YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
07. Dunia yang sempit?


__ADS_3

Malam ini Yumna ada janji dengan Tia, sahabatnya sedari SMP. Mereka bertemu di kafe, tak jauh dari kantor Bima.


"Hai, sudah lama menunggu?" Tia baru datang, dan memeluk sahabat yang sudah lama tidak ia temui.


"Baru saja, setengah jam!" ucap Yumna kesal.


"Maaf, maaf." Tia duduk di seberang Yumna.


"Mana Ronald? Dia tidak ikut kesini?" tanya Yumna. Ronald adalah kekasih Tia semasa SMA, dan berlanjut hingga sekarang dan sebentar lagi mereka akan menikah.


"Ronald masih sibuk." Tia mengeluarkan undangan yang cantik pada Yumna. "Datang ya!"


"Ciee, ciee... yang bentar lagi mau belah duren!" goda Yumna membuat pipi Tia memerah.


"Ish, kamu apaan sih?!" Tia malu dan juga bahagia.


"Eh, Na. Kamu gk salah penampilan kayak gini?" tanya Tia menunjuk penampilan sahabatnya.


"Memang kenapa?" tanya Yumna balik.


"Ya gak pa-pa. Cuma aneh aja. Culun, hehe." Tia menutup mulutnya.


Yumna pun ikut terkekeh. "Sengaja!"


Tia menganggukan kepalanya.


"Kamu tuh aneh, udah punya wajah cantik malah di buat culun, entar gak laku loh!" Tia memperingatkan. Yumna hanya mengangkat bahu cuek.


"Kamu tahu kan sedari dulu gimana keadaan aku. Banyak yang deketin cuma karena aku anak papa. Aku gak mau terus-terusan kayak gitu, dalam bayangan papa terus." curhat Yumna.


"Yah emang mau gimana lagi Na. Hidup kamu udah di gariskannya begitu, bersyukur, di luar sana malah banyak yang kekurangan, kekurangan fisik, kekurangan duit. Lah ini punya fisik bagus, punya duit banyak malah pura-pura melarat!" ejek Tia.


"Hehe... aku kan cuma mau cari pasangan yang tulus aja Tia, gak salah kan?" ujar Yumna sambil membentuk huruf V dengan tangannya.


Mereka pun berbincang sambil menikmati hidangan yang mereka pesan. Tidak ada pembahasan tentang Aldy, karena Tia tahu Aldy hanya akan membuat Yumna badmood.


*


Yumna menunggu taksi untuk pulang. Dengan sabar ia menunggu di pinggir jalan. Tia sudah lebih dulu pulang di jemput Ronald.

__ADS_1


Yumna tersentak kaget saat seseorang yang berlari dan menarik tangannya, membawanya berlari ke sebuah gang kecil yang gelap. Terlalu kaget hingga Yumna tidak mampu berteriak.


Seseorang dengan perawakan tinggi kemudian mengungkungnya, wajah mereka sangat dekat. Yumna terdiam. Bukan takut dengan orang yang ada di depannya Yumna malah teringat seseorang saat melihat mata coklat terang di hadapannya, meski dia memakai masker yang menutupi wajahnya.


Nafas mereka sama-sama terengah karena berlari tadi. Mereka diam dan saling menatap.


"Ah, yang benar saja! Woyy, kalau mau ciuman cari tempat lain sana. Hotel biar sekalian bisa bercinta!!" teriak seorang pria dari ujung gang.


"Sudah biarkan saja!" timpal suara yang lain. "Mereka tentu tidak punya uang untuk menginap di hotel, makanya mereka bercinta disini!!" di lanjutkan dengan tawa terbahak. Lalu tawa itu menghilang seiring dengan langkah mereka yang menjauh.


Yumna tersadar. Wajahnya merah karena mendengar ucapan pria tadi yang menurutnya tidak sopan! Dan itu karena orang ini!


"Dasar kurang ajar!!" teriak Yumna sembari mendorong kasar dada pria di hadapannya hingga mundur satu langkah.


"Aww, sakit Yumna!" Yumna kembali terkejut karena mendengar namanya di sebut. Yumna mendekat pada pria itu dan segera menarik masker dari wajahnya.


"Haidar?" Yumna tak menyangka pria di depannya ini pria yang sama, yang menabraknya pertama kali saat di Singapura. Pria yang selalu membawanya ikut berlari tanpa sebab. Pria menyebalkan yang selalu membuat moodnya down. Pria yang.... Ralat, pemuda! Sebutan pria tidak cocok untuk orang seperti Haidar. Apa dunia sesempit ini?!


"Hai! Ketemu lagi kita!" Haidar melambaikan tangannya dengan senyum yang sama menyebalkannya seperti dulu.


"Mimpi apa gue ketemu elo disini?" sarkas Yumna pada Haidar, lalu menubruk pundak Haidar dan melewatinya.


Yumna masuk ke dalam, namun tak di sangka Haidar juga ikut masuk ke dalam sana.


"Ih ngapain elo ikut masuk?" tanya Yumna heran.


"Hehe, ikut pulang!" ucap Haidar dengan senyuman manisnya, tapi terlihat sangat menyebalkan untuk Yumna.


"Enggak-enggak. Ini taksi gue. Turun sana cari taksi lain!" Yumna mendorong tubuh Haidar agar keluar, tapi Haidar tetap bergeming di tempatnya.


"Please deh Na, tolong biarin gue ikut pulang. Rumah gue jauh, dan gue gak punya uang. Hehe."


"Berhenti tersenyum. Jijik lihatnya!" sarkas Yumna membuat Haidar memanyunkan bibirnya.


"Baru elo cewek pertama yang bilang kalau senyum gue ini jijik. Padahal senyuman yang jijik itu bisa bikin kepikiran loh. Ati-ati aja kalau nanti malam bakal mimpiin gue, gue gak mau tanggung jawab ya!"


"Ish, siapa yang mau mimpiin elo. Najis gue!" ucap Yumna.


"Maaf, mba, mas. Kita mau pergi kemana?" tanya sopir melerai perdebatan keduanya.

__ADS_1


Yumna dan Haidar menyebutkan alamat masing-masing.


"Yang mana, yang benar ini?" tanya pak sopir bingung pasalnya alamat yang di sebit berbeda.


"Ya udah ke alamat kamu dulu deh, Na!" Haidar mengalah.


"Eh enggak-enggak! Ke alamat elo aja duluan. Biar nanti gue bayar sekalian!" jawab Yumna kesal. Bisa gawat kalau taksi ke rumahnya duluan. Bisa-bisa Haidar tahu soal Yumna.


"Oke deh, pak ke jalan XX ya." Haidar menyebutkan nama jalan.


"Baik mas." sopir pun melajukan mobilnya dengan kecepatan konstan.


"Masih sama lo, di kejar rentenir?" tanya Yumna Sarkas. Haidar hanya terkekeh tanpa menjawab, sudah pasti membuat Yumna yakin kalau pemuda ini masih saja bermasalah seperti dulu.


"Kerja deh makanya, jangan kebanyakan ngutang buat ajak cewek pacaran! Mau gimana jadi orang kaya kalau ngajak cewek jalan pake duit pinjeman!"


"Hehe, abis gimana dong. Gue kan masih pengangguran." jawab Haidar dengan raut muka memelasnya.


"Eh tuh ijasah kan S2 jebolan Singapura, masa sih gak bisa elo pake, elo nya aja yang malas, kerjaan tuh banyak!" cerca Yumna. Lagi-lagi Haidar hanya menyengir, merasa sia-sia, Yumna pun menepuk dahinya. Memberi tahu Haidar percuma baginya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bahkan hingga mulutnya berbusa pun Haidar hanya menganggapnya seperti angin.


Yumna merasa heran bagaimana pria seperti Haidar bisa mendapatkan beasiswa, padahal banyak di luaran sana yang ingin mendapat beasiswa malah tidak mendapatkan kesempatan itu. Sedangkan pria ini sudah mendapat kesempatan bagus malah tidak di pergunakan sebaik-baiknya. Apa mungkin Haidar hanya menganggap S2 nya untuk ajang keren semata?


"Eh Na, kamu kerja dimana sekarang?" tanya Haidar membuka pembicaraan.


"Emangnya kenapa? Perusahaan gue gak bakalan nerima pegawai yang males kayak elo!"


"Woww. Woww... just calm beib! Ngegas terus deh lo dari tadi!" Haidar mengangkat tangannya di depan dada, Yumna sudah seperti singa betina yang mempertahankan wilayahnya.


"Heran, sedari dulu kalau ngomong ngegas mulu, ntar darah tinggi loh neng!" celetuk Haidar membuat Yumna meradang.


"Itu karena elo! Elo tuh dari dulu nyebelin dan bikin gue badmood tahu gak?!"


"Enggak. Yang gue tahu kalau gue tuh selalu di kangenin sama orang, apalagi cewek-cewek cantik. Elo juga tahu kan kalau waktu kuliah dulu gue di kelilingin banyak cewek cantik?"


"Hemmm, karena mereka katarak. Gak bisa lihat yang jelas makanya mereka gak bisa bedain mana artis mana ibl*s!"


"Woaaahh mulut lu neng, saring woy. Saring!!" peringat Haidar. Yumna hanya cuek mendengar pria di sampingnya, berbeda dengan pak sopir yang bingung dengan pasangan muda mudi penumpangnya itu.


"Pacaran tapi musuhan. Anak muda zaman sekarang beda banget sama dulu. Apa sekarang memang trending nya begitu ya?!" monolog pak sopir.

__ADS_1


__ADS_2