
"Iya, Mami. Haidar ngerti, kok. Lagian juga Haidar tanpa Yumna itu kayak laut tanpa garam gitu, Mi. Kayak bukit tanpa rumput, kayak hutan tanpa pohon. Sepi, Mi. Nggak rame," ucap Haidar.
"Ih, kamu ini. Lebay, ah. Itu persiapan sudah sampai mana? Sudha siap semua belum?" tanya Mitha lagi.
"Belum semua selesai lah, Mi. Masih dikerjain juga," jawab Haidar lagi.
"Ya sudah, mami mau lihat dulu ke sana, mau bantuin juga. Percuma kalau nggak bantu, waktu ke salon juga sudah batal," ujar Mitha, lalu meninggalkan Haidar di dalam ruangan itu sendirian.
"Haidar!" panggil sang ibu dari ambang pintu.
"Ya?" tanya Haidar mengalihkan tatapannya.
"Kata Papi, siang ini kamu pergi ke perusahaan. Ambil hadiah buat Yumna," ucap Mitha.
"Hadiah apa?" tanya Haidar.
"Rahasia, kata papi. Mami aja nggak tau papi kasih apa buat Yumna. Urusan di sini biar Mami aja yang kerjakan," jawab Mitha, lalu benar-benar pergi dari ruangan tersebut.
"Padahal kan bisa suruh sopir buat antar kesini," gumam Haidar, rasanya enggan untuk pergi karena dia ingin memantau semua yang ada di sini hingga selesai nanti. Akan tetapi, daripada Mami Mitha mengomel tidak jelas lebih baik dia pergi sekarang juga agar urusannya selesai.
Tak lama dari Haidar pergi dari tempat itu, Lily dan ketiga anaknya yang lain sampai di sana dan membantu menyiapkan segala sesuatunya dengan baik bersama Mitha dan yang lainnya.
"Aku nggak nyangka, deh. Bang Haidar kepikiran bikin kejutan di sini," ucap Syifa sambil menatap ruangan yang baru setengah tertutupi hiasan.
Lily yang mendengar itu memberikan pelototan kepada putrinya. "Syifa, nggak sopan!" tegas Lily, Syifa yang ditatap sedemikian rupa oleh sang ibu hanya tersenyum meringis lalu mengambil balon dan meniupnya hingga kedua pipinya mengembung besar.
__ADS_1
Mitha tertawa kecil. "Nggak apa-apa, Ly. Memang benar Haidar sekarang ini mendadak berubah setelah dengan Yumna. Aku juga nggak nyangka anak itu bisa kepikiran buat bikin beginian," ucap Mitha bangga akan perubahan putra satu-satunya itu.
...***...
Mobil melaju di jalanan yang lumayan ramai, tapi tidak macet sama sekali. Mungkin karena sekarang ini masih jam sibuk orang di dalam kantor sehingga jalanan terpantau ramai lancar. Dengan mudah Haidar sampai di perusahaan papanya tersebut.
Langkah kaki laki-laki itu terdengar cukup keras di koridor yang sepi, beberapa orang menunduk saat dia melintas.
"Itu siapa?" Ganteng banget, sih," ucap salah satu karyawan kepada resepsionis yang ada di dekatnya.
"Putra satu-satunya Keluarga Rahadian," jawab sang resepsionis. "Jangan suka sama dia, sudah punya istri." Wanita itu mengingatkan sehingga sang teman hanya merengutkan bibirnya.
Haidar menaiki lift untuk sampai ke lantai di mana kantor sang ayah berada. Seorang sekretaris yang ada di sana berdiri dan mengangguk hormat pada laki-laki ini.
"Papa ada?" tanya Haidar pada wanita itu.
"Oh, saya akan tunggu di dalam," ucap Haidar, lalu masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk di sofa.
Ruangan ini pernah dia tempati dulu, tapi dia tinggalkan demi ingin mengurusi kantor cabang untuk membuktikan jika dia juga mampu membuat kantor cabang menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Jujur saja setelah menikah dengan Yumna membuat dia ingin sekali menjadi seorang laki-laki yang lebih baik dan juga lebih bisa diandalkan lagi.
Sepi menyelimuti di ruangan tersebut, hanya terdengar detak jam yang berbunyi dan juga kendaraan yang terdengar riuh di luaran sana. Haidar bosan menunggu, kini dia mendekat ke arah jendela dan memandang ke arah luar. Gedung-gedung yang dia lihat di luaran sana sangatlah tinggi. Langit yang biru dengan sedikit awan dan juga burung-burung yang beterbangan membuat rasa bosan yang dia rasakan tadi kini sedikit terobati.
"Anu ... Maaf Pak Haidar." Suara seorang wanita terdengar di belakang, membuat Haidar menolehkan kepalanya.
"Ada apa? Apa papa sudah selesai dengan rapatnya?" tanya Haidar.
__ADS_1
Wanita itu menunduk dan memainkan jemari di depan tubuhnya. "Belum. Tadi beliau hubungi saya dan menyuruh Pak Haidar untuk menunggu sebentar lagi. Apa Pak Haidar butuh sesuatu? Saya akan buatkan minuman," ucap wanita itu lagi dengan malu. Bertemu dengan Haidar adalah hal yang langka. Beruntung hari ini datang dan bisa menatapnya walau sekilas.
"Iya, buatkan saya kopi hitam tanpa gula," ucap Haidar lalu kembali menatap ke arah luar jendela. Melihat pergerakan Haidar membuat wanita tersebut menatap semakin kagum, apalagi sinar matahari yang belum terlalu tinggi menyorot dan seakan membuat wajah Haidar berseri.
Sadar dengan apa yang dia lakukan, dia segera menggelengkan kepalanya dan pergi dari ruangan itu dengan sedikit tergesa.
"Sadar, Mey. Dia itu sudah beristri," gumam wanita tersebut lalu pergi dari depan ruangan itu dengan langkah kaki yang cepat.
Detak jam berbunyi patah-patah, tapi kini sudah tidak lagi terdengar oleh telinga Haidar. Dia lebih memilih menatap ke luar, tersenyum melihat ke arah langit, entah siapa yang menggambar wajah Yumna di sana. Tampak cantik dengan senyuman yang menghias pada gambaran tersebut.
Haidar memang pria yang beruntung, bisa meyakinkan wanita seperti Yumna dan kembali menikah dengan wanita itu. Dia harusnya yakin meski banyak yang menatap Yumna, rasanya tidak perlu khawatir. Yumna adalah wanita yang setia dan tidak akan mungkin berkhianat padanya. Akan tetapi, melihat tatapan Randy dan Aldy malam itu membuatnya kesal juga.
Pintu diketuk dari luar, Mey si sekretaris sang ayah masuk ke dalam ruangan itu dan membawakan Haidar kopi pesanannya tadi.
"Pak Haidar, ini kopinya sudah jadi. Apa ada yang dibutuhkan lagi?" tanya Mey pada anak dari atasannya ini. Mey menyimpan kopi tersebut di atas meja di sofa, dan menunggu perintah lainnya dari Haidar.
Haidar tidak mengalihkan tatapannya dari langit yang ada di luaran sana, hanya mengucapkan kata terima kasih kepada wanita itu tanpa menoleh sama sekali.
"Anu ... Pak Haidar," panggil Mey, barulah Haidar menoleh dan menatap Mey yang tampak tertunduk menatap pada lantai.
"Iya?"
"S-saya ... Suka sama Pak Haidar," ucap Mey yang membuat Haidar menatap heran sekretaris sang ayah tersebut.
...***...
__ADS_1
Boleh sambil nunggu lanjutan updatenya, mampir dulu ke sini.