YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
268. Hadiah Kepindahan Dari Mitha


__ADS_3

Mitha sangat menyukai rumah yang akan ditempati Yumna. Kecil menurutnya, tapi juga terlihat sangat nyaman. Ruangan yang ada di sana dan juga penempatan barang-barang minimalis membuat dia betah dan rasanya tidak ingin pulang.


"Jadi kamar Mami ada di mana?" tanya Mitha kepada putranya dan juga Yumna yang duduk di ruang tamu bersama dengan Arya, Mitha baru saja turun dari lantai atas setelah berkeliling melihat semua yang ada di sana.


"Astaga, apa Mami kamu serius mau ambil kamar di sini?" gumam Arya pada putranya. Haidar mengangkat bahunya tanda tak tahu.


"Mami beneran mau kabur ke sini?" tanya Haidar pada ibunya tersebut.


"Iya, lah. Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau Mami mau kabur kesini aja, kan?" tanya Mitha balik kepada Haidar. Haidar menatap ibunya dengan malas, meskipun dia berkata dengan serius, tapi apakah tidak bisa jika maminya itu tidak menganggapnya?


"Jadi, kamar Mami ada di mana? Atau, Mami minta kamar yang di atas aja deh. Itu yang menghadap ke kolam renang," ucap Mitha kepada kedua anaknya.


Haidar terperanjat mendengar permintaan Mitha. "Jangan yang itu juga dong, Mi–," Yumna menepuk paha Haidar dan menempelkan satu telinjuknya di depan bibir.


"Gak apa-apa kalau Mami memang mau di sana. Kamar di atas memang kosong, kok. Nanti Yumna beresin kamar itu," ucap Yumna dengan senyuman di bibirnya.


"Mami kok gak sopan banget sih minta kamar segala." Arya memberi peringatan terhadap istrinya. Mitha segera duduk di samping suaminya.


"Gak apa-apa, kan Yumna juga sudah izinkan. Iya kan, Yumna?" tanya Mitha pada menantunya. Yumna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Lagian kan juga di kamar atas tuh kosong." Tunjuk Mitha ke lantai atas.


"Kan kali aja adiknya Yumna mau main ke sini terus nginep. Ah, Mami gimana, sih? Adik Yumna kan ada yang cewek ada yang cowok," ujar Arya.


Mitha merengutkan bibirnya. "Ya, kan masa mau tiap hari? Kan kalau adiknya Yumna ke sini gak pake janjian. Kalau kebetulan kita barengan Mami mau ke hotel aja!" ujar wanita itu dengan keras kepala. Arya menggelengkan kepala dengan perlakuan istrinya tersebut. Sedangkan Yumna hanya terkekeh pelan melihat interaksi lucu suami istri yang ada di depannya ini.


"Gak apa-apa, Pi. Kalau memang Mami mau menginap juga boleh. Sekalian Papi juga, biar gak bosan di rumah terus."


"Tuh, Pi. Denger apa yang Yumna bilang. Dia aja gak apa-apa kok kalau kita mau menginap di sini," ucap Mitha lagi.


"Hem," jawab Arya berdehem sebagai jawaban. Dia tidak ingin lagi berdebat dengan istrinya, tidak akan pernah menang jika sudah seperti itu.


"Apa di sini tidak ada asisten?" tanya Mitha melirik ke arah lain, dia tidak menemukan orang lain yang bekerja di sini selain penjaga di depan sana.


"Ada, tapi gak tiap hari datang, Mi. Tiga hari sekali buat beberes sama cuci ngepel," jawab Yumna.


"Ha? Tiga hari? Kenapa gak setiap hari? Mami akan bawakan ke sini asisten buat bantu kalian di rumah."


"Gak perlu, Mi. Kami sudah sepakat kok akan bagi tugas."


"Tapi kalian kan bakalan sibuk kerja, pasti pulang kerja bakalan capek," ujar Mitha. Arya berdehem sekali lagi.


"Mi, Papi pikir gak apa sih mereka gak pake asisten, justru bagus kan kalau berbagi tugas. Lagian juga kalau nanti kewalahan pasti juga asisten akan datang setiap hari, kan Yumna?" tanya Arya kemudian tertuju kepada menantunya.


"Benar, Mi. Maksud kami gak pake asisten juga pengen kita lebih dekat lagi, sih. Kan kayaknya romantis gitu kalau kerjakan tugas rumah berdua," ucap Haidar kemudian menarik bahu Yumna hingga semakin dekat, tak lupa dengan cepat laki-laki itu memberikan kecupan mesra di pipi Yumna. Yumna menjadi terpaku atas perlakuan dari Haidar.


Melihat hal itu Arya berdehem sekali lagi. Rasanya kesal sekali dengan putranya ini, mengumbar kemesraan di depannya. Sadar dengan tatapan Arya ke arah mereka membuat Yumna menjadi malu dan menundukkan kepalanya.


Arya dan Mitha kembali ke rumah, rasanya sudah lega Yumna dan Haidar kini menempati rumah lama Bima. Bukan dirinya tidak ada rumah yang lain, hanya saja Yumna dan Haidar ternyata telah memutuskan untuk hidup mandiri di rumah itu.


Yumna membereskan pakaian yang telah datang sebelumnya. Dua koper besar miliknya telah diantarkan oleh sopir ke rumah ini dua hari yang lalu. Tidak banyak, hanya pakaian yang dibutuhkan saja. Berbeda dengan Haidar yang hanya membawa satu koper besar miliknya tadi dari rumah Mitha.


"Sayang, mau aku bantu beresin?" tanya Haidar menawarkan diri.


Yumna mengangkat kepalanya dan menatap Haidar bingung.


"Kenapa?" tanya Haidar.


"Tadi kamu bilang apa?" Yumna balik bertanya pada Haidar.

__ADS_1


"Sayang. Kenapa?"


Yumna menggelengkan kepalanya, wajahnya memerah karena malu, masih belum terbiasa dengan panggilan yang seperti itu.


"Mulai sekarang panggil aku Suamiku Tersayang," ucap Haidar. Yumna tertawa geli mendengarnya sehingga Haidar menjadi bingung.


"Kenapa ketawa?"


Yumna menutup mulutnya dengan tangan. Masih terkekeh dengan permintaan Haidar tadi. "Gak ada, cuma lagi lucu aja. Rasanya aku gak akan kuat panggil kamu itu, geli!" ucap Yumna semakin tertawa keras.


Haidar menatap kesal istrinya. "Kok geli. Geli tuh begini, Yumna!" Haidar mendekat dan menggelitik pinggang Yumna.


"Akh, Haidar. Stop!" Yumna tertawa terbahak saat Haidar menggelitiknya. Rasanya tidak tahan sampai Yumna kewalahan dan tidak bisa bertahan.


"Haidar! Sudah. Aku geli!" teriak Yumna sambil tertawa keras. Haidar tidak mendengarkan, masih saja membuat Yumna tidak berdaya. Sampai lemas Yumna karena perlakuan Haidar, kini Haidar yang mengambil alih sehingga Yumna ada di bawahnya


"Haidar, hentikan!"


"Panggil aku sayang." Pinta Haidar.


"Tidak! Akh, tolong hentikan. Aku geli. Haha, Haidar!" teriak Yumna lagi masih tidak bisa menghentikan tawanya.


"Panggil aku sayang dan aku akan berhenti," ucap Haidar tak mau kalah.


"Enggak! Haidar, sud ... haha. Aduh!" Yumna tidak tahan dengan gelitikan di pinggangnya. Sampai dia menarik baju Haidar sehingga laki-laki itu jatuh menimpa tepat di atas tubuh Yumna. Yumna terengah karena kehabisan napas, sedikit lelah akibat gelitikan Haidar tadi.


Haidar terpaku menatap sang istri tepat pada matanya, napas hangat Yumna menerpa dagunya. Mereka saling bertatapan. Tergoda sekali Haidar untuk mendekat dan mengecup bibir Yumna pelan. Yumna tidak menolak, menutup mata dan menerima apa yang dilakukan Haidar, tangan Yumna memegang erat lengan suaminya. Dadanya berdebar kencang saat merasakan lembut bibir itu di bibirnya.


"Emh ...."


Haidar tersenyum saat mendengar suara Yumna yang mend*sah pelan. Dia menjulurkan lidahnya, sementara Yumna membuka kedua bibirnya, memberikan lidah Haidar akses masuk ke dalam rongga mulutnya.


Pelukan erat Haidar berikan terhadap istrinya itu, memegang erat tengkuk leher Yumna, begitu juga dengan Yumna, kini berani memeluk tubuh Haidar dengan erat.


Suara ketukan di pintu terdengar dengan sangat jelas, membuat Yumna dan Haidar tersadar dan menjauhkan tubuh mereka bersamaan.


Malu Yumna kepada Haidar, dia benar-benar tidak sadar tadi, meski dengan suami sendiri, tapi rasanya malu sekali. Tidak biasa menurutnya.


"Mbak Yumna!" teriak suara Pak Dani dari luar sana. "Maaf, Mbak ada paket di luar!" teriak laki-laki itu lagi.


"Paket apa, ya? Kamu pesan paket?" gumam Yumna bertanya pada Haidar.


"Gak tau!" jawab Haidar kesal. Yumna melihat perubahan raut wajah pada Haidar, dia terkekeh dan meninju lengan suaminya tersebut.


"Jangan ngambek, dong. Hehe."


Haidar sudah terlalu kesal, suasana yang sempat menghangat tadi harus terganggu akibat Pak Dani yang mengetuk pintu.


"Mbak, itu kurir sudah menunggu!" Pak Dani berteriak lagi.


"Iya, Pak!" teriak Yumna, tak lupa dia merapikan pakaian dan juga rambutnya yang sudah berantakan akibat ulah Haidar barusan.


"Keluar yuk, lihat paket."


Haidar merajuk, melipat kedua tangannya di depan dada membuat Yumna menjadi gemas.


"Ayo ih, Suamiku. Temenin aku terima paket, yuk."


Haidar tetap bertahan.

__ADS_1


"Sayang!" panggil Yumna dengan menatap mata Haidar lekat-lekat.


Tak tahan dengan tatapan itu. "Ya sudah, iya. Tapi sun dulu," ujar Haidar menunjuk bibirnya sendiri.


Yumna sadar jika ini tidak akan ada ujungnya, dia mendekat dan meraih kedua pipi Haidar, menempelkan bibirnya di sana dan segera menjauhkan kembali wajahnya saat merasakan lidah Haidar kembali terjulur.


"Nakal! Nanti kita gak akan terima paket kalau terus-terusan gitu." Yumna dan Haidar terkekeh bersamaan.


Keduanya kini keluar dari kamar, tampak Pak Dani menunggu di depan sana. Mendapati tatapan tajam dari Haidar membuat laki-laki itu menunduk, sadar jika sepertinya tidak tepat waktunya sekarang ini.


"Ada paket, Mbak."


"Paket apa ya? Dari siapa? Saya sama Haidar gak pesen paket," ucap Yumna sedikit bingung.


"Em ... anu, itu di depan, Mbak." tunjuk Pak Dani ke arah luar.


Yumna dan Haidar pergi ke luar dan menemukan dua orang ada di sana dengan memakai seragam ekspedisi khusus.


"Ibu Yumna?" tanya salah seorang laki-laki tersebut.


"Iya, saya Yumna. Ini paket dari siapa, ya? Saya gak ingat pesan soalnya," ucap Yumna bertanya.


"Oh, silakan dilihat resminya," ujar laki-laki tersebut sambil memberikan secarik kertas pada Yumna.


"Apa ini nama Mami Mitha?" tanya Yumna pada Haidar, resi tersebut dia perlihatkan kepada suaminya.


"Eh, iya. Ini nama mami." Haidar melihat tulisan tersebut, tapi sedikit bingung karena nama barang disamarkan dengan coretan spidol.


"Barang apa ya itu?" tanya Haidar melihat benda besar di belakang dua orang tersebut.


"Ini mau disimpan dimana?" tanya salah satu dari mereka.


"Di dalam saja. Masukin ke dalam dulu, deh," ucap Yumna. Segera kedua orang itu membawa paket tersebut ke dalam rumah, paket besar itu diangkat oleh kedua laki-laki tersebut.


"Di sini saja. Ini isinya apa sih?" tanya Yumna masih bingung. "Boleh dibuka sekarang gak?" tanya Yumna.


"Boleh, tentu boleh."


Yumna segera berlari ke arah dapur dan mencari pisau yang tajam, dengan perlahan dia mendekat kembali pada Haidar dan dua orang tadi. Pak Dani masih berada di sana untuk berjaga-jaga.


Dengan hati-hati Yumna membuka plastik bungkus tersebut, dua orang yang tadi membantunya melepaskan plastik tersebut sehingga terlepaslah semua.


"Ini akan disimpan dimana Haidar?" tanya Yumna saat melihat sebuah kursi sofa hadiah dari Mitha.


Haidar merasa sedikit aneh dengan bentuk kursi tersebut.


"Kita simpan di ruang tamu aja gimana?" tanya Yumna meminta persetujuan.


"Boleh."


Yumna meminta dua orang itu untuk memindahkan benda tersebut ke ruang tamu, rasanya sangat unik sekali jika ada di sana. Akan tetapi, dua orang dari ekspedisi tersebut hanya saling menatap satu sama lain, tapi tak ayal mereka pindahkan juga.


"Terima kasih sudah bantu pindahkan," ucap Yumna kepada dua orang itu.


"Iya, sama-sama, Bu. Semoga bisa bermanfaat ya Bu kursinya," ujar salah satu dari mereka sambil mesam-mesem. Meski bingung dengan perkataan dan tingkah yang tidak perlu, tapi Yumna mengangguk saja dan kedua orang itu berpamitan.


Yumna menatap kursi tersebut dengan bingung, pasalnya bentuknya tidak biasa untuk sebuah kursi.


"Mbak Yumna yakin mau simpan kursi ini di sini?" tanya Pak Dani yang mendekat ke arah Yumna.

__ADS_1


"Iya, unik. Di sini aja biar tamu senang," jawab Yumna. Dia merasa tidak buruk juga ada kursi tersebut di ruangan ini, meski rasanya sedikit aneh karena Mami Mitha memberikan itu sebagai hadiah, padahal jika hanya kursi sofa miliknya juga masih bagus dan terawat.


"Anu, Mbak Yumna. Masalahnya itu bukan buat tamu, tapi ... kursi buat bercinta," ucap Pak Dani.


__ADS_2