
"Dua, Sayang. Kita akan dapat anak kembar," ucap Haidar lagi dengan senyuman yang lebar pada bibirnya. Dia sungguh sangat bahagia sekali mendapatkan kabar gembira ini. Apalagi dua anak sekaligus, mami dan papinya pasti akan sangat suka dengan berita ini.
"Aku akan jadi ibu?" lirih Yumna masih tidak percaya. Haidar hanya menganggukkan kepala.
"Iya. Kita akan jadi ayah dan ibu dari dua orang anak, bahkan aku yakin akan lebih," ucap Haidar dengan perasaan yang bercampur baur tak karuan.
Dokter tersenyum geli mendengar ucapan Haidar. Ini saja belum lahir, sudah menyebut akan punya banyak anak saja. 'Bisa jadi, Lily juga punya anak empat, mungkin Yumna akan punya lebih," ujar dokter. Syukurlah pasangan ini akhirnya akan memiliki anak dua sekaligus.
Yumna memeluk Haidar dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada suaminya itu. Karena bahagia dia sampia menangis tersedu.
Setelah selesai diperiksa, mereka berdua pulang ke rumah dengan perasaan senang yang tiada tara. Tak henti Yumna memegang perutnya yang masih rata, dia tidak menyangka jika akhirnya apa yang dia inginkan sedari lama terwujud juga. Bukan hanya satu, tapi dua sekaligus.
"Aku juga mau pegang," ucap Haidar mengulurkan tangan hendak mengelus perut sang istri. Akan tetapi, Yumna menepis tangan Haidar sedikit keras.
"Fokus sama jalanan, Haidar," tegur Yumna, jalanan siang ini memang masih ramai lancar, takut jika tidak fokus akan membuat Haidar menabrak seseorang.
__ADS_1
"Aku cuma mau ngelus."
"Nanti di rumah," ujar Yumna. Haidar merasa kesal, tapi dia juga tidak bisa protes, mengingat apa yang dikatakan oleh dokter tadi jika wanita hamil seringkali memiliki mood yang naik turun.
Mobil Haidar lajukan dengan kecepatan yang sangat sedang, sampai-sampai Yumna merasa bosan karena melihat angka yang ada di depan Haidar hanya bertahan di angka tiga puluh.
"Haidar. Kalau kecepatan segini kapan bisa sampai ke rumahnya?" tanya Yumna kesal, gregetan rasanya dan ingin mengambil alih kemudi itu.
"Nanti juga sampai, lihat jalan ini banyak berlubang. Tuh, aku kasihan sama kamu kalau bawa mobil ngebut nanti kena jalan berlubang perut kamu bisa sakit," ucap Haidar sambil menunjuk jalanan berlubang yang ada di depannya. Yumna memutar bola matanya malas.
Haidar terkekeh mendengar ucapan sang istri. "Itu kan beda lagi, Sayang. Nggak tau kalau udah ada dua kecebong di dalam sana. tau sekarang udah ada kecebong nggak berani buat kenceng-kenceng," ujar Haidar antara senang dan merana. Mana bisa main lompat-lompat di atas Yumna kalau tidak boleh terlalu bersemangat. Apa lagi dia sudah terbiasa dengan berbagai macam gaya yang membuat Yumna ah-uh tidak jelas.
"Haha, cuma buat tiga bulan ke depan," ucap Yumna menepuk paha Haidar.
Haidar memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Itu lama, lah. Aku mana bisa nggak masuk keluar lama-lama. Seminggu tiga kali aja rasanya kurang. Kalau bisa mah pengennya setiap hari, tiga kali sehari," ucap Haidar yang kemudian membuat Yumna mencubitnya sedikit keras di bagian paha itu.
"Sakit Yumna, jangan KDRT," ucap Haidar meringis sakit.
"Lagian, kamu nih. Main ninu-ninu dah kayak makan obat aja. Overdosis nanti." Kesal Yumna.
"Bukan overdosis, tapi overenak," jawab Haidar sekenanya, yang kemudian mendapatkan pukulan kecil di pundaknya.
"Udah, ah. Kamu tuh ya malah ngomongin yang kayak gini. Kan jadi mau," tutur Yumna, sadar dengan ucapannya dia menutup mulut dengan kedua telapak tangan.
"Apa? Mau?"tanya Haidar melirik ke arah istrinya, rasanya tidak percaya jika Yumna ....
"Malu, Haidar. Malu. Kamu salah dengar, ah," ujar Yumna seraya mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Haidar menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Perasaan tadi bilangnya mau deh,' batinnya.
__ADS_1