
Haidar jadi keki sendiri mendengar apa yang Yumna katakan barusan, berharap mendapat iba, malah Yumna menertawakan dirinya.
"Ya ampun, punya calon pacar gini amat, ya! Bukannya kasihan malah di tertawakan," ujar Haidar antara kesal dan juga malu.
Apa yang Yumna katakan memang benar. Dirinya telah menyakiti hati Yumna di masa lalu.
Yumna tertawa mendengar Haidar yang kesal seperti itu. Dia menepuk kasar pundak Haidar yang memilih kembali fokus pada kemudinya.
Mobil kini sudah sampai di depan rumah Yumna. Gadis itu turun dari mobil dengan membawa kantong plastik makanan yang ada di tangan. Begitu juga dengan Haidar yang ikut turun dari mobilnya.
"Aku masuk dulu, ya. Makasih makanannya." Tunjuk Yumna mengangkat makanan yang ada di tangannya.
Haidar mengangguk, meski dia berat untuk melepaskan Yumna, tapi mau bagaimana lagi? Yumna belum menjadi miliknya hingga dia harus lebih bersabar untuk bisa membawa Yuma kembali ke rumah.
"Kalau saja bisa aku masuk ke dalam sana dan mendapatkan maaf juga restu dari kedua orang tua kamu," ujar Haidar dengan sendu. Yumna tersenyum, merasa bersalah dengan apa yang dia dengar.
"Sabar, ya. Aku gak tau gimana respon mereka tentang hubungan kita ini," ucap Yumna, Haidar menganggukkan kepala.
"Aku akan sabar, tapi kalau terlalu lama juga bagaimana? Aku takut nekat datang dan membuat mereka terpaksa merestui hubungan kita," ujar Haidar.
__ADS_1
Yumna mentap Haidar dengan bibir yang cemberut,"Itu sama saja, Haidar! Kamu gak bisa saber!" cerca Yumna. Haidar terkekeh mendengar ucapa calon istrinya.
"Aku masuk dulu, ya. Kamu hati-hati di jalan," ucap Yumna lagi.
Haidar menganggukkan kepalanya. "Aku akan hati-hati, kamu juga hati-hati ya," ucap Haidar juga pada Yumna. Kening Yumna mengerut bingung.
"Aku hati-hati kenapa?" tanya Yumna.
"Hati-hati gak bisa tidur karena inget aku," ujar Haidar dengan kekehan di bibirnya. Yumna yang mendengar itu mencubit lengan Haidar cukup keras. Dia kira Haidar mengatakan dia hati-hati untuk apa.
Haidar meringis kesakitan karena ulah Yumna ini.
"Sakit!" keluhnya.
"Aku serius, Yumna," ujar Haidar seraya mendekatkan dirinya pada Yumna.
"Aku serius, kamu harus hati-hati. Kalau kamu gak bisa tidur, kamu boleh telepon aku, chat aku, gangguin aku juga gak apa-apa. Tapi yang kamu gak boleh adalah dekat dengan lelaki lain, telepon laki-laki lain. Aku bisa cemburu kalau lihat kamu dekat dengan laki-laki lain," ucap Haidar membuat dada Yumna kini berdebar dengan kencang.
Yumna tak ingin dadanya sesak dan kemudian meledak, dia mundur satu langkah dari Haidar hingga membuat pria itu menatap Yumna bingung.
__ADS_1
"Kalau itu ... apa kamu gak percaya dengan aku?" tanya Yumna pada Haidar. Sedikit kecewa tentu ada, karena Haidar sepertinya belum percaya sepenuhnya. Yumna bukan wanita yang gampang dekat dengan pria lain.
"Aku percaya sama kamu, tapi aku gak mau rasa cemburuku ini membuat kamu menjadi takut. Kamu tau kan aku bagaimana?" tanya Haidar.
Yumna menganggukkan kepalanya.
"Aku tahu Haidar, kamu itu kalau sudah mengamuk seperti monster!" ujar Yumna degan senyuman. Yumna sangat tahu sekali dengan perangai Haidar jika sudah marah.
Haidar menjadi malu sendiri, memang benar jika dirinya sedang marah tidak bisa di tahan lagi, kasar dan juga sebagainya.
"Aku hanya ingin mempertahankan cintaku sekarang ini."
"Kalau aku minta kamu berubah sedikit demi sedikit apa kamu mau?" Yumna menatap Haidar dengan lekat.
"Aku ingin kamu sedikit menahan diri untuk tidak cepat marah."
Angin bersemilir membawa hawa dingin yang menyelimuti mereka.
"Sudah ya, aku masuk dulu, ini sudah hampir jam sepuluh malam." pamit Yumna pada Haidar.
__ADS_1
"Selamat malam, Haidar."
"Selamat malam."