
Syifa dengan marah berjalan ke luar dari cafe itu. Langkah kakinya sangat lebar hingga dia telah sampai ke tepi jalan dan menghentikan taksi.
"Aduh, ya ampun. Perutku sakit!" keluh Syifa. Tangannya mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Jika saja dia ada di rumah, pastilah dia akan membuka kancing celana jeans-nya atau berganti dengan kolor pendek sebatas lutut.
Kejadian barusan membuat Syifa merasa kesal yang teramat sangat. Dia sudah berharap akan membawa pulang hp-nya, tapi apa yang terjadi? Malah dia ditipu!
"Ugghhh!!! Harusnya tadi aku tampar saja dia! Aku cakar saja wajahnya! Kenapa juga cuma pukul dia dengan tas?" geramnya menyesal. Seharusnya dia melakukan apa yang seperti ada dalam film korea yang pernah dia tonton, jambak, cakar, dan mengumpat.
Hahhh ... Apa aku mewarisi kelembutan mama? Makanya aku tidak bisa marah dengan orang lain? tanyanya pada diri sendiri. Sungguh Syifa menyesalinya.
Sementara itu di cafe, Juan mendapatkan tatapan dari pengunjung lainnya. Dia hanya tersenyum malu dengan kejadian tadi.
"Maafkan tunanganku. Dia memang sering seperti itu kalau sedang marah," ucap Juan lalu dirinya terdiam mengingat apa yang baru saja dia katakan.
Tunangan? Oh, astaga!
Juan tertawa geli. Ingin mengumpat dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia mengatakan pada yang lain kalau Syifa adalah tunangannya? Lebih pantas menjadi adiknya atau sepupunya.
Juan mengeluarkan hp milik Syifa dari sakunya dan segera beranjak setelah membayar makanan yang tadi dia pesan.
Syifa sudah tidak ada lagi di luar cafe, ada sedikit rasa menyesal karena dia menipu gadis itu. Bukan menipu juga sih sebenarnya. Tadinya dia akan memberikan hp milik Syifa setelah mengantar gadis itu untuk pulang.
Ya, sudahlah. Berarti hp ini masih harus bersamaku entah sampai kapan, batin Juan. Dia masuk ke dalam mobil dan menyimpan hp Syifa ke dalam jas miliknya yang tersampir di sandaran kursi.
Juan kembali ke perusahaan, dia duduk di kursi kebesarannya dengan sedikit senyum. Tidak dia sangka jika hari ini cukup menyenangkan juga mengganggu seorang gadis. Mood-nya yang tadi pagi hilang kini kembali lagi, malah kadar persen semangatnya lebih tinggi.
Suara dering telepon terdengar dengan jelas. Juan membuka laci meja kerjanya. Dia melihat ada beberapa panggilan dari nomor Mama Lusi dan satu nomor asing yang sudah dia hapal.
Juan berdecak dengan kesal, kembali menyimpan hp miliknya di laci setelah menekan mode silent dan mematikan getar. tentu jika ada hal yang penting pasti telepon perusahaan akan menjadi tujuan selanjutnya oleh sang ibu.
Hari ini cukup menyenangkan, jangan sampai mood-nya kembali rusak oleh ocehan Mama Lusi.
...***...
"Aku pulang, Ma!" Syifa berjalan dengan langkah yang berat. Jika ingin sih, terbang saja ke kamarnya agar segera sampai, perut yang tiba-tiba gendut membuat dia malas bergerak.
"Sudah pulang?" Lily baru saja keluar dari dalam kamarnya, menyapa Syifa yang berjalan seperti zombie dengan menyeret langkah kakinya.
__ADS_1
"Ma, lain kali pasang lift, dong!" Syifa menjatuhkan dirinya di sofa, segera dia membuka kancing celana jeans-nya hingga perut yang sedari tadi tertahan mengembung di balik kaosnya.
"Heh? Lift? Buat apa?" tanya Lily dengan heran. Dia mendekat ke ara putri keduanya dan duduk di single sofa.
"Ya untuk naik ke atas dong, Ma! Masa Mama gak tau artian kegunaan lift?"
"Aww!!" Syifa mengaduh, merasakan kakinya yang dicubit sang mama, dia menarik dan mengelus kakinya yang mungkin saja merah.
"Mama jahat, ih. Sakit tahu!" Syifa mengerucutkan bibirnya. Di saat perutnya yang sakit, kini kakinya juga kembali sakit.
"Gak sopan! Mama tau lah kegunaan lift! Lagian kenapa juga harus ada lift? Rumah kita kan hanya dua lantai. Keenakan kamu, pemalasan. Pasti gak mau naik turun tangga," cerca Mama Lily. Syifa hanya tersenyum meringis mendengar ucapan mamanya yang seratus persen benar.
"Kenapa itu perut? gak jadi diet?" tanya Lily.
Ditanya seperti itu membuat Syifa menjadi kesal.
"Au, ah! Kesal jadinya!" ucap Syifa sebal. Dia membuka kaosnya sedikit ke atas hingga terlihat kulit perutnya yang putih.
"Sebal kenapa?" tanya Lily lagi.
"Gak pa-pa. Sebal aja. Gagal diet!"
"Lagian, Mama gak percaya kalau kamu bisa lebih kurus dari ini. Mau sekurus apa, hah? Anak Mama gak perlu tuh diet-diet segala. Belum sampai 70 kilo mah tenang aja kali!" seru Lily.
"Mama!!!" teriak Syifa dengan keras. Selalu saja seperti itu jika dia mengatakan ingin diet, tunggu saja sampai berat badannya 70 kilo baru menjalani diet.
Lily tertawa dengan puas, di antara anak-anaknya yang lain hanya Syifa lah yang senang dia ganggu.
"Ya ampun, kak Syifa! Udah di rumah aja? Sejak kapan? Kami nungguin loh dari tadi!" Suara Azkhan terdengar kesal dari ambang pintu, mendekat dan memberikan kecupan di pipi kanan Lily. Arkhan yang ada di belakang Azkhan mengambil punggung tangan sang mama untuk dia kecup.
"Pulang dari tadi. Makan dulu sama yang lain," ujar Syifa kesal.
Azkhan duduk di single sofa di dekat kepala sang kakak, sedangkan Arkhan duduk di lengan sofa di bawah kaki Syifa.
"Duh itu perut. Wow! Amazing!" ejek Azkhan melihat perut penuh kakaknya.
"Dah, deh. Diem!" ujar Syifa kesal.
__ADS_1
"Yang katanya mau diet, malah tambah bulet."
"Lumayan, gak perlu beli bola basket. Bola basketnya aja dah ada disini," celetuk Arkhan.
Lily dan Azkhan tertawa mendengar ucapan pria pendiam itu. Tumben sekali mau ikut menggoda sang kakak.
"Kalian berdua diem, deh! Orang lagi sakit perutnya juga malah di ketawain!" seru Syifa kesal.
"Lagian, kamu makan apaan sih, Kak? Perut dan hampir meledak gitu?' tanya Azkhan.
"Gak banyak kok. Cuma sepiring mie goreng, sepiring kentang goreng, dua kue cheese cake, sama jus alpukat segelas," ucap Syifa datar.
"Astaga!" seru Azkhan dan Lily berbarengan. Dia menatap Syifa dengan tidak percaya.
"Cuma dikit? Itu karbo doang loh! Mie sama kentang, belum lagi cheese cake sama jus alpukat. Sadar gak itu makannya?" tanya Azkhan. Arkhan dan Lily lanjut tertawa, semakin membuat Syifa kesal.
"Aku kan tadi kesal, jadi khilaf," ucap Syifa lagi.
"Bukan khilaf, tapi kalap!" tegur Arkhan.
Suara tawa dari dua orang yang lain membuat Syifa ingin menangis, perutnya sakit, tapi tidak ada yang bisa merasakan penderitaannya.
"Az, Ar. Gendong!" Syifa mengangkat kedua lengannya, menatap penuh harap kepada dua adiknya.
"Ogah, berat!" Azkhan bangkit. "Gue bawa ini aja, yang ringan," ucapnya lalu meninggalkan Syifa yang melongo menatap adiknya marah.
"Azkhan, awas ya kamu! gak akan aku pinjemi laptop lagi, loh!" teriak Syifa kesal.
"Mending ga dipinjemin laptop daripada sakit pinggang gara-gara gendong elu, Kak! Sorry, gue besok ada tanding basket!" teriak Azkhan, kini dia sudah menaiki tangga dengan membawa tas di tangannya.
Syifa memberengut sebal, duduk dan menatap Arkhan dengan tatapan puppy eyes-nya.
"Gendong!" pintanya manja.
Arkhan memutar bola mata malas, tapi tak urung dia berdiri membelakangi Syifa. Syifa tersenyum senang. Dia segera berdiri di atas sofa dan melompat ke punggung Arkhan.
"Aduh, Elu bisa pelan dikit, gak sih? Pinggang gue rontok ini!" kesal Arkhan.
__ADS_1
"Go! Pergi ke kamar!" teriak Syifa tak peduli.
Lily menatap ketiga anaknya dengan senyum, bersyukur selama ini semua anak-anak mereka selalu akur.