YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
109. Melihat Yang Tak Seharusnya!


__ADS_3

Sebuah mobil hitam melaju pelan dan kemudian berhenti di sebuah rumah minimalis. Ini sudah jam satu malam, tapi sekurity membukakan portal dan membiarkan mobil itu lewat karena dia adalah salah satu pemilik rumah di kompleks perumahan ini.


Pak Dani yang tengah menyantap satenya terhenyak saat mendengar suara klakson dari luar. Dia sangat hapal betul dengan mobil berwarna hitam yang ada di luar sana. Segera dia menyimpan piringnya dan mengelap mulutnya dengan tisu, lalu berlari ke arah pagar untuk membukakannya.


Mobil masuk ke dalam sana. Pak Dani menutup pagar, kemudian berlari mendekat ke arah si empunya mobil.


"Dimana Haidar sekarang, Pak?" tanya seorang gadis yang ternyata adalah Yumna.


"Di kamar, Mbak." jawab Pak Dani.


Yumna melirik ke arah Jeje yang sibuk memakan sotonya.


"Makan, Mbak Yumna!" tawar Jeje.


"Silhkan A. Saya mau ke dalam dulu ya, Pak." ucap Yumna.


"Hati-hati, Mbak. Pak Haidar lagi buas!" teriak Jeje yang tertawa kemudian mengatupkan mulutnya karena mendapatkan pelototan dari mamangnya. Sedangkan Yumna menghentikan langkahnya.


"Pak Dani dan A Jeje ikut ke dalam, deh!" pinta Yumna. Dia ngeri juga mendengar tadi Pak Dani bilang di telfon kalau Haidar datang dalam keadaan mabuk berat. Apa lagi mendengar ucapan Jeje barusan.


Pak Dani dan Jeje saling pandang. Bahkan Jeje yang sedang makan pun sulit untuk menelan makanannya. Harusnya tadi dia tidak usah bicara seperti itu. Toh mau bagaimana mereka, kan suami istri!


"Ayoo. Kok malah diam?! Temenin!" seru yumna memutus pandangan mamang dan ponakannya itu.


Dengan terpaksa Jeje menjeda makannya. Dia bangkit dengan bibir mengerucut. Pak Dani menatap kesal pada ponakannya ini. Iya, kalau yang di terkam nanti istrinya sih gak masalah. Lah kalau yang di terkam yang sesama punya batang, bagaimana?


Yumna masuk ke dalam rumah bersama dengan Pak Dani dan Jeje.

__ADS_1


Dia hendak membuka pintu kamar tapi terkunci.


"Ini kuncinya mbak." Pak Dani mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya.


"Loh di kunci dari luar?" tanya Yumna heran. Dua orang itu saling pandang dan tersenyum kikuk.


"Maaf,Mbak. Kami terpaksa." ucap Pak Dani.


"Takut, Mbak. Pak Haidar ... aduh!" pekik Jeje saat mendapatkan sodokan di perutnya. Rasa linu seketika membuat dirinya kesakitan.


"Sakit, Mang!" keluhnya.


"Bisa diam gak? Gak usah di bahas juga kali!' cerca Pak Dani.


"Iya!"


Jeje tersenyum meringis sedangkan Pak Dani menggaruk hidungnya bingung apakah memang harus di bicarakan atau tidak.


Ah lebih baik tidak!


Pintu terbuka. Tak ada Haidar di dalam sana. Yang ada hanya baju yang berserakan di lantai.


"Haidar?" panggil Yumna lirih. Dia sangat yakin kalau orang itu ada di kamar mandi. Yumna menoleh pada kedua pengawalnya.


"Ayo. Temenin!" menarik lengan jaket Pak Dani.


Terpaksa... Walaupun bingung sebenarnya padahal kan mereka suami istri, Pak Dani dan Jeje mengikuti Yumna masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Tok. Tok.


"Haidar?" tak ada jawaban.


Tok. Tok.


"Haidar?!" sedikit lebih keras. Masih tak ada jawaban.


Lamat Haidar merasakan seperti ada yang memanggil namanya, seperti suara Yumna, tapi dia mencoba tak menggubrisnya. Dia menganggap kalau itu hanya khayalannya saja. Dia tak berusaha mengeluarkan kepalanya dari dalam air meski nafasnya sudah habis. Dia tak berniat untuk mengambil nafas.


Tak ada suara apapun di dalam sana. Yumna panik juga. Dia dan kedua pengawalnya mendekati ke arah kamar mandi.


Ceklek.


Pintu tak di kunci.


"Haidar!" seru Yumna saat menihat pria itu tengah menenggelamkan dirinya di dalam bathtub.


Dia mendekat dan mencoba menarik tangan Haidar dari dalam sana. Tapi saat tubuh Haidar terangkat sedikit Yumna melepaskan tangannya hingga Haidar kembali tenggelam di dalam air.


"Akh..." Yumna memekik saat melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat. Area yang selalu tertutup kini terekspose hanya tersamar oleh air yang beriak di dalam bathtub.


"Pak Dani. A jeje. Tolong bantu Haidar bangun dari sana!" ucap Yumna seraya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia lalu menyambar handuk yang berada tak jauh dari sana dan memberikannya pada Pak Dani


Pak Dani dan Jeje yang melihat kejadian itu hanya terdiam. Saling memandang dengan bingungnya,.


Drama apa yang sedang mereka mainkan?

__ADS_1


__ADS_2