
"Halo istriku, apa kabar?" pria itu tersenyum ke arah Yumna yang kini menatapnya dengan heran. Alisnya terangkat naik dan turun menatap ke arah Yumna, bibirnya tersenyum dengan semakin lebarnya saat Yumna kini menggelengkan kepalanya dengan tak habis pikir kepadanya.
"Kenapa kamu gak mau jawab pertanyaanku, Istriku?" tanya pria itu kini menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia duduk dengan tenang dan juga mengangkat satu kakinya untuk dia silangkan di atas kaki yang lain. Kedua tangannya iya tautkan di depan perutnya.
Yumna menggelengkan kepalanya. " Hentikan itu, aku geli mendengarnya." ucap Yumna. Pria itu hanya tersenyum, dia senang dengan wanita di sebelahnya yang kini tertawa sambil mengedikkan kedua bahunya.
"Tapi itu berhasil kan? aku sudah mengusir dia sampai dia pergi. apa dia sangat mengganggu kamu?" tanya pria itu lagi.
Yumna menghentikan tawanya, dia kini menyandarkan punggungnya dengan nyaman. "Lumayan mengganggu, tapi terima kasih karena anda sudah membuat dia pergi dari sini." ucap Yumna.
"Tidak masalah, aku lumayan kesal dengan orang yang seperti itu. Kamu ataupun bukan, aku pasti akan melakukannya juga."
"Dan memberikan kursi mu kepada dia?" Yumna bertanya.
Pria itu menoleh kepada Yumna, "Mungkin." ucapnya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Oh ya, Anda ini mau ke mana?" tanya Yumna kepada pria itu.
"Aku ada urusan di ibukota, kamu?" tanya pria itu kepada Yumna.
"Aku akan pulang ke rumah.'
Kening pria itu berkerut mendengar ucapan Yumna. "Pulang?"
Yumna menganggukkan kepalanya. "Pulang. Rumahku di sana. Di sini rumah nenekku." terang Yumna.
"Pak Juan sendiri? Ada urusan apa di sana? Bisnis kah?" tanya Yumna lagi.
"Aku mau menengok ibu. Sudah lumayan lama tidak pulang." ucapnya.
"Oh. Ternyata kita satu kota. Maaf sebelumnya aku tidak tahu." ujar Yumna.
"Tidak apa-apa, lagi pula hubungan kita hanya sekedar bisnis bukan? Kenapa juga kamu harus tahu aku berasal dari mana!" Juan tersenyum. begitu juga dengan Yumna.
__ADS_1
Pesawat sudah mulai lepas landas meninggalkan landasan pacu bandara. Yumna menatap ke arah jendela, langit Surabaya siang ini lumayan cerah. Semoga saja sampai di Jakarta nanti cuaca sebagus di sini.
"Apa setelah nanti kita sampai di sana, kita bisa bertemu lagi?" tanya Juan dengan menatap ke arah Yumna. Dagunya tertopang pada tangan kirinya, kepalanya miring menatap Yumna.
"Eh?" Yumna bingung dengan pertanyaan Juan.
"Boleh sih." jawab Yumna akhirnya. Juan tersenyum senang dengan jawaban itu.
"Oke! Setelah di sana kita saling berhubungan, ya?"
Yumna bingung dengan ucapan pria itu, saling berhubungan?
"Maksudnya?" Yumna bertanya dengan menatap Juan dengan heran. Juan yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah.
"Em .... Maksudku, saling menghubungi lewat chat," ucapnya sambil mengeluarkan hp dari saku baju kemeja nya.
"Oh." Yumna tertawa terkekeh dengan maksud pria itu. Dia kira berhubungan ....
"Kita tidak punya nomor masing-masing kan?" tanya Juan, Yumna menggelengkan kepalanya. Juan tersenyum meringis, merasa miris. Padahal keduanya sudah bertemu dua kali, tapi dia tidak punya nomor Yumna, begitu juga dengan Yumna, tidak punya nomor dirinya. Mungkin.
"Oh iya, kita tidak punya nomor masing-masing, ya?" tanya Yumna, lalu dia mengeluarkan hpnya dari dalam tas. Keduanya saling bertukar nomor.
Pesawat kini sudah mengudara. keduanya asyik mengobrol dan membicarakan banyak hal. Yumna beruntung penerbangan kali ini ada seseorang yang menemaninya. Ya meskipun mereka tidak sengaja bertemu.
Tiba-tiba Yumna berdiri, "Aku mau ke toilet dulu, permisi." Yumna berjalan melewati Juan dan berjalan menuju ke arah toilet.
Tidak sampai lima menit Yumna berada di toilet, setelah membersihkan tangannya dengan tisu basah dia lalu keluar dari dalam sana.
Yumna terkejut karena di luar sana Juan berdiri dengan punggung bersandar kan dinding. Kedua tangannya terlibat di depan dada.
"Pak Juan kenapa berada di sini? Mau ke toilet juga?" Tanya Yumna, dia lalu berhenti bertanya dan kemudian berpikir.
Orang ada di dekat toilet, tentu saja dia kan ke toilet!
__ADS_1
Yumna menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia merasa bodoh dengan pertanyaannya tadi.
"Tidak! Aku tidak akan ke toilet."
"Lalu?" tanya Yumna dengan bingung.
Juan menunjuk dengan dagunya ke arah lain. Yumna mengikuti arah pandangan Juan, dan menemukan seorang pria yang kini berdiri tidak jauh darinya. Pria itu hanya terlihat punggungnya saja. Dia sedang mengobrol dengan seseorang.
Yumna kini mengerti kenapa Juan ada di sana. Pria yang tadi mengganggu Yumna ada di sana sedang mengobrol dengan penumpang lainnya. Terlihat seru sekali. Mungkin pria ini tipe yang suka berbicara. Bukan mungkin lagi, memang dia suka berbicara.
"Ayo, kita kembali lagi ke kursi." ajak Juan kepada Yumna. Yumna mengangguk kan kepalanya, dia mengikuti langkah kaki Juan lalu tersentak kaget saat tangan pria itu menggenggam tangannya dengan erat. Juan membawa Yumna hingga sampai di kursinya kembali, dengan sambil melangkah Yumna menatap tangannya yang masih dipegang oleh pria itu.
"Nah gitu dong Mas, kalau punya istri itu dimanja, dimengerti. Jangan marah diajak berantem!" ucap pria itu dengan sambil menatap keduanya yang kini berjalan melewati nya.
Juan tidak berkata apa-apa hanya tersenyum tipis kepada pria itu. Lalu kembali membawa Yumna ke arah tempat duduk mereka.
"Maaf Pak Juan. Bisa tolong lepaskan tangan saya?" Yumna menarik baju kemeja Juan dengan tangannya yang lain. Diia kira pria ini akan melepakan tangannya setelah melewati orang itu.
"Eh maaf!" Juan lalu melepaskan pegangan tangannya. Dia merasa canggung dan juga merasa bersalah karena telah menarik Yumna sedari toilet tadi.
"Aduh aku lupa. Maafkan aku, maaf aku sudah menunggumu di depan pintu toilet tadi. Tadi aku lihat pria itu berjalan ke arah toilet, aku takut dia mengganggu kamu lagi," ucap Juan dengan canggungnya.
Sikapnya sangat terlihat sekali oleh Yumna. Juan terlihat malu-malu saat mengatakan itu.
"Tidak apa-apa, terima kasih karea sudah menungguiku di depan toilet." ucap Yumna dengan senyuman manisnya.
Keduanya lalu duduk, Yumna melirik ke arah Juan yang kini duduk dengan tenang di sampingnya.
"Untung saja ada Pak Juan, kalau tidak mungkin saya sudah diganggu oleh orang itu. terima kasih," ucap Yumna.
Juan menganggukan kepalanya nya dengan tersenyum kepada Yumna.
"Sama-sama, tapi aku mohon jangan panggil aku pak, aku berasa sangat tua." ucap Juan dengan tertawa malu. wajahnya terlihat memerah membuat Yumna ingin tertawa.
__ADS_1