YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
202. Eh Juan ... Kok, Aduh!


__ADS_3

Judul Versi Author 👆👆👆🙈


"Enggak! Mau dia baik atau tidak, Mama tetap gak akan setujui kamu dengan seorang yang pernah menikah!" teriak Lusi dengan kencang hingga membuat Juan sakit telinga.


"Ma. Aku cuma su ...."


"Enggak, Juan! Mama tetap gak setuju! Kalau kamu mau, masih banyak yang fresh dan gress. Bukan second! Mama akan carikan kamu dengan wanita lain yang sepadan dengan kamu. Yang belum pernah menikah. Yang tentunya tidak akan membuat kamu malu nanti!" ujar Lusi dengan kesal.


Lusi ini bangun dari duduknya dan menatap sang putra dengan tajam.


"Ma, aku gak mau! Aku sudah cocok dengan dia."


"Tapi dia yang gak cocok sama kamu!" seru Lusi dengan emosi.


"Dia baik, Ma!"


"Enggak buat Mama!" teriak Lusi.


"Ma!"


"Stop debat! Mama gak mau dengar itu lagi, Juan!" teriak Lusi pada sang putra.


"Mama bilang enggak, kamu harus jauhi dia!" seru Lusi dengan marah. Lusi tidak mau berdebat lagi dengan anaknya. Dia memilih untuk pergi dari kamar itu.


"Ma!" panggil Juan, tapi sang mama tidak menggubrisnya sama sekali. Pintu itu ditutup dengan keras oleh sang mama.


Juan menghela napasnya dengan lelah. Berat hati dia mengikuti kata-kata Lusi.


"Tidak, aku tidak akan menyerah. Aku akan dapatkan Yumna dan juga dapatkan restu dari mama!" gumam Juan. Dia kini melemparkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk.


Juan menatap langit-langit kamar dengan seksama. Nuansa putih abu yang mendominasi ruangan itu tidak lantas membuat dirinya menjadi tenang berpikir. Biasanya kamar ini adalah tempat ternyaman untuk dirinya, tapi kali ini Juan sama sekali tidak ingin berada di sini.


"Akh!" D*sah Juan dengan menghembuskan napasnya kasar lewat mulut. Rasanya pikirannya tidak karuan saat ini. Ucapan Lusi tadi membuat semua rencana yang ada di dalam kepala Juan ambyar seketika. Rencana-rencana indah yang kemarin-kemarin terpikirkan olehnya.


"Apa hanya karena status saja?" gumam Juan pelan.


"Memangnya ada yang salah dengan statusnya pernah menikah? Itu hanyalah status."


Jika saja Juan bisa mengatakan hal yang seperti itu kepada sang mama, tapi jelas Lusi tidak mau mendengarnya lagi. Keputusan sang mama sudah bulat.

__ADS_1


Juan kini bangkit dan mengambil jaketnya serta dompet dan juga kunci mobil. Segera dia melarikan kakinya ke lantai bawah.


"Mau ke mana kamu?" tanya Lucy kepada Juan.


Juan hanya melirik sedikit dan tidak menanggapi pertanyaan ibunya. Dia memilih pergi daripada kembali berdebat yang tidak akan membuatnya menang sama sekali.


"Juan! Mau ke mana kamu!" teriak Lusi kepada Juan. Akan tetapi, putranya itu tetap melangkahkan kakinya membuat Lusi menjadi kesal.


"Anak itu!" geram Lusi.


Darma baru saja keluar dari kamarnya dan melihat kejadian barusan. Dia mendekat pada sang istri dan mencoba menenangkannya.


"Sudahlah biarkan saja apa yang dia mau. Yang penting anak kita tidak pergi lagi seperti dulu. Apa kamu mau dia terus-terusan ada di luar sana?" tanya Darma.


"Tapi Pa, Juan dengan ... akh! Aku tidak rela Juan dengan wanita yang sudah pernah menikah. Aku tidak mau!" seru Lusi protes kepada sang suami.


"Cinta itu datang tanpa diduga. Apa yang bisa kita lakukan kalau putra kita menyukai seseorang seperti dia? Jika Mama mempunyai calon yang lain juga belum tentu Juan akan suka." Darma menepuk lengan sang istri dengan pelan.


Lusi menghela nafasnya dengan kasar. "Aku tetap tidak rela!" ucapnya kesal kemudian berjalan ke arah kamar. Kali ini Darma yang malah napasnya dengan kasar. Istri dan anaknya mempunyai sifat yang hampir sama, sama-sama keras kepala.


Darma memilih pergi ke dapur untuk mengambil air dingin.


*


Mobil berhenti di sebuah tempat. Juan segera memarkirkan kendaraannya di sana.


Perlahan dia melangkahkan kakinya ke dalam cafe yang cukup ramai. Perutnya kini lapar dan ini sudah masuk jam makan malam. Juan segera mencari tempat duduk yang kosong.


"Tolong tinggalkan kami!" Suara seseorang terdengar kesal.


"Sudah aku bilang tidak mau kamu ganggu, kenapa juga kamu masih mengikuti kami?" Suara itu cukup mengganggu. Keadaan kafe yang sepi membuat suara itu terdengar sedikit keras.


"Kami hanya sekedar ingin dekat dengan kamu. Jangan sombong jadi perempuan! Kamu tidak tahu siapa orang tuaku? Kamu beruntung karena aku yang mengejar kamu, karena biasanya orang lainlah yang sering mengejarku!"


Juan masih diam tidak ingin mengalihkan pandangannya sama sekali dari hp-nya. Kejadian yang ada di belakangnya sama sekali tidak membuat dirinya tergugah untuk bangkit.


"Terserah mau kamu anak siapa juga aku tidak peduli! Aku tidak suka dengan kamu maka pergilah!" usir gadis itu.


"Kamu sudah dengar kan? Syifa tidak mau lagi ketemu sama kamu, jadi kamu pulang saja!" Suara gadis yang lain terdengar ikut mengusir pemuda itu.

__ADS_1


Juan yang merasa kenal dengan nama yang disebut, kini menolehkan kepalanya ke arah belakang.


Dia kenal dengan salah satu dari dua gadis yang ada di sana. Ternyata adik dari Yumna. Gegas kini Juan bangkit dari duduknya dan mendekat ke sana.


Terlihat Syifa yang sedang menarik tangannya dari genggaman pemuda itu.


"Syifa? Kenapa kamu ada di sini?"


Syifa yang merasa ada seseorang memanggilnya mengangkat pandangannya dan tersenyum senang melihat Juan ada di sana.


"Kak Juan!


"Apa yang sedang kamu lakukan dengan pacarku? Pergi dari sini!" usir Juan kepada pemuda itu.


Syifa dan Rani -teman kuliahnya-, melongo mendengar apa yang diucapkan oleh Juan.


"Pacar Om? Gak mungkin, jangan ngarang kamu, Om!" seru pemuda itu dengan tidak percaya.


"Iya pacar saya, kenapa? Apa kamu tidak percaya?" tanya Juan lagi.


"Iya, aku memang pacarnya, maka dari itu aku tidak mau menerima kamu karena aku sudah punya pacar!" kini Syifa yang berbicara dengan nada seru kepada pemuda itu, menggunakan kesempatan ini untuk menghindar dari pemuda yang selalu mengejar dan mengganggunya.


"Tidak mungkin umur kalian itu jauh. Tidak mungkin kalian berpacaran!" pemuda itu tidak percaya.


"Jadi apa aku harus membuktikan?" Juan bertanya kepada pemuda itu. Akan tetapi, sebelum pemuda itu menjawab Juan sudah maju ke dekat Syifa dan mencium kening sifa dengan lamat.


Tubuh Syifa seketika membatu dengan apa yang baru saja dilakukan oleh juan. Begitu juga dengan Rani yang melihatnya tidak percaya.


"Kamu mau bukti apa lagi? Apa aku harus mencium dia di depan kamu sekarang juga?" Juan menatap pemuda itu dengan tatapan yang dingin seraya melepaskan tangan itu dari Syifa. Dia menggenggam nya dengan erat sehingga membuat pergelangan tangan pemuda itu menjadi sakit.


"Apa selain aku harus menciumnya, tanganmu juga harus ku patahkan terlebih dahulu baru kamu akan percaya?"


"Jangan sok menjadi jagoan. Apa kamu tidak tahu siapa ayah kami?" tanya teman dari pemuda itu.


"Siapa? Pengacara? Menteri? Presiden?" tanya Juan padanya. Dia tetap tidak melepaskan tangan pemuda itu darinya.


"Ayah kami seorang pengusaha yang terkenal! Bisa membuatmu jatuh saat ini juga!" Ancam pemuda yang tadi berbicara. Kini dia menarik tangan Juan dari temannya itu.


Satu pukulan dilayangkan kepada Juan dengan marah, tapi Juan bisa menepis pukulan dari anak kecil yang ada di depannya. Seketika Juan menarik kerah anak itu dan menghempaskannya ke lantai.

__ADS_1


"Aku tidak peduli dengan siapa ayah kalian. Pergi dari sini sebelum ku patahkan tangan dan kaki kalian!" ucap Juan dengan nada yang dingin. Kedua pemuda itu kini berdiri dan pergi dari sana dengan takut.



__ADS_2