YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
30. sensitif


__ADS_3

Gaun pernikahan sudah selesai. Undangan juga sudah di sebarkan. Satu minggu lagi acara pernikahan tiba. Yumna mulai merasa gelisah, tidak bisa tidur karena memikirkan nasibnya yang akan hidup dengan orang asing. Dengan pria yang tidak ia cintai.


"Bagaimana ini? Apa aku bisa hidup dengan Haidar?" gumamnya pelan. Yumna menatap ke luar jendela, dua orang pegawai sedang menata taman di rumahnya agar terlihat indah dan rapi. Mama Lily juga ada disana, sedang memantau pekerjaan mereka. Sesekali menunjuk untuk meminta di bawakan pot untuk tanaman bunga mawarnya.


Mama sangat bahagia dengan pernikahan ini, tapi kalau mama tahu aku dan dia cuma pura-pura pasrlti mama akan ngamuk. Papa akan diam. Dan nenek, kakek, yang lain! Ohh aku pasti akan jadi ejekan! batin Yumna. Tapi aku juga gak mau menikah dengan si Putra itu!


Suara hp terdengar nyaring dari atas kasur. Yumna bergegas mengambil hpnya. Haidar mengirimkan pesan untuk meminta bertemu.


Yumna menuruni tangga lalu berjalan ke arah luar, dia sudah siap dengan kacamata, rambut di ikat ekor kuda, celana jeans, juga baju kaos yang kebesaran.


"Mau kemana Yumna?" tanya Lily yang sedang beristirahat di teras. Es jeruk menemaninya untuk penghilang dahaga.


"Mau keluar sebentar ma!"


"Kemana? Jangan ketemu Hadar loh ya. Kalian itu sedang di pingit!" peringat Lily slsambil menunjuk-nunjuk ke arah Yumna.


"Eng-enggak kok ma. Yumna mau ketemu temen kantor." jawab Yumna terbata. "Ya kali, Yumna ketemu Haidar pake kayak ginian ma!" tunjuk Yumna pada dirinya sendiri. Lily menggelengkan kepalanya Yumna selalu saja berdandan culun.


Putriku yang aneh! Cantik kok milih jadi culun! batin Lily sedih.


"Cuma sebentar kok, ma. Bye mama!" Yumna mencium pipi Lily lalu bergegas pergi dengan mobilnya.


...*...


Yumna sedang membaca sebuah kertas putih. Haidar menatap Yumna yang sedang mengernyitkan dahinya, sesekali satu alisnya terangkat.


Yumna menggebrak meja sambil menyimpan kertas itu di sana.


"Apa-apaan poin yang ini? Menguntungkan diri sendiri!" tunjuk Yumna pada kertas itu kesal. Haidar mencondongkan dirinya menatap arah telunjuk Yumna. Poin yang berisi pihak kedua tidak boleh dekat dengan lelaki lain selama dalam masa kontrak.

__ADS_1


"Enggak ya! Elo bisa deket sama si Vio itu kenapa gue gak bisa deket sama cowok yang lain?" sewot Yumna tapi masih menjaga nada suaranya.


"Suka-suka gue dong. Lagian kan seorang istri gak pantas deket sama laki-laki lain, nanti kalau jadi bahan gosip gimana?" Tanya Haidar membela diri.


"Tetep gak bisa! Urusan elo jadi milik elo. Urusan gue jadi milik gue! Gak ada yang namanya ikut campur. Termasuk gue dekat dengan siapapun!" ucap Yumna dengan kesal lalu mencoret poin yang di tulis Haidar tadi dan menggantinya.


"Awas ya jangan nulis syarat yang aneh-aneh!" peringat Haidar saat Yumna terus asyik menulis. Yumna hanya menatap Haidar sekilas lalu tersenyum jahil.


Setelah beberapa saat, Yumna menyerahkan kertas itu pada Haidar. Haidar membacanya dan membelalakan mata.


"Tuh kan. Syarat apaan ini? Ini yang menguntungkan diri sendiri namanya!" protes Haidar saat melihat poin yang di tuliskan Yumna yang berisi


-Pihak pertama akan mendukung semua keputusan pihak kedua dalam memilih pria idaman pihak kedua. Tidak ada ikut campur maupun larangan.


-Pihak pertama harus menunggu sampai pihak kedua punya pasangan baru bisa mengajukan perceraian.


"Ya sudahlah! Yang penting jangan saling ganggu dalam hubungan lainnya."


"Oke!"


"Setelah menikah kita akan tinggal di rumah mami. Mami gak mau jauh sama anaknya!"


"Cih dasar anak mami!" ejek Yumna yang membuat Haidar mencibir kesal.


"Ya maklum lah, anak cuma satu. Emang kamu, saudara banyak, hilang satu juga masih ada yang lainnya." cibir Haidar, Yumna terdiam mendengar kata-kata Haidar, raut mukanya berubah, matanya berkaca-kaca.


Haidar merasa bingung dengan sikap Yumna yang diam. Apalagi melihat mata Yumna yang basah, hidung Yumna mulai berubah merah. Air mata meluncur bebas melewati pipinya.


"Eh, kenapa. Jangan nangis dong!" ucap Haidar jadi serba salah. Yumna hanya terdiam menatap Haidar tidak suka.

__ADS_1


"Aku salah ya ngomong gitu?" tanya Haidar, dia bangkit dan beralih duduk di samping Yumna mencoba menenangkan gadis itu.


"Iya, salah!" seru Yumna. "Jadi laki-laki tuh yang peka dong. Kamu gak rasain apa gimana perasaan aku, kamu ngomong gitu?!" Yumna mengusap air matanya.


Haidar menyebalkan! Meski benar kalau mama masih ada tiga lainnya tapi dia juga gak pantes kan bilang seperti itu! Serasa aku akan di buang!


Yumna terisak pelan. Dia merasa sedih dengan hal yang di katakan Haidar barusan.


"Hei Yumna udah dong, jangan marah, jangan nangis. Maaf-maaf. Gak lagi-lagi deh. Janji. Sorry ya!" ucap Haidar. Dia merasa bersalah karena sudah membuat gadis ini bersedih.


"Gampang banget ngomong maaf!"


"Ya kalau keceplosan gimana dong, tali sih bisa ditarik lagi, kalau omongan mana bisa di tarik kan?!" tanya Haidar.


"Makanya kalau ngomong itu di fikir dulu!" Ucap Yumna nge-gas.


"Iya maaf, sensitif banget sih. Biasanya juga elo gak pernah cengeng gini. Lagi M ya?" tanya Haidar asal. Wajah Yumna berubah merah, bagaimana bisa Haidar saat lancar bicara seperti itu?


"Haidar, elo nyebelin banget deh!!" teriak Yumna membuat beberapa orang menatap mereka. Haidar hanya tertawa meringis, sambil mengusap perutnya yang sakit akibat cubitan Yumna.


"Sakit Yumna! Belum apa-apa lo udah KDRT aja!" protes Haidar. Yumna membuang muka ke samping.


"Ya udah, sorry. Gue beliin eskrim mau ya. Tapi please maafin gue!" mohon Haidar.


"Dua gelas!" ucap Yumna membuat pria itu melongo.


"Gue mau dua gelas! Gak denger?"


"Iya-iya!" ucap Haidar lantas memanggil pelayan.

__ADS_1


__ADS_2