YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
141. Tempat Perlindungan


__ADS_3

Mitha mendekat ke arah Haidar dengan wajah yang terlihat marah. Kedatangan wanita tadi telah membuat harinya menjadi kacau. Emosi menyelubung jiwanya.


"Mau apa lagi wanita itu kesini? Inget ya Haidar, Mami gak mau kamu berhubungan lagi dengan dia. Sedari dulu Mami gak suka sama dia, apalagi sekarang setelah tahu kalau dia itu Wanita Sundal!" ucap Mami lalu mendudukkan dirinya dengan kasar di kursi.


Haidar hanya diam menatap mami yang kini berwajah kesal, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Awas saja kalau dia datang lagi kesini! Mami tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika wanita itu masih keukeuh datang dan bertemu kamu!" Mami membentak dengan nada marah dan mengancam.


"Mi. Mami boleh tidak suka dengan dia, tapi kalau bisa Mami jangan kasar juga."


"Kamu masih mau membela dia?" lirik mami dengan tatapan sinis.


"Bukan aku mau bela dia, Mi. Tapi perlakuan Mami sama Vio tadi sangat keterlaluan!"


"Keterlaluan mana dia yang sudah khianatin kamu? Kamu sudah dia manfaatkan, dia yang sudah kamu perjuangkan berbuat seperti itu? Main dengan banyak lelaki? Mami gak habis pikir dengan kamu Haidar! Masih kamu punya hati dengan dia?!" Mami marah. Dadanya bergemuruh menahan amarah yang dengan cepat meluncur naik hingga ubun-ubun.


"Aku udah gak ada hati dengan dia, Mi. Tapi setidaknya perlakukan dia seperti manusia. Jangan kasar."


Mami kesal, karena Haidar terus membela wanita itu. Dengan gerakan cepat mami bangkit hingga kursi berderit bergesekan dengan lantai.


"Perlakukan dia seperti manusia? Bahkan banyak hewan yang bisa setia dengan satu pasangannya!" Dengan geram mami berbicara lalu melangkahkan kaki tanpa menoleh ke arah Haidar


"Mi! Aku hanya minta Mami gak kasar, apa itu salah?!" teriak Haidar dari atas brankarnya. Mami membuka pintu ruangan Haidar.


"Jika sampai Mami lihat dia ada di dekat kamu, mau itu kamu atau dia yang mendekat, lebih baik kamu Mami kirim ke tempat kakek dan tidak usah kembali!"


Brak!!


Pintu ruangan kembalinl tertutup. Haidar menghela nafas dengan berat. Mami sudah berbicara. Tidak ada seorangpun yang hisa mengubah keputusan Mami.


Bagaimana aku bisa mencari Yumna jika Mami mengirimku pada kakek? Batin Haidar.

__ADS_1


Vio keluar dari area rumah sakit. Dadanya bergemuruh dengan hebat. Tidak pernah dirinya dihina dan diperlakukan bak hewan seperti ini. Beberapa orang melirik ke arahnya, saling berbisik pada orang-orang ada di sampingnya.


"Itu model Vio McKenzie, kan?"


"Iya, aku dengar dia dipecat dari dunia model?"


"Hooh, karena ketahuan melakukan hal yang tidak senonoh dengan beberapa pria."


"Wanita bayaran?"


"Delapan puluh juta!"


"Kaya mendadak dong!"


Vio kesal mendengar omongan para wanita di dekatnya itu. Vio mengambil kacamata hitam lebar miliknya dan dengan langkah cepat dia keluar, menghentikan laju taksi dan masuk ke dalamnya.


Sebenarnya dia bisa saja menampol mulut para ibu itu dengan tangannya, tapi dia sedang tidak dalam posisi diuntungkan saat ini. Kariernya yang telah hancur membuatnya menjadi model dengan status kontroversial, sedang diburu media massa untuk diminta keterangan akan berita dirinya beberapa waktu yang lalu.


Haidar! Aku akan pastikan kamu akan kembali dengan aku! Lihat saja nanti! gumam Vio dalam hati. Dirinya sangat marah saat ini hingga sesak di dadanya ingin dia keluarkan.


"Pak. Arumaya Residence?" titah Vio pada Pak sopir. Pak Sopir segera melajukan kendaraannya ke arah dimana apartemen mewah itu berada.


Hanya butuh waktu tiga puluh menit, taksi sudah sampai di tempat yang dituju. Segera dia masuk ke dalam. Sekurity disana sudah sangat mengenal Vio dengan baik. Bahkan, segan dengan wanita itu.


Vio masuk ke dalam lift, tidak peduli dengan sapaan dan anggukan kepala yang ditujukan dua sekuriti padanya.


"Gak bosan bos besar pakai jasa dia." bisik salah satu dari dua orang pria itu.


"Kalau goyangannya masih hot ya gak akan bosan." temannya menjawab seraya tertawa.


"Emang lu tahu goyangannya kayak gimana?" tanya temannya lagi. Yang ditanya hanya mengendikan bahunya dengan cuek.

__ADS_1


"Gue gak tahu, dan gak mau tahu!" ucapnya.


"Idih, kalau dikasih gratis aja pasti mau!" ujar temannya.


"Najis dapet yang udah dicoba banyak timun. Mending punya istri gue longgar tapi cuma punya gue seorang!" ucapnya bangga.


Vio telah sampai di sebuah unit. Dia menekan beberapa tombol hingga pintu bisa ia buka. Semenjak terdepak dari dunianya Vio seakan hilang arah, hanya disinilah tempatnya pulang.


"Sudah pulang?" Vio tersentak saat mendengar suara bariton seorang pria. Lantas Vio mengangkat kepalanya untuk menatap pria yang kini membuka kedua tangannya lebar-lebar. Dengan langkah gontai Vio mendekat dan masuk ke dalam pelukan pria itu. Tidak ia pedulikan perut pria yang terlihat membesar seperti ibu hamil dan jambang kasar yang tumbuh di rahangnya. Kalung besar bak rantai kapal, jam tangan mewah dan beberapa cincin besar di jarinya membuat dia terlihat wah.


"Kenapa menangis, hum? Apa kamu kembali menemui mantan kamu?" tanya pria itu dengan mengangkat dagu Vio. Vio hanya diam lalu mengangguk pelan.


"Dia menolak kamu lagi?"


Viola mengangguk lagi.


Pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Tidak cukupkah kamu hanya dengan ku? Papi-mu? Aku bisa kasih apapun yang kamu mau, sebanyak yang kamu minta. Tidak perlu lah kamu terus menemui dia yang selalu menolak kamu!"


Vio terisak semakin hebat saat mendengar ucapan pria itu.


"Hei sweety. Jangan menangis! Aku gak suka kamu menangis untuk orang lain di hadapanku!" ucap pria yang usianya jauh di atas Viola.


"Maafkan aku, Pap. Tapi untuk menikah dan menjadi istri muda, aku tidak mau. Jujur saja hatiku ini masih ada untuk dia." tutur Vio.


"Apa aku kurang memuaskan mu? Permainan ranjangku kurang hebat? Hebat mana aku dengan dia?" Vio menggeleng.


"Aku tidak tau. Dia tidak pernah menyentuhku." Pria yang disebut Papi itu tertawa dengan keras.


"Tidak aku sangka, kamu bisa berganti banyak lelaki, bisa menaklukan berbagai jenis lelaki, tapi tidak bisa menaklukan kekasihmu sendiri?"

__ADS_1


Vio tidak ingin bicara lagi. Dia melesakkan kepalanya di dada berbulu pria yang menjadi pelindungnya kini.


__ADS_2