
"Aku kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Ini karena memikirkan kamu," jawab Haidar.
Yumna terkejut dengan apa yang dikatakan Haidar. Refleks dia menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya.
"Apa maksud kamu?" tanya Yumna.
Haidar mengalihkan pandangannya pada jalanan ramai di depannya. Dia tertawa kecil. "Maaf. Aku akan berkata jujur saja mulai dari sekarang. aku kecelakaan karena melamun memikirkan kamu. Memikirkan kapan aku akan bisa bertemu sama kamu. Hari itu kamu menghilang begitu saja, tapi hal itu justru membuat aku sadar kalau aku memang punya rasa sama kamu," ucap Haidar.
Yumna merasa semakin tidak percaya dengan apa yang dikatakan Haidar. Apalagi dengan pengucapan bahasa Haidar yang sangat sopan sekali.
Aku, kamu?
Sekilas Yumna tidak percaya dengan siapa dia berbicara. Apakah karena kecelakaan itu otak Haidar bergeser dari tempatnya?
Yumna menggelengkan kepalanya, dia sungguh tidak mengerti. Apa maksud Haidar tadi? Ingin bertemu dengannya? Bukankah dia bersama dengan Vio?
Haidar tertawa kecil, dia mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana dia bisa berbicara seperti itu kepada Yumna. Sungguh dia tidak menyangka jika dia bisa dengan berani mengatakan hal itu.
"Apa maksud kamu, Haidar?" tanya Yumna lagi. Dia merasa ada yang salah di pendengarannya. Haidar tidak mungkin mengatakan hal itu. Pria dengan sifat gengsi setinggi langit, yang selalu membuatnya kesal dan juga selalu marah tidak mungkin mengatakan hal itu.
"Aku suka dengan kamu, Yumna!" ucap Haidar dengan menatap wajah Yumna lekat-lekat. Wajah itu sudah lama sekali tidak dilihatnya secara nyata. Selama ini dia hanya bisa menatap wajah Yumna dari layar hp-nya.
Yumna terdiam bagaikan batu mendengar ucapan Haidar itu. Tubuhnya membeku seakan ada udara dingin yang melewatinya dan membuat dirinya tidak bisa bergerak sama sekali ataupun hanya untuk sekedar berbicara.
Dada Yumna berdetak cepat sekali. Pandangannya tidak bisa dia alihkan kepada yang lain, seakan terpaku kepada pria yang ada di depannya.
Haidar menggerakkan tubuhnya menghadap ke arah Yumna.
"Maafkan aku. Aku baru menyadarinya setelah kamu pergi hari itu. Aku memang bodoh selama ini karena tidak melirikmu sama sekali," ucap Haidar.
Yumna baru menemukan kesadarannya. "Lalu bagaimana dengan Vio? Bukankah waktu itu kamu membelikan dia cincin untuk bertunangan?" tanya Yumna.
Haidar menghela nafasnya dengan berat, dia terlihat seperti sedang lelah.
__ADS_1
"Vio berhianat dari aku," ucap Haidar lirih.
Yumna sejenak terdiam. Dia Lalu tertawa kecil. Dengan bodohnya dia sempat mengira kalau Haidar memang mencintainya, ternyata dia mengatakan suka kepadanya karena Vio menghianatinya? Jadi artinya, Yumna bagi pria itu adalah untuk pelampiasan semata? Untuk mencari ketenangan setelah rasa sakitnya? Bagaimana kalau Vio tidak melakukan hal itu? Apakah dia juga akan mengatakan kalau Haidar suka dengan dirinya?
"Kamu sadar dengan perasaan kamu setelah dihianati Vio?" tanya Yumna lagi.
Haidar tersentak saat mendengar ucapan Yumna itu.
Bukan! Bukan begitu!
"Kenapa kamu mengatakan itu setelah Vio meninggalkan kamu?" tanya Yumna dengan mata yang sudah mulai terasa panas. Yumna merasa dirinya ini tidak berharga sama sekali di mata Haidar. Hanya karena dia dihianati oleh kekasih pujaannya, dia ....
Ah ... Dasar baj*ngan! batin Yumna dengan marah.
"Kamu jahat sekali, Haidar!" Yumna marah, sampai dia mendaratkan pukulannya pada lengan Haidar sebelum Yumna pergi dari sana dengan langkah yang cepat.
"Yumna! kamu mau kemana?" tanya Haidar saat Yumna semakin menjauh darinya.
Haidar mencoba untuk mengejar Yumna seraya memanggil mantan istrinya itu, tapi dia berhenti saat terasa sakit di kakinya. Dia tidak pernah berjalan secepat itu.
"Yumna! Bukan itu yang aku maksudkan! Kenapa kamu gak dengarkan aku sampai selesai?! Yumna!!" teriakk Haidar lagi.
Yumna terus berjalan semakin menjauh. Dia mengusap air mata pada wajahnya yang kini sudah basah. Tidak dipedulikan lagi suara yang kini masih memanggilnya itu. Hatinya sudah merasa sakit sekarang ini. Pernyataan Haidar tadi membuat dia merasakan sakit jauh melebihi dulu saat dia berpisah dengan pria itu.
Ada apa denganku? Aku sudah bisa melupakan dia, tapi kenapa dia harus bicara seperti itu?! Keterlaluan sekali! batin Yumna menjerit. Dia melihat taksi yang mendekat ke arahnya Dengan cepat dia melambaikan tangannya pada taksi hingga berhenti di depannya.
Haidar merasa bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa dengan Yumna? Kenapa dia marah? Haidar menatap ke arah dimana tadi Yumna menjauh.
"Sial!" teriak Haidar sambil memukuli kakinya yang dia rasa tidak berguna.
Disaat dia baru bertemu dengan Yumna kenapa dia harus merasakan sakit pada kakinya dan menyebabkan dia tidak bisa mengejarnya? Padahal Haidar ingin menyatakan perasaannya dan meminta Yumna untuk bisa memaafkannya. Jika pun mereka bisa kembali bersama, itu akan lebih bagus, bukan?
Haidar terduduk di trotoar. Sakit pada kakinya terasa luar biasa. Dia membiarkan tongkat yang ada di tangannya itu tergeletak begitu saja di dekat kaki. Pandangannya tertuju ke kejauan sana. Dimana kini Yumna sudah tidak terlihat lagi.
__ADS_1
"Yumna. Bukan itu maksudku ... Kenapa kamu gak mau dengarkan aku dulu. Aku belum menjelakannya dengan baik," ucap Haidar sebelum dia mulai tak sadarkan diri.
Yumna mengusap wajahnya dengan menggunakan punggung tangan. Dia menatap ke arah luar. Suasana di luar masih saja ramai dengan kendaraan, terlihat oleh banyaknya lampu dan suara dari banyaknya kendaraan, seakan menghiasi wajah ibu kota di malam ini dengan keceriaan.
Sayangnya, keceriaan itu hanya topeng di luar. Pada kenyataannya semua merasakan lelah yang teramat sangat. Sama seperti hatinya kini. Lelah dengan apa yang dia rasakan terhadap pria itu.
Harusnya Yumna tidak berangkat tadi. Harusnya malam ini dia berbaring saja di rumah. Sudah pasti jika tadi dia melakukan hal itu, dia tidak akan beremu dengan Haidar dan hal semacam ini tidak akan terjadi.
Sopir yang membawa Yumna hanya melirik wanita yang menjadi penumpangnya dari spion. Dia menggelengkan kepalanya. Urusan anak muda!
Mitha baru saja kembali bersama dengan sopirnya. Dia tidak menemukan Haidar disana dengan Yumna. Begitu juga dengan Juan, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Apa Yumna pergi dengan pria itu? batin Juan dengan kecewa. Tidak menyangka jika dia tidak bisa menemukan wanita yang disukainya itu disana. Juan mengeluarkan hp-nya. Bahkan, Yumna tidak menghubunginya atau sekedarmengatakan jika dirinya pulang bersama dengan pria itu.
"Anak itu! Kemana dia!" seru Mitha dengan kesal, Mitha mengeluarkan hpnya dari dalam tas. Dia hendak menghubungi Haidar, tapi urung dia lakukan.
Apa Haidar sama Yumna? Apa dia antar Yumna pulang? Gercep sekali dia. Gak sangka dengan anak itu! Kali ini otaknya ada di jalan yang benar! monolog Mitha dengan tersenyum di bibirnya. Mitha pikir mungkin saja Haidar mengantarkan Yumna dengan menggunakan taksi.
Suara berapa orang terdengar di telinga Mitha.
"Kasihan ya. Dia sampai pingsan di jalan. Kayaknya bukan gembel sih, lihat aja tadi dia pakai jas segala," ucap seseorang saat melewati Mitha yang ada disana.
"Kayaknya bukan deh, atau mungkin memang gembel. Kan banyak tuh sekarang gembel yang sok-sokan kaya, dapet sewa. Bajunya aja jas, tidurnya tetep di jalanan, hihi. Udah ketemu pacarnya kali," ucap temannya.
"Eh, tapi kasihan lah. Dia kayaknya cacat. Kan tadi ada tongkat di dekatnya. Dia juga ganteng. Wajah licin gitu masa sih gembel?"
Deg.
jantung Mitha seakan berhenti berdetak mendengar pernyataan dari kedua wanita yang baru saja berjalan melewatinya itu.
Mitha segera melarikan kedua kakinya ke arah kedua orang itu dan menghentikan laju langkah mereka.
"Maaf, Mbak. Masudnya siapa ya? Itu tadi siapa yang Mbak maksud?" tanya Mitha lagi.
__ADS_1