
Setelah selesai makan siang, Yumna pun kembali ke kantor dengan diantar Juan. Kali ini Juan mengemudikan sebuah mobil. Yumna hanya diam tidak berkata apa. Hanya fokus pada hpnya yang kini ada di tangan.
Berbeda dengan Juan, beberapa kali tidak tahan melirik ke arah Yumna yang cuek, malah asyik dengan hp di tangannya. Bukan medsos, tapi game kucing yang harus dimandikan dan diberi makan. Beberapa kali Yumna tertawa senang saat menekan layar membuat kucing itu terjungkal atau tertampar. Ya ampun ada-ada saja! Benar-benar gadis yang unik!
"Yumna, lain kali apa kita bisa bertemu lagi?" tanya Juan.
"Bisa kalau ada pertemuan seperti tadi." Yumna tidak mengalihkan fokusnya pada pria di sampingnya. Juan merasa kecewa, gadis ini terlanjur cuek dengan keadaan. Tapi kok semakin membuat penasaran, ya?
"Maksudku bukan seperti pertemuan kali ini, tapi seperti pertemuan kemarin."
"Hah?" Yumna melirik sekilas, tapi kembali lagi pada ponselnya. Si Kucing sedang mengendarai mobil, menghindari batu besar dan juga kayu pohon di jalan.
"Aku mau bertemu sama kamu seperti kemarin, bukan seperti hari ini." Yumna terdiam kembali menatap Juan di sampingnya. Suara tubrukan terdengar dari ponsel Yumna.
"Yah... Nabrak!" Yumna memperlihatkan layar ponselnya pada Juan. Juan hanya melongo melihat itu semua. Kepalanya mendadak gatal, tapi jelas dia tidak mau menggaruknya.
"Eh, tadi apa? Maaf aku kurang fokus. Hehe...." Yumna meringis memperlihatkan lesung pipi yang ada di pipi kanannya, sama seperti milik Mama Lily.
"Emhh... Maksudku, aku akan adakan pertemuan lagi dengan kakek minggu depan apa kamu akan ikut?" Tanya Juan.
"Oh ya tentu. Jika kakek menyuruh ku ikut aku tentu akan ikut." jawab Yumna. Juan tersenyum kecut, ternyata gadis ini memang tidak fokus mendengarnya tadi, tpi syukkurlah. Rasanya canggung juga ternyata mengajak gadis ini ketemuan di lain waktu.
Sampai di kantor. Yumna turun dari mobil dan melambaikan tangannya, "Trimakasih telah mengantarku. Apa mau mampir?" basa basi sedikit dengan orang yang sudah mengantarnya kembali ke kantor.
__ADS_1
"Tdak perlu, setelah ini aku akan langsung ke tempat lain." tolak Juan.
"Oh, kalau begitu hati-hati di jalan. Bye." Tapa menunggu balasan Juan, Yumna membalikkan tubuhnya dan berjalan ke dalam area perkantoran kakek Hadi.
Juan hanya melihat Yumna yang kini telah masuk ke dalam gedung, mengusap keringatnya yang telah mengucur sedari tadi, padahal Ac menyala dengan baik, tapi berdekatan dengan Yumna membuatnya gerah dan gelisah.
Yumna berjalan ke arah rungannya. "Cieee, diantar siapa tuh?" tanya Bian saat Yumna baru saja menutup pintu ruangannya. Yumna terlonjak kaget.
"Ngapain kamu di ruanganku?" tunjuk Yumna pada Bian dengan lantang.
"Diantar siiapa?" bukannya menjawab malah balik bertanya membuat Yumna kesal saja.
"Aku tanya ngapain kamu di ruanganku?" bertanya lagi dengan nada marah. Kalau melihat orang ini Yumna selalu ingin marah-marah saja.
"Aku tadi ada urusan sama kamu, tapi gak ada, padahal kakek sudah kembali dari tadi, kenapa kamu pulang terlambat? Tadi menemani kakek kan?" tanya Abian lagi.
"Ada apa kesini?" tanya Yumna ketus.
Abi berdecak kesal, tapi tak urung juga dia berikan beberapa lembar kertas di dalam map pada Yumna.
"Aku ada masalah di divisiku. dan ingin membicarakannya denganmu."
"Oh duduk lah." titah Yumna. Abi duduk di depan Yumna.
__ADS_1
"Mau membicarakan apa? Ada masalah apa?" tanya Yumna.
"Kau tadi dengan siapa?" Yumna memutar bola mata malas. Ditanya malah balik nanya. Rasanya ingin sekali memukul pria ini dengan komputer miliknya.
"Gak usah kepo! Kalau gak juga bahas masalah kamu, lebih baik pergi saja!" Usir Yumna pada Abian.
"Gitu aja marah. Cepet tua, loh!"
"Masa bodoh!" cerca Yumna.
Abi masih sangat penasaran dengan siapa Yumna pulang barusan, tapi Abi juga butuh Yumna untuk memberikan solusi atas masalahnya, jangan sampai dia membuat Yumna marah dan berakibat tidak mau membantu dirinya.
Selesai dengan urusan Abian, yang sebenarnya bukan masalah besar juga, dan Bian juga sepertinya tidak perlu juga bertanya padanya. Yumna menyandarkan dirinya di sandaran kursi, pusing yang tadi pagi dirasakannya semakin mendera. Akhirnya Yumna mengambil salah satu obat dari dalam lacinya dan menenggaknya dengan air putih yang ada di atas meja. Yumna selalu bertekad jangan selalu mengandalkan obat jika memang masih bisa ditahan, tapi kali ini Yumna memang sudah tidak tahan lagi.
Yumna terdiam, beberapa pekerjaan masih menumpuk, tapi pikirannya tidak karuan kemana. Memikirkan pertanyaan yang tadi Juan katakan di mobil. Ingin menemuinya lagi di lain waktu tapi bukan saat jam kerja. Itu berarti pria itu mengajaknya kencan? Seperti itu kah?
"Ah tidak mungkin. Jangan banyak berpikir! Mana mungkin saja orang itu hanya mengajaknya makan siang bersama saja, kenapa jadi berpikiran mengajak kencan?
Yumna jelas mendengarkan setiap ucapan Juan, Yumna memang sengaja memainkan hpnya di saat tadi mereka berduaan karena Yumna sadar dengan sikap pria itu yang aneh. Sebagai wanita yang beranjak dewasa Yumna tahu jika Juan sepertinya sedang berusaha mendekatinya. Yumna belum siap. Bukan karena trauma pernikahan, tapi dia belum diap dengan sebuah hubungan setelah kemarin hubungan dia kandas dengan Haidar.
Mata Yumna terasa berat. Yumna menahan dagunya dengan telapak tangannya. Mungkin karena efek obat yang tadi dia minum. Akhirnya dengan perlahan Yumna menjatuhkan kepalanya di atas meja dan terlelap.
Abian kembali lagi ke ruangan Yumna ada Sesuatu yang ketinggalan yang ingin disampaikan Abian ada gadis itu.
__ADS_1
Terlihat Yumna sedang menangkupkan kepadanya dia atas meja. Dengan perlahan Abian mengangkat tubuh Yumna dan membaringakannya ke kursi sofa.
"Dasar bodoh. Kenapa tidak tidur saja di sofa?!" gumam Abian.