YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
236. Rindu


__ADS_3

Deru hangat dari napas Haidar membuat Yumna terbuai. Akan tetapi, Yumna tersadar saat jarak di antara mereka semakin mendekat dan mendekat. Dia bisa merasakan degup jantungnya yang sangat kencang, tidak mau berhenti sehingga membuat Yumna merasakan sesak.


Dengan kedua tangannya, Yumna menahan dada Haidar dan sedikit mendorongnya. Dia tidak ingin perlakuan Haidar merembet ke mana-mana sehingga membuat dirinya tidak berdaya dan bisa saja melakukan hal yang lebih dari ini.


Haidar mengerutkan keningnya, mendapati perlakuan Yumna yang seperti itu. Dia merasa heran. Kini melihat Yumna yang membuang pandangannya ke samping. Mata yang bulat itu kini tidak bisa dia lihat lagi.


"Maaf, Haidar. Jangan lakukan itu."


Haidar tertegun mendengarnya, masih tidak mengerti, tapi dia mencoba untuk menerima apa yang Yumna mau. Mungkin saja Yumna tidak nyaman melakukannya di sini. Ada beberapa orang yang sama seperti yang hampir saja mereka lakukan, hanya saja mereka melakukannya dengan tanpa malu di dekat mereka.


"Maaf, aku terlalu terbawa suasana," ucap Haidar malu. Dia tidak sadar tadi, melihat kecantikan Yumna dan terbuai sehingga tidak sadar mendekat dengan jarak yang sangat tipis.

__ADS_1


Yumna tersenyum malu. Dia memutar tubuhnya, merasakan detak jantungnya yang masih belum juga normal. Berdetak dengan sangat kencang seakan hampir menjebol dadanya dan ingin melompat dari luar.


"Maaf, tapi bolehkan aku berikan kalau kita sudah sah saja? Itu pun kalau kamu bisa menerima," ucap Yumna, dia menatap ke arah depan, jauh sekali melihat ke kejauhan sana. Tidak berani menatap Haidar.


"Iya, tentu saja. Meski itu hanya ciuman, tapi kalau kamu tidak bisa, tidak apa-apa. Aku yang minta maaf, karena aku bersikap seperti itu tadi. Aku benar-benar tidak sadar." Haidar merasa bersalah, dia menjadi tidak enak hati dengan apa yang terjadi tadi.


"Ehm ... kita makan saja?" tanya Haidar pada Yumna, mencoba untuk mengusir kecanggungan yang ada. Yumna mengangguk, dia juga merasakan lapar di perutnya.


Tidak ada restoran, tidak juga rumah makan, hanya ada sate di gerobak yang ada di dekat sana dan menjadi tempat favorit dengan banyaknya pembeli di sana. Haidar memilih tempat duduk di tepi pagar. Tempat duduk itu pun hanya tikar sederhana yang digelarkan di dekat sana.


Hampir dua jam mereka di sana. Makan, menikmati malam, dan juga mengobrol, kemudian mereka kembali ke dalam mobil untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Sesal ada pada hati Haidar, seakan dia tidak tahan dan juga tidak ingin momen kebersamaan mereka berakhir.


"Terima kasih atas makan malam kali ini," ucap Yumna.pada Haidar saat dia turun di depan rumahnya.


"Maaf, tidak ada makan malam romantis," jawab Haidar. Yumna tersenyum kecil.


Tidak masalah baginya, yang terpenting adalah makan malam bersama dengan Haidar.


"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan dengan makan malam kali ini."


Haidar pergi setelah mengatakan akan menelepon Yumna nanti.

__ADS_1


Langkah kaki Yumna terhenti saat mendapati kedua orang tuanya berada di sofa ruang tamu. Mereka mengalihkan tatapan saat Yumna masuk ke dalam rumah.


Yumna tidak menghentikan langkah kaki, hanya menyapa kecil dan pergi dari sana dengan tergesa. Dia menjatuhkan tubuhnya pada kasur miliknya. Rasanya rindu akan Haidar, meski mereka baru saja bertemu.


__ADS_2