
"Sayang, ada Mami nih, pengen bicara sama kamu," ucap Haidar menyodorkan hp-nya pada Yumna. Yumna mengambil HP itu dan mengucapkan salam kepada Ibu mertuanya.
"Yumna kamu beneran pulang, Nak?" tanya Mitha dengan hampir menangis.
"Iya, Mi. Aku pulang."
Mitha menjadi senang, dia bersyukur karena Yumna mendengarkan keinginannya.
Obrolan antar menantu dan mertua terjadi. Singkat karena Yumna harus beristirahat. Mitha keberatan karena masih ingin berbicara lagi dengan Yuna, tapi dia ingat karena Yumna juga tengah mengandung.
"Ayo kita tidur," ajak Haidar pada Yumna. Yumna mengangguk dan berbaring dengan nyaman.
Haidar memeluk Yumna dengan erat seakan dia takut jika Yumna akan pergi lagi. Keningnya dia usap dengan pelan, membuat Yumna mengantuk saja. Senyum tersungging di bibir Haidar, dia sangat senang sekali karena Yumna sudah kembali.
__ADS_1
Keesokan harinya, Yumna bangun terlambat dari yang dia duga. Matahari sudah sangat terik sekali saat dia tadi membuka mata, dan dia tidak menemukan Haidar di sampingnya. Gegas Yumna turun dari tempat tidur dan menemukan Haidar di dapur.
"Hai, apa kamu tidur dengan nyenyak?" tanya Haidar pada Yumna. Istrinya itu mengangguk dan tersenyum.
"Iya, aku nyenyak banget. Kenapa nggak kamu bangunkan aku? Kamu malah repot sendiri," ucap Yumna mengambil alih penggorengan yang ada di atas wajan.
"Nggak apa-apa. Aku sudah biasa kok masak sendiri waktu kamu nggak ada. Sekarang aku ingin membuatkan kamu sarapan. Kamu duduk aja di sana dan tunggu," ucap Haidar lagi. Akan tetapi, Yumna menggelengkan kepalanya dan tetap bertahan di tempatnya.
"Aku juga minta maaf. Aku juga salah dalam hal ini. Ya sudah. Kita masak berdua lagi?" tanya Haidar. Mereka berdua bersama-sama memasak untuk sarapan. Hanya makanan yang simpel saja, tapi itu membuat kesan yang sangat indah untuk Yumna.
Haidar tersenyum senang melihat Yumna yang kini tengah mengaduk-aduk nasi goreng yang dia buat, gemas rasanya melihat Yumna dengan perut yang bulat seperti itu. Perlahan dia mendekat dan memeluk istrinya dari belakang, membuat Yumna terkejut.
"Haidar, apa yang kamu lakuin? Lepas!" ucap Yumna saat Haidar memeluknya seperti itu. Bibir Haidar menempel di lehernya dan memberikan sengatan yang lain untuk Yumna.
__ADS_1
Haidar hanya terkekeh saja. "Aku cuma lagi kangen aja sama istriku. Lagi kangen juga sama anak-anakku," ucap Haidar sambil mengelus perut Yumna yang bulat. Dia tidak berhenti menciumi leher jenjang Yumna dan berhasil membuat sang istri menjadi panas. Bagaimana tidak jika sentuhan yang diberikan Haidar malah membuat dia kegerahan, bahkan bayi di dalam perutnya kini bergerak cukup keras seakan mereka senang dengan perlakuan ayahnya.
"Haidar. Ah ... ja-jangan ...." ucap Yumna sambil menahan tangan Haidar yang mulai merambah ke dadanya, tapi bukan Haidar namanya yang tidak bisa merayu perempuan. Dia gencar melakukan aksinya, tidak peduli jika apa yang dimasak mereka sudah hampir gosong.
"Haidar, aku sedang ... masak," ucap Yumna terbata.
Haidar tersenyum menyeringai dan mematikan kompornya tanpa kata-kata lagi. Dia lantas membalikkan tubuh Yumna dan mencium istrinya dengan beringas, membelit lidah dan mengabsen semua yang ada di dalam sana. Semalaman dia tidak bisa tidur karena terus saja menatap istrinya, takut jika dia memejamkan mata, dia tidak akan bisa menemukan Yumna saat bangun.
Yumna membalas ciuman dari suaminya tersebut, memegangi baju di bagian dada Haidar dengan kencang, merasakan desir darahnya yang mengalir cepat.
"Haidar," panggil Yumna saat Haidar akan melakukan hal yang lebih kepadanya, bahkan kedua tangan laki-laki itu sudah ada di balik pakaian Yumna dan mencoba untuk membuka baju dal4mnya.
"Jangan di sini," ucap Yumna. Haidar tersipu malu, dia mengangkat Yumna dan membawanya pergi ke dalam kamar.
__ADS_1