YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
151. Kehangatan Sebuah Keluarga


__ADS_3

"Oke aku tidak akan memanggilmu Pak, karena aku pikir kamu juga tidak tua-tua amat! Haha." Yumna tertawa setelah mengatakan itu, begitu juga dengan Juan, ikut tertawa dengan Yumna.


"Baiklah kalau begitu boleh aku panggil kamu dengan namamu, Yumna?" pertanyaan Juan membuat tawa Yumna berhenti dan menoleh ke arah pria itu. Rasanya sungguh aneh ketika pria itu memanggil namanya dengan jelas.


Sadar dengan tatapan Yumna yang tertuju ke arahnya, Juan lalu bertanya, "Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya pria itu menatap Yumna dengan heran. Yumna menggelengkan kepalanya, tapi malah terlihat kaku di mata Juan.


"Apa leher kamu sedang sakit?" tanya Juan membuat Yumna bingung dengan pertanyaan itu.


"Maksudnya?" Yumna bertanya balik.


"Kamu ...." Juan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sama seperti tadi yang Yumna lakukan.


"Apa leher kamu terkilir sampai tidak bisa menggeleng dengan benar?" tanya Juan. Kini barulah Yumna mengerti. Dia tersenyum dengan malu.


"Aku hanya tidak menyangka kamu manggil nama aku. Rasanya terdengar aneh." Yumna berkata sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Juan tertawa terkekeh, dia tidak habis pikir dengan wanita ini. Apa karena dia biasanya memanggil nona kepadanya?


"Terdengar aneh karena belum terbiasa. Nanti lama-lama juga akan terbiasa." Juan tertawa kecil.

__ADS_1


Penerbangan kali ini tidak dirasakan lama oleh Yumna dengan adanya Juan di dekatnya. Pria ini sangat menyenangkan diajak berbicara seperti sebelumnya.


Suara dari speaker terdengar mengabarkan bahwa pesawat akan segera landing.


Setelah turun dari pesawat keduanya kini berjalan di bandara. Juan melihat Yumna yang menggeret kopernya dengan susah payah, dia mendekat dan kemudian merebut koper milik Yumna. Yumna terkejut dengan apa yang dilakukan Juan.


"Biar aku bawakan." Setelah merebut koper milik Yumna kemudian dia berjalan terlebih dahulu. Yumna yang tersadar segera melangkahkan kakinya dengan cepat menyusul pria itu.


"Eh biar aku saja." Yumna berusaha mengambil alih kembali kopernya, tapi Juan tidak memberikannya, dia malah mengalihkan kopernya ke tangan yang lain.


"Sudah tidak apa-apa, biar aku saja yang membawakannya. Sebagai seorang laki-laki aku harus membantu perempuan yang sedang kesusahan," ucap pria itu dengan senyum manis di bibirnya, membuat Yumna tersipu malu mendengar ucapan pria itu.


"Aku ada yang menjemput. Kamu sendiri?" Yumna balik bertanya.


"Aku naik taksi saja." Jawab Juan.


"Aku kira kamu tidak ada yang menjemput, tadinya aku yang akan mengantarkan kamu pulang, dengan menggunakan taksi maksudku." tambah pria itu lagi.


Yumna tersenyum seraya mengucapkan kata terima kasih kepada pria itu.

__ADS_1


Mereka berjalan cukup jauh, hingga akhirnya terdengar suara seseorang yang berteriak memanggil nama Yumna. Yumna menoleh ke arah suara itu dan kemudian melambaikan tangannya saat dia melihat jika yang memanggilnya itu adalah adiknya, Syifa bersama dengan kedua adik kembarnya.


Yumna setengah berlari ke arah ketiga adiknya itu. Dia sampai melupakan Juan yang masih menggeret kopernya. Juan melihat Yumna bersama adik-adiknya sedang berpelukan, hanya ada satu dari mereka yang berdiri menatap ke tiga orang itu yang paling memeluk melepas rindu.


"Kakak aku sangat rindu!" Syifa sang adik berseru dengan nada manja saat Yumna memeluk mereka dengan erat.


"Kakak juga Dek sangat rindu sekali dengan kalian. Kalian apa kabar? Azkhan? Arkhan?" tanya Yumna kepada kedua adik kembarnya.


"Kami baik, Kak." ucap Azkhan menjawab pertanyaan kakaknya. Azkhan sangat senang sekali dengan kepulangan kakaknya ini. Begitu juga dengan Arkhan, dia senang dengan kepulangan Yumna tapi dia terlalu gengsi untuk memperlihatkan rasa senangnya itu. begitulah sifatnya berbeda sekali dengan sifat adiknya Azkhan.


Yumna mengalihkan pandangannya ke arah Arkhan, adiknya itu berdiri tidak jauh dari mereka bertiga dengan kedua tangan dia masukkan ke dalam saku jaketnya. Yumna sedikit kesal dengan adiknya ini. dia berbeda dengan kedua adiknya yang lain.


Yumna mendekat kearah adiknya itu, dan merangkul ke leher adiknya.


"Arkhan, apa kamu enggak kangen sama Kakak?" tanya Yumna kepada adiknya.


"Tidak buat apa kangen?!" jawab Arkhan sambil mencoba melepaskan tangan Yumna dari lehernya. Yumna tidak terima begitu saja saat adiknya mencoba berontak dan melepaskan diri. Tapi usahanya itu sia-sia karena kedua orang yang lain memluk Yumna dan adiknya itu, membentuk pelukan besar.


"Tapi aku kangen dengan kamu, Sayang!" ucap Yumna dengan senyuman jahil di bibirnya. Dia memeluk adiknya itu dengan erat membuat Arkhan merasa sebal. Juan melihat perlakuan hangat kempat orang tersebut dengan tersenyum senang. Rasanya sepertinya menyenangkan sekali jika memiliki saudara seperti mereka.

__ADS_1


__ADS_2