
Di sebuah kamar yang masih terang di tengah malam. Dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke kepala. Seorang pria yang tak lagi muda sedang menahan tawa melihat apa yang ada di tangannya. Siapa lagi kalau bukan Juan?
Dia sedang melihat satu persatu foto yang ada di galeri Syifa. Tak ada yang dia lewatkan sama sekali. Foto dan fideo dia putar, hingga matanya kini tertuju pada sebuah foto dengan dua orang wanita yang sedang berfoto selfie. Keduanya sedang tersenyum bersama dengan latar belakang sebuah pemandangan gunung.
Juan kini menyunggingkan senyuman. Dia mengelus layar hp di tangannya. Miris sekali rasanya. Mencintai orang dan Ibunya tidak merestui dirinya dan Yumna, hanya karena Yumna pernah menikah.
Juan kini memilih menyudahi aktifitasnya, rasanya menyesal juga sudah membuka hp ini dan melihat isi galeri yang ada di sana. Entah kenapa dirinya terlalu kepo, padahal selama ini dia bisa cuek dengan hal apapun yang ada di sekitarnya.
Juan menyimpan hp itu di atas nakas. Dia memutuskan untuk berbaring saja.
Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, tapi mata Juan tidak bisa ia pejamkan sama sekali. Bayangan saat tadi dia mencium kening Syifa masih saja membekas di dalam ingatan.
Juan kini memiringkan tubuhnya, mencoba mencari posisi yang nyaman untuknya tidur, tapi dia masih belum bisa memejamkan matanya juga.
"Astaga!" racaunya seraya bangkit untuk duduk. Dia menepuk kepalanya sedikit keras agar bayangan itu menjauh atau bahkan menghilang.
"Kenapa aku masih memikirkan dia? Kenapa juga tadi aku harus mencium dia?" Juan mengingat hal itu lagi, tanpa dia sadar dia memegang bibirnya.
"Ah, sial!"
Kini Juan bangkit dari kasurnya dan pergi ke lantai bawah.
Dapur telah gelap karena asisten sudah mematikan lampu di sana. Juan mengambil minuman kaleng yang sangat dia suka, bir dengan kadar alkohol sangat ringan, banyak dijual di supermarket dan minimarket. Dengan langkah berat, dia kembali ke kamarnya.
"Juan!" seru Lusi dari bawah tangga. Juan yang merasa dipanggil oleh sang mama kini menghentikan langkah kakinya di tengah tangga.
"Hem?" gumam Juan, minuman baru saja dia tenggak.
"Dari mana tadi kamu?" tanya Lusi.
__ADS_1
"Hanya cari angin," jawab Juan kesal.
"Benar hanya itu?" tanya Lusi curiga.
"Memangnya kenapa? Aku tadi mengantarkan wanita pulang ke rumahnya, Mama puas?!" Juan menjawab dengan kesal. Dia merasa mama terlalu curiga dan suka mengatur.
"Siapa?" tanya Lusi terkejut, walaupun dia mendapat info dari seorang teman yang melihat Juan di kafe,tapi dia tidak tahu dengan siapa Juan tadi.
"Tidak perlu tau, yang penting dia belum menikah, itu kan yang Mama mau?" jawab Juan cuek. Dia memilih meneruskan langkah kakinya ke lantai atas.
"Siapa, Juan?!" seru Lusi penasaran.
Juan tidak menjawab. Dia hanya melambaikan tangannya ke udara dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Udara yang ada di hidungnya dia hembuskan dengan kasar. Minuman kaleng yang ada di tangan dia tenggak sampe habis. Minuman ini sudah tidak bisa dia nikmati lagi hingga dalam beberapa detik saja sudah turun ke lambungnya.
Rasanya kesal sekali. Dia ingin kembali bebas saja jika Lusi terus mengaturnya. Mungkin kembali ke kehidupannya yang dulu akan terasa kembali menyenangkan. Juan hanya bisa meminta bantuan papa untuk membujuk mama.
"Bisa Papa bicara dengan Mama?" tanya Juan pada Darma. Darma hanya bergumam tanpa mengalihkan tatapannya dari pekerjaan yang ada di depannya.
"Soal apa?" tanya Darma.
"Papa juga sudah tau, jangan pura-pura gak tau," ucap Juan dengan kesal.
Darma menghela napasnya dan menghentikan kegiatannya. Dia simpan pulpen di atas kertas yang baru aja dia tandatangani.
"Kamu tau bagaimana Mama mu. Dia jika sudah bicara tidak mau di bantah," ujar Darma.
"Papa adalah kepala keluarga, bukannya seharusnya bisa berbicara dengan Mama? Kenapa Papa takut sekali dengan istri?" kesal Juan.
__ADS_1
Darma mendecih tak suka dengan apa yang di katakan putranya. "Bukan takut, tapi Papa terlalu sayang dengan Istri. Kamu harus bisa bedakan takut dan sayang, Juan!" peringat sang ayah.
Juan terdiam kesal.
"Tidak ada bedanya! Aku ingin Papa bilang sama Mama, jangan ikut campur urusanku. AKu hanya ingin bahagia aku tahu Yumna itu baik, tidak seperti dugaan Mama. Kenapa Mama mengejudge kalau orang yang sudah menikah adalah hal yang jelek?" ujar Juan dengan kesal.
Darma menghela napasnya sekali lagi.
"Dengar Juan. Kamu sudah pernah sakit hati dengan kisah masa lalu kamu, sekarang Mama mu idak ingin hal itu terulang lagi," ucap Darma.
Juan mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Ingat dengan apa yang terjadi dengan pacar kamu dulu?" tanya Darma pada Juan.
"Mama mu sudah punya feel yang tidak baik, dan itu terbukti bukan?" tanya Darma sekali lagi.
"Dan Papa juga ikut campur dulu dengan hubunganku," ujar Juan masih kesal.
"Papa hanya ingin menjaga hati anak Papa, dan apa yang dia lakukan? Jika dia memang benar suka dan sayang dengan kamu bukankah seharusnya dia setia? Dia hanya ingin memanfaatkan kamu saja, dan juga dia dan selingkuhannya ingin menghancurkan kamu, Juan. Lalu apa salah jika Papa balik menghancurkan mereka?" Kini Juan menunduk mendengar ucapan ayahnya.
"Bagi Mama, Yumna adalah wanita yang sudah pernah menikah, itu berarti dia tidak bisa menjaga pernikahannya. Baik kesalahan mungkin ada pada mantan suaminya atau pada Yumna sendri. Mama kamu hanay tida mau hal itu terjadi dengan kamu. Ya selain karena nama kita akan di pandang rendah oleh keluarga besar tentunya." Terang Darma.
Lagi-lagi hal itu yang Juan dengar. Dia tidak ingin mendengar ceramah sang ayah yang mungkin akan panjang lebar. Kedatangannya kesini ingin meminta bantuan, tapi justru malah di ceramahi.
"Jadi Papa juga punya pemikiran yang sama dengan Mama?" tanya Juan tak percaya. Darma hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak juga, jika memang dia yang terbaik buat kamu seharusnya kamu bisa buktikan pada Mama kalau Yumna tidak seburuk itu," ucap Darma.
Juan menghela napasnya dengan kasar. Membuktikan hal yang diangap Mama adalah salah, menjadi hal yang agak sulit untuknya, tapi dia harus bisa membuktikan pada Mama kalau Yumna bukan orang yang tidak baik.
Aku harus bertemu dengan Yumna! Juan berkata dalam hati.
__ADS_1
Darma menatap ke kedalaman mata sang potra, ada kesungguhan di dalam sana.