
"Makan siang sama-sama, ya?" tanya Haidar saat mobilnya berhenti di depan perusahaan tempat Yumna bekerja. Dia menyempatkan diri untuk mengantar Yumna pergi ke perusahaannya.
"Apa gak kejauhan? Tempat kerja kamu kan jauh dari sini, Haidar," ucap Yumna menatap suaminya. Tangannya membuka seatbelt yang melilit di depan tubuhnya.
"Untuk istriku tercinta, bahkan beda benua pun akan aku seberangi," ucap Haidar. Yumna memutar bola matanya, mulai lagi Haidar bucin seperti itu membuat jantung Yumna rasanya tidak aman saja.
"Haidar, please deh. Kamu jangan banyak gombal. Aku bisa kangen nanti," ucap Yumna, tanpa malu lagi dia bicara seperti itu karena memang itu lah kenyatannya. haidar terkekeh dan menarik tangan Yumna sehingga mereka saling mendekat. Pipi tirus wanita itu dia pegang dengan kedua telapak tangan dan menariknya, memberikan ciuman lembut di bibir tipis istrinya.
"Kalau kamu kangen, kamu tinggal tutup mata kamu dan bayangin aku ada di depan kamu."
Debaran jantung Yumna benar-benar kencang dan membuatnya tidak nyaman.
"Haidar, stop deh." Yumna mendorong dada Haidar menjauh. Ucapan Haidar sangat membuatnya ingin pulang dan bersembunyi di dalam selimut bersama dengan Haidar.
"Loh, kenapa stop? kan aku tadi cuma bilang kalau kamu kangen aku, atau kamu telepon aku juga boleh. Oh, ya. Nanti malam aku mau lagi ya," ucap Haidar lagi.
"Mau apa?" tanya Yumna bingung.
"Kita bikin Haidar Junior, atau Yumna kecil," ucap Haidar. Seketika Yumna menjauhkan dirinya dari Haidar, sisa semalam saja telah membuatnya lelah dan juga rasanya pinggang sakit luar biasa pegal.
"Jangan tiap malam bisa gak? Aku sakit pinggang," ujar Yumna malu.
"Kamu boleh kok cuma diam, biar aku yang bergerak sendirian. Kamu cuma tinggal menikmatinya saja," ucap Haidar lagi.
Blushhhh.
Yumna tidak tahan lagi dengan perkataan Haidar yang seperti itu, tiba-tiba saja pemikirannya menjadi liar dan juga gerah rasanya. Sakit, lelah, berkeringat, tapi membuat ketagihan. Takut yang dulu dia rasakan kini menjadi sesuatu yang membuatnya merasakan kenikmatan.
"Sudah, ah. Aku mau masuk kerja dulu. Kamu hati-hati di jalan. Kirim pesan kalau sudah sampai, ya." Yumna hendak keluar dari dalam mobil, tapi lagi-lagi Haidar tarik dan memberikan satu ciuman mesra pada keningnya.
"Kamu sudah lupa? Ciuman selamat pagi. Semoga hari kamu menyenangkan," ucap Haidar. Yumna tersenyum senang. Dia mengambil kedua pipi Haidar dengan telapak tangannya dan memberikan ciuman singkat pada bibir suaminya itu. Haidar sempat terpaku, tapi kemudian dia tersenyum senang karena perlakuan Yumna terhadap dirinya.
__ADS_1
"Nanti siang, aku akan sampai sebelum jam makan siang kamu," ucap Haidar lagi.
"Oke, aku tunggu."
Haidar harus rela melepas kepergian istrinya yang harus bekerja, inginnya sih Yumna di rumah saja. Akan tetapi, masih ada tanggung jawab Yumna di perusahaan tersebut sampai dua tahun ke depan.
"Aku masuk dulu, ya. Hati-hati." Yumna melambaikan tangannya, Haidar membalas lambaian tangan Yumna dari dalam mobilnya.
Yumna menunggu sampai mobil Haidar pergi dari sana, barulah dia masuk ke dalam kantor. Beberapa orang menatap Yumna dengan sedikit sinis. Hal yang mereka tidak tahu membuat pemikiran buruk terdapat pada kepalanya.
"Gaet orang kaya, biar bisa naik mobil mewah," ucap salah satu yang lain. Satu orang lainnya tersenyum meremehkan Yumna. Yumna tidak menggubris apa yang dikatakan orang-orang tersebut, dia serba salah berkata telah menikah pun orang-orang tidak percaya karena tidak mengadakan pesta resepsi.
Apa aku harus mengadakan resepsi biar mereka percaya? gumam Yumna. Rasanya malas sekali jika sudah berdebat dengan orang-orang tersebut.
Yumna yang hanya ingin dikenal sebagai Yumna Azzura dan bukan Yumna Azzura Mahendra, rasanya sedikit sulit juga di mana kadang pertemanan dia dengan yang lain juga tidak seperti pertemanan teman-teman satu kantornya. Jelas pertemanan Yumna adalah dengan kalangan atas juga.
"Kenapa sih, masih pagi gini kayaknya dah bete aja?" tanya Mira, teman satu divisi Yumna.
"Gangguin lagi?" tanya Mira lagi.
"Ya, cuma sedikit ghibahin sih kayaknya, hehe." Yumna tertawa kecil, bersamaan dengan itu melihat dua wanita yang tadi masuk ke dalam ruangan dan masiih saja berbicara entah apa.
"Kamu tuh kayak selebriti aja soalnya. Semenjak kamu datang ke sini, kayaknya ada yang takut kesaingan," bisik Mira lagi dengan pelan.
"Kesaingan apa juga? Aku gak ngapa-ngapain juga. Cuma sama-sama karyawan di sini," ucap Yumna lagi lalu duduk di kursinya.
"Nanti siang makan siang bareng, atau makan sama ayang lagi?" tanya Mira.
"Sama ayang, dong. Ngajakin maksi bareng."
"Duh, enaknya yang punya ayang. Bisa makan bareng. Jauh juga disusul aja," ucap Mira dengan iri.
__ADS_1
"Makanya, cepetan nikah dong, biar ayang jemput buat makan siang juga," ujar Yumna, tersenyum kecil dan menggoda Mira.
"Nanti lah, masih banyak yang harus dipersiapkan," ucap Mira.
"Emang kenapa sih nikah kok cuma akad doang? Gak bikin resepsi? Kalau dilihat ayang punya mobil bagus masa sih gak bisa kasih resepsi sederhana juga?" tanya Mira ingin tahu. Sempat penasaran dirinya kemarin dan mencari tahu harga mobil yang dipakai Haidar. Mobil dengan merk ternama tersebut membuat dia syok dan bertanya-tanya siapa gerangan dan bagaimana Yumna mendapatkan laki-laki tersebut.
"Buat apa resepsi, buang-buang duit aja," jawab Yumna dengan santai.
"Ya, kan sederhana aja, Yumna. Biar tuh mulut yang gatel gak ghibah lagi. Tau gak kemarin waktu kamu gak masuk kerja, banyak yang ngomongin kamu," ucap Mira lagi.
"Udah lah, jangan digubris. Aku udah cukup biasa dengan ucapan dan ghibahan kayak gitu semenjak lama," ujar Yumna lagi.
"Asal kamu tau aja, Mir. Aku rujuk, makanya gak bikin resepsi, karena dulu sudah resepsi," terang Yumna kepada Mira.
Mira terkejut mendengarnya, sosok Yumna yang tidak terlalu terbuka membuatnya tidak terlalu tahu banyak dengan diri wanita ini.
"What? Jadi, kamu pernah nikah sama suami kamu? Cerai dulu terus menikah lagi?" tanya Mira menatap tajam Yumna. Yumna hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Mira.
"Ooh, pantesan kamu gak bikin resepsi. Aku dari kemarin bingung loh, kamu nikah kok gak ada pesta. Ya, sekarang ngerti sih kenapa gak adain resepsi," ucap Mira lagi sambil menganggukkan kepalanya.
"Makanya itu, aku cuma akad lagi karena dulu sudah pernah resepsi, masa mau resepsi lagi. Yang ada malu lah sama keluarga besar, hehe." Yumna tersenyum dengan malu. Mira kini mengerti, benar apa yang Yumna katakan, jika mungkin dirinya menjadi Yumna juga pastinya akan merasakan hal yang seperti itu.
...***...
Waktu makan siang telah datang, Yumna keluar dari lift hendak pergi keluar karena Haidar sudah menunggunya di mobil. Langkah kakinya cepat sehingga tidak sadar saat keluar dari lift tersebut dia menabrak tubuh seseorang.
"Aww!" Yumna terkejut, hampir saja terjatuh jika saja laki-laki itu tidak menahan kedua bahunya.
"Maaf, saya tidak melihat," ucap laki-laki tersebut.
"Maaf, saya juga tidak melihat. Ini salah saya karena terburu-buru," ujar Yumna. lalu keduanya terdiam saat melihat satu sama lain.
__ADS_1