YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
201. Penolakan Lusi


__ADS_3

"Aku sudah gila!" gumam Juan pada dirinya sendiri.


Kini mobil mewah berwarna hitam itu memasuki halaman rumahnya yang besar. Seorang penjaga membukakan pintu guna Juan keluar dari dalam mobilnya.


Dengan wajah yang kesal Juan keluar membuat si sekuriti heran dan menundukkan wajahnya, dia tidak berani menatap wajah sang majikan.


Pintu rumah Juan banting dengan keras. Asisten yang terkejut dengan suara keras itu berlari untuk melihat siapa yang melakukan hal itu, perlahan satu persatu kembali ke tempat masing-masing setelah tahu bahwa yang melakukan hal itu adalah tuan muda mereka.


"Juan ada apa?" tanya sang Ibu yang melihat sang putra masuk dalam keadaan marah


"Tidak apa-apa," jawab Juan. Dia meninggalkan sang ibu dan bergegas ke lantai atas.


"Sudah, biarkan saja. Jangan hiraukan dia!" ucap Darma. Dia paham dengan keadaan sang anak yang seperti itu. Apalagi kalau bukan urusan hati? Jika urusan pekerjaan Juan tidak akan marah layaknya harimau mengamuk.


"Tapi Pa, apa yang terjadi dengan Juan?"


"Mama seperti tidak tahu saja. Ini urusan anak muda. Jangan ganggu dia selagi dia belum tenang." Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu kini bangkit dari duduknya dan pergi ke arah kamar.


Lusi, ibu dari Juan hanya melihat kepergian sang suami yang kini telah menutup pintu ruangan kerjanya.


Lusi ingin bertanya secara langsung pada sang putra, tapi benar apa kata suaminya, jika dia tidak boleh mengganggu Juan sekarang ini. Anak itu pati tidak akan mau bicara jika belum merasa tenang. Jadilah Lusi kini hanya berjalan mondar-mandir di bawah tangga.


"Tidak bisa dibiarkan!" ucap Lusi penasaran. Dia lebih memilih pergi ke ruangan sang suami untuk bertanya lebih lanjut.


"Pa!" Darma mengalihkan pandangannya dari pekerjaan yang ada di tangan. Melihat Lusi yang berjalan ke arahnya membuat pria itu kini menyunggingkan senyuman. Lusi memang tidak pernah bisa dibuat penasaran!


"Papa tau apa yang terjadi pada Juan?" tanya Lusi pada suaminya. Darma hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ada apa dengan Juan?"tanya Lusi lagi. Dia kini duduk di depan meja sang suami membuat pria itu kini tidak bisa bekerja.


Darma menghela napasnya dengan kesal. Selalu saja seperti ini jika sang istri menginginkan jawaban. Dia akan mengganggu suaminya agar tidak bisa melanjutkan pekerjaan.


Atau lebih parah, Lusi akan mengg*rayanginya tanpa mau bertanggung jawab melemaskan otot utama miliknya.


"Aku tidak bisa bekerja!" ucap Darma pada sang istri.


Lusi bergeming di tempatnya, dia kini menyilangkan kedua tangannya di depan dada. menatap sang suami yang kini hanya menggaruk belakang kepala yang tak gatal.


"Oke, aku kan cerita," ujar Darma lalu dia menari tubuh ramping sang istri untuk duduk di pangkuannya.


"Juan sedang suka dengan seorang wanita," ucap Darma.

__ADS_1


"Ha? Siapa?" tanya Lusi tak percaya, enang bercampur penasaran. Dia menatap suaminya berharap ada jawaban selanjutnya.


"Tahu anak Bima Satria Mahendra?" tanya Darma pada sang istri.


"Lily?" tanya Lusi lagi. Darma mengernyitkan dahinya bingung.


"Mahendra corp? Bima yang istrinya bernama Lily itu?" tanya Lusi lagi.


"Aku gak tau siapa nama istrinya," jawab sang suami kesal.


"Juan menyukai putri keluarga Mahendra."


"Apa?! yang benar Juan menyukai dia? Ya ampun! Dia masih kecil Mama gak setuju Juan dengan dia! Apa yang anak kita pikirkan? Anak itu masih kecil dan juga polos!" seru Lusi dengan menggelengkan kepalanya.


Darma semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan istrinya itu.


"Mama gak setuju, Pa. Mama gak setuju Juan dengan anak itu! Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau Juan dengan gadis polos dan sembrono seperti dia?!" ucap Lusi pada suaminya.


"Polos bagaimana? Sudah pernah menikah gitu mana ada wanita polos?" tanya Darma pada Lusi. Lusi menatap sang suami dengan bingung.


"Eh, anak Bima yang mana? Anak gadis Bima yang belum menikah kan Syifa."


"Jadi Bima ada anak gadis lain?"tanya Darma. Lusi mengangguk.


"Kalau memang benar Juan mau sama Syifa-Syifa itu akan lebih baik. Sayangnya anak kita suka dengan anak Bima yang bercerai kemarin." Lusi lebih syok lagi mendengar ucapan suaminya barusan.


"Yumna?" tanya Lusi tak percaya.


Darma menganggukkan kepalanya.


"Iya. Juan suka dengan anak Bima yang pernah menikah."


Kepala Lusi rasanya langsung sakit mendengar hal itu. Masih mendingan Syifa daripada Yumna. Yumna pernah menikah, Bagaimana tanggapan keluarga besarnya jika mengetahui anggota keluarga tersayang menikah dengan wanita berstatus pernah menikah.


"Ah, ya ampun!" keluh Lusi saat kepalanya semakin berdenyut.


"Kita jodohkan Juan saja dengan yang lain, Pa!" ucap Lusi pada suami.


"Darma mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi. Aku tidak berani. Juan mengajukan syarat, jika kita inginĀ  dia tinggal di rumah dan memegang perusahaan, kita harus izinkan dia untuk mengejar Yumna.


"Astaga!" Lusi memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut hebat. Dia lalu berdiri dengan berpegangan pada tepian meja.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Darma.


"Mama mau tidur saja. Kepala Mama pusing!" ujar Lusi. Dia kini menutup pintunya dari luar, Darma menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali. Dia merasa akan ada sesuatu antara istri dan anaknya.


"Juan, perjuangan kamu akan lebih berat lagi karena sepertinya Mama tidak mengizinkan," gumam Darma pada dirinya sendiri.


*****


Lusi tidak bisa istirahat dengan baik. Dia mengingat apa yang tadi dia bicarakan dengan suaminya. Lusi kini berdiri dan keluar dari dalam kamarnya. Degan langkah kakinya yang cepat, wanita itu kini telah berada di depan pintu kamar Juan.


"Juan!" teriak Lusi seraya menggedor pintu kamar sang anak.


"Juan. Mama mau bicara!" teriak Lusi lagi.


Juan yang sedang berbaring di atas kasurnya kini berdiri untuk membukakan pintu.


"Ada apa?" tanya Juan pada sang mama yang terlihat aneh wajahnya. Biasanya sang mama sedang marah jika dengan raut wajah yang seperti ini.


Lusi tidak menjawab. Dia masuk ke dalam kamar Juan dan duduk di tepi ranjang putranya itu.


"Ada apa?" tanya Juan sekali lagi. Dia kini ada di depan sang Ibu yang duduk seraya melipat kedua tangan di depan dada.


"Jauhi Yumna!" seru Lusi menatap tajam sang anak.


Dahi Juan mengerut mendengar titah dari sang mama.


"Mama gak suka kamu dekat dengan Yumna apalagi kamu mau membawa wanta itu ke dalam keluarga kita!"


Juan kini duduk di samping sang mama. Dia cukup mengerti dengan sifat sang mama.


"Ma, apakah tidak ada pengecualian? Aku suka dengan dia."


"Tidak! Tidak ada pengecualian! Dia sudah pernah menikah. Bagiamana tanggapan orang-orang kalau anak Mama dengan wanita yang sudah pernah menikah?" tanya Lusi tetep tidak terima.


"Ma, Yumna itu wanita yang baik. Sudah pernah menikah bukan berarti kalau dia itu tidak baik!" mohon Juan.


"Enggak! mau dia baik atau tidak, Mama tetap gak akan setujui kamu dengan seorang yang pernah menikah!" teriak Lusi dengan kencang hinga membuat Juan sakit telinga.


*******


Hai akak yuk mampirin juga kesini.

__ADS_1



__ADS_2