YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
162. Kangen Itu menyiksa


__ADS_3

"His ... Elu nyebelin banget sih. Diajak bicara juga malah munggungin gue! Jangan sok kalem deh Lo!" Azkhan bicara dengan nada malas sambil menusuk punggung Arkhan dengan menggunakan ujung telunjuknya.


"Diem deh. Gue mau tidur!" Arkhan mencoba membuat adiknya diam.


"Heh, gue ini lagi kepikiran aja sama Kak Yumna. Dia balik kesini lalu gimana dengan hati dia? Apa udah bisa move on dari si brengsek itu?" tanya Azkhan dengan lirih. Arkhan hanya diam saja tahu kepada siapa kata kasar itu ditujukan, Arkhan juga memikirkan hal itu. Dia sangat memikirkan Yumna meski tidak dia perlihatkan kepada semua orang.


"Gak tau. Udahlah. Itu urusan Kak Yumna. Jangan pernah urusin begituan. Kita hanya harus mendukung saja dengan keputusan dia."


Azkhan hanya diam setelah mendengar penuturan kakaknya itu


"Ar. Ar!" seru Azkhan memanggil.

__ADS_1


"Elo dah tidur?" tanya Azkhan, tak ada jawaban dari saudaranya itu. Azkhan mendecih sebal. Dia memutar tubuhnya ke samping hingga kini mereka saling berpunggungan.


Hingga sebesar ini. Keduanya memang tidak mau berpisah kamar. Alasannya, jika menikah nanti mereka harus berpisah, maka kini sebelum semua itu terjadi mereka ingin menikmati kebersamaan mereka.


Syifa menatap langit-langit yang ada di kamarnya. Dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan apa yang terjadi kepada dirinya. Syifa tidak menyangka jika hatinya bisa berdebar-debar karena perlakuan Juan tadi terhadapnya. Memang sih itu bukan hal yang manis yang dilakukan Juan terhadapnya. Maksudnya ... pria itu hanya sekedar membantu dirinya, tapi kenapa hatinya lancang selalu memikirkan dia?


"Aduuh, ada apa ini?" seru Syifa sambil memegangi dadanya. Bibirnya tidak berhenti terulas senyuman yang indah, sulit untuk ia redakan.


...***...


"Siap untuk pergi ke kantor?" tanya Bima pada putri sulungnya.

__ADS_1


Yumna menganggukkan kepalanya. "Siap dong!"


"Pa, Yumna itu baru pulang kemarin loh. masa udah mau ke kantor aja. Biar istirahat dulu lah, Pa!" protes Lily yang melirik kesal ke arah sang suami.


"Ih itu kan bukan mau Papa. Yumna yang mau!" Papa mengelak, memang pada kenyataannya memang putrinya yang ingin ikut ke kantor.


"Iya, Ma. Yumna yang mau ikut ke kantor. Lagian di rumah juga mau apa? Yumna bosan, Ma." Yumna berkata sambil memakan makanannya.


"Tuh kan, bukan Papa yang ajak. Yumna yang mau!" Papa berseru sambil menyengir kepada sang istri.


Lily bisa apa jika memang Yumna yang mau pergi? Padahal dirinya masih sangat kangen dengan anak ini. Ingin mengobrol dan bercerita bersama. Belanja dan juga mungkin pergi ke salon? Ah, andai dia mirip dengan Syifa yang lebih suka melakukan hal itu dengan dirinya. Yumna terlalu mirip dengan papanya. meski wajah mirip dengannya, tapi sifat Yumna terlalu banyak yang mirip Bima. Pekerja keras dan terkadang menyebalkan!

__ADS_1


Lily melepas kepergian Yumna dan Bima yang kini pergi dengan menggunakan mobil milik Bima. Dia harus menjalani harinya lagi dengan sepi yang ada di rumah ini. Lily mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah. Terbayang olehnya masa dulu, saat dimana semua anaknya masih sangat kecil.


"Ah aku kangen anak-anak lucu ku!" seru Lily sambil menghembuskan napasnya yang berat.


__ADS_2