
Haidar mengambil hpnya dan segera menelfon Vio. Dia merasa sangat bersalah telah meninggalkan gadisnya itu di kafe tadi.
Tuut... Tutt...
Haidar terus menunggu, tapi Vio belum juga mengangkat telfonnya. Apa Vio marah? Ah .... Pasti dia marah!
Entah panggilan ke berapa ini, jika tidak diangkat juga dia akan datang ke tempat Vio untuk meminta maaf.
'Haidar?!'
Akhirnya suara seseorang terdengar setelah panggilan ke lima.
"Vi, aku minta maaf. Aku sudah meninggalkan kamu di kafe. Aku gak tahu apa yang aku lakuin sampai membawa Yumna pergi dari sana. Aku minta maaf!" ucap Haidar.
'Sudahlah, sayang. Jangan meminta maaf lagi. Aku tidak apa-apa.' Haidar yang semula merasakan gemuruh dan amarah di hatinya perlahan mereda karena mendengar suara merdu kekasihnya. Vio memang gadis yang baik dan pengertian.
"Kamu gak marah?" tanya Haidar hati-hati.
'Mau bagaimana lagi dia kan istri kamu! Aku gak boleh egois untuk mendapatkan kamu. Kamu itu kan sudah jadi milik orang lain!' kata-kata Vio serasa menyindirnya.
"Maaf, Vi. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sudah aku lakukan. Apa yang harus aku lakuin supaya kamu gak marah?" tanya Haidar dia merasa sangat bersalah.
'Bujuk aku sampai aku gak marah lagi.' pinta Vio.
"Oke, aku akan lakukan apapun supaya kamu gak marah sama aku. Kamu dimana? Aku akan ke tempat kamu sekarang," ucap Haidar, dia bangun dan menyambar jasnya yang tadi ia lemparkan ke sembarang arah.
'Jangan sekarang. Aku ada pemotretan mendadak.'
"Oh .... Dimana? Aku akan bawakan kamu bunga dan coklat," ucap Haidar.
'Tidak usah. Kami sedang bersiap untuk pergi ke luar kota sekarang. Kamu tinggal saja dan siapkan kejutan untuk ku kalau ingin aku tidak marah lagi.' Haidar kembali duduk di tempatnya mendengar penolakan Vio. Kecewa sebenarnya, dia paling tidak tahan jika Vio masih marah. Dia sangat ingin bertemu dengan Vio, meminta maaf sambil memeluk dan menciumnya.
"Kamu mau kejutan? Kejutan apa?" tanya Haidar.
'Kamu yang fikirkan. Pokoknya aku mau kejutan. Kalau tidak berkesan aku tidak akan maafkan kamu!' nada suara Vio terdengar merajuk membuat Haidar luluh.
Haidar tertawa pelan.
"Oke, kejutan ya. Aku akan fikirkan kejutan untuk kamu. Kapan kamu kembali?" tanya Haidar.
'Besok siang kami juga sudah pulang.'
__ADS_1
Telfon di tutup. Haidar mengembangkan senyum di bibirnya, membujuk Vio tidak pernah sulit. Dia sangat bangga memiliki wanita yang sesabar Vio.
Haidar segera keluar dari ruangannya.
Tina tersentak saat Haidar menutup pintu.
"Tina. Tolong bereskan ruangan saya." ucap Haidar lalu tanpa menunggu jawaban Tina dia segera beranjak pergi.
Tina menatap Haidar dengan bingung. Setengah jam yang lalu bosnya datang dengan muka menyeramkan, tapi baru saja dia melihat bosnya pergi dengan wajah berseri.
"Ada apa dengan si bos?" Tina menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. Dia segera berdiri dan berjalan untuk membuka pintu ruangan Haidar.
Tina melongo saat melihat ruangan Haidar yang berantakan. Berkas-berkas, bingkai foto, bahkan laptop juga teronggok begitu saja di lantai.
Tugasnya sudah banyak di luar sana dan dia juga harus membereskan kantor bosnya? Haidar tidak suka sembarangan orang yang membereskan ruangannya.
Tina mengusap wajahnya kasar.
'Ya sudahlah!'
...***...
Teringat jelas di benaknya bagaimana Haidar melakukan hal itu pada dirinya dulu saat mereka masih berseragam putih abu-abu. Betapa bahagianya Vio dengan segala keposesifan Haidar.
"Jangan melamun," ucap seseorang seraya memberikan gelas berisi minuman pada Vio.
"Aku tidak melamun. Hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Vio. Dia meraih gelas itu dan menenggak minumannya dengan perlahan.
Pria itu masuk ke dalam selimut yang sama dengan Viola. Dia menarik Vio bersandar ke dadanya. Mengambil gelas kosong yang Vio berikan lalu menyimpannya di atas nakas.
"Bilang sama aku, apa yang kamu fikirkan?" tanya pria itu. Dia mengendus bahu telanjang Vio yang mulus. Wangi aroma vanila menusuk hidungnya. Wangi yang selalu ia suka yang ada pada diri Viola.
Vio hanya mengangkat kedua bahunya. Dia kemudian berputar dan memeluk pria itu dengan erat.
Si pria mengangkat dagu Vio, lalu mencium bibir ranumnya. Vio terdiam, lalu perlahan menggerakkan lidahnya mengimbangi ciuman pria yang sudah sangat lihai memanjakannya luar dan dalam.
Si pria menarik dirinya, membuat bibir Vio mengerucut sebal.
"Menikah saja denganku. Kamu pasti tidak akan pernah kecewa seperti dia mengecewakan kamu!" pintanya.
Vio menatap tajam pria yang masih memeluknya. "Aku hanya cinta sama dia, dan aku hanya akan menikah sama dia!" ucap Vio, dia kesal dengan ucapan pria itu yang lagi-lagi meminta dirinya untuk menikah.
__ADS_1
Vio menyibak selimutnya, dan berdiri tak peduli tubuh polosnya terlihat oleh orang lain. Dia mendekat ke arah dimana bajunya tergeletak di lantai dan mengambilnya. Baru saja dia akan melangkah ke kamar mandi, tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh pria itu.
"Kamu marah?" tanya pria itu memeluk Vio posesif, dia melabuhkan beberapa ciuman di leher Vio.
"Lepaskan!" ujar Vio. Dia mencoba mendorong pria itu tapi tenaganya tak sebanding dengannya.
"Kamu marah, hem?" tanya pria itu sekali lagi menatap Vio dengan lamat.
"Aku kan sudah bilang sama kamu. Hubungan kita ini hanya untuk bersenang-senang. Kita membutuhkan satu sama lain. Bukan untuk hidup bersama!" Vio menekankan kalimatnya di akhir kalimat. Pria itu menghela nafasnya lelah. Vio sangat sulit untuk dia bujuk. Padahal semua yang Vio mau bisa ia berikan.
"Ya sudah. Aku minta maaf. Aku hanya tidak suka kalau kamu terus-terusan sakit hati gara-gara dia. Hanya saja kamu harus tahu. Aku sangat cinta sama kamu. Aku akan menunggu kamu sampai kamu sadar dan bisa jatuh cinta sama aku!" ucapnya, lalu memeluk Vio dengan erat.
Vio terdiam. Dia tahu pria ini sangat tulus dengannya, tapi tak ada sama sekali rasa cinta ataupun suka pada dirinya. Vio hanya suka permainan ranjang pria ini, membuat dia melupakan rasanya sesaat untuk Haidar.
Pria itu menarik dagu Vio, dan mendekatkan dirinya hingga bibir mereka kembali menyatu. Dan beberapa detik kemudian terjadilah pergulatan untuk kedua kalinya di antara mereka.
...***...
Suasana makan malam kali ini dirasakan dingin oleh ketiga orang yang berada di meja makan besar tersebut. Jika biasanya mereka saling mengobrol ringan. Namun, kali ini hanya diam yang membersamai mereka. Suara dentingan sendok dan garpu terdengar beberapa kali.
Mitha melirik ke arah kedua putra putrinya. Haidar makan dengan tenang, fokus pada makanannya. Sama halnya dengan Yumna, dia menunduk menatap makanan yang sedari tadi baru ia makan sedikit dengan ujung sendoknya.
Mitha menghela nafasnya lelah, ia mulai bosan dengan keadaan yang seperti ini. Ia tahu, ia tidak boleh ikut campur dengan urusan rumah tangga putranya. Tapi sebagai orangtua bukankah seharusnya wajib mengingatkan atau menegur jika anak-anaknya salah?!
"Haidar. Yumna. Mami minta kalian menyelesaikan masalah kalian dengan baik. Jangan ada lagi pertengkaran diantara kalian. Memang wajar jika ada pertengkaran di dalam rumah tangga, tapi mami mohon semua masalah harus kalian bicarakan, jangan tersulut emosi. Terutama kamu, Haidar!" tunjuk Mitha. Haidar yang merasa namanya di sebut, mengangkat kepalanya menatap Mitha yang melotot kepadanya. Sedetik kemudian dia melengos menghindari tatapan tajam sang mami.
"Yumna. Mami tidak tahu apa yang menjadi pertengkaran kalian. Tapi sebagai istri, mami harap kamu juga bisa mengerti Haidar. Bukan mami menyalahkan salah satu dari kalian. Tidak! Tapi sebelum ini kalian juga kan sudah lama saling mengenal, kalian introspeksi dirilah. Bagaimana caranya untuk menjadi yang terbaik untuk pasangan kalian masing-masing," tutur Mitha lagi.
Yumna masih menunduk, tapi dia sangat mengerti dengan maksud pembicaraan Mitha.
"Please. Mami mohon. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Jika di bicarakan dengan baik pasti kalian akan baik-baik saja." pintanya.
Makan malam telah selesai. Haidar dan Yumna kembali ke kamar mereka. Meskipun mereka berada dalam satu ruangan tapi suasana terasa dingin tidak seperti biasanya.
Haidar melirik Yumna yang sedang memainkan ponselnya di atas tempat tidur. Sedangkan dia bingung ingin mencari celah untuk masuk ke dalam percakapan dengan Yumna.
Apakah Yumna akan memaafkannya setelah kejadian tadi siang?
Haidar merasa hampa di hatinya. Ingat jika biasanya Yumna akan berteriak saat dirinya naik ke atas tempat tidur dan mengancam akan menamparnya jika dia berbuat macam-macam. Tapi kali ini Yumna hanya diam tak peduli bahkan saat dia sengaja tidur lebih dekat dengan Yumna.
Gadis itu hanya menggeserkan tubuhnya sedikit lalu memiringkan tubuhnya membelaknagi Haidar.
__ADS_1