenapa kamu pendendam sekali? Gak pantas kemu kasar gini sama cewek, tau!" ujar Yumna dengan kesal.
__ADS_1
"Biarin. Cewek bar-bar kayak kamu gak apa di kasarin dikit." Bian tertawa terkekeh. Yumna mengangkat tangannya sejajar dengan kepala, ingin memukul pria itu, tapi Bian sudah menutupi dan menghalangi wajahnya dengan menggunakan lengannya.
"Enak aja! Aku gak bar-bar!" seru Yumna dengan kesal. Bian tertawa kecil, dia menurunkan tangannya lalu membentu huruf V dengan menggunakan dua jarinya.
"Apa kabar kamu?" tanya Yumna. " Kok kesini gak kabarin aku?" tanya yumna dengan kesal.
"Kalau kamu kabarin aku kan aku bisa jemput kamu di bandara," ucap Yumna lagi.
"Aku gak perlu kamu jemput, orang aku datang pakai pintu Doraemon, kok!" ucap Bian dengan asal.
"Banyak pekerjaan tidak? Aku lapar nih," ucap Bian kepada yumna.
Yumna menoleh ke arah mejanya. Pekejaan dia sampai saat ini masih sedikit. Yumna menolehkan kepalanya ke arah lain. Jam yang ada di dinding ruangan itu baru menunjukkan pukul sepuluh.
"Kerjaan dikit sih, tapi kalau mau makan siang ayo ja," ujar Yumna sambil mengangguk.
"Aseeekkk, makan! Aku lapar, tadi gak sarapan waktu berangkat kesini, sudah sampai juga langsung pertemuan dengan klien," tutur Bian menjelaskan.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita berangkat ke restoran, atau mau kafe?" tanya Yumna lagi.
"Terserah yang bawa aja deh, asal jangan di tinggal aja disana. Traktir juga ya," Pinta Bian.
Yumna mendecih sebal. "Gak salah? Harusnya yang traktir itu yang cowok, kenapa aku?" tanya Yuma dengan kesal.
"Kan kamu tuan rumahnya, kamu juga bos dari perusahaan besar disini. Masa sih mau traktir aja gak mampu!" Bian berkata dengan tidak peduli, pria itu menunjuk kening Yumna hingga wajah Yumna terdongak ke belakang sedikit.
"Cihh, dasar. Mintanya suka gratisan!" decih Yumna. Bian cuek saja dengan apa yang dikatakan Yumna barusan. Dia memang bicara seperti itu, tapi tidak mungkin juga jika dirinya nanti membiarkkan Yumna yang membayar makanan itu nanti.
Yumna dan Bian masuk ke dalam lift untuk mnuju ke lantai basemen. Keduanya lalu pergi ke arah retoran kesukaan Yumna.
Sampai di restotran, keduanya memsan dan menikmati makanan yang mereka pesan itu.
***
Maaf kalau sekarang ini Othor ngetiknya cuma dikit. Lelah hayati dengan kerja nyata di siang hari 🤧
__ADS_1