
"Apa kamu nggak perhatikan nama Yumna? Yumna Azzura Mahendra," ucap Aldy lagi.
Randy terdiam dan mencoba mengingat. Dia memang tidak ada urusannya dengan para karyawan, tidak juga harus tahu dengan nama-nama mereka. Akan tetapi, dia memang pernah mendengar bawahannya menyebutkan nama lengkap Yumna.
Randy tertawa geli, dia benar-benar tidak menyangka jika Yumna adalah anak pertama dari keluarga Mahendra.
"Gimana bisa kayak gitu?" gumam laki-laki itu.
Aldy yang mendengar gumaman itu menoleh sejenak. "Gimana apanya? Sudah takdir dia menjadi anak keluarga Mahendra, "ucap laki-laki itu santai.
"Bukan begitu maksud aku, tapi kenapa dia bekerja di perusahaan lain? Bukankah ada perusahaan yang harus dia kelola? Dan lagi rasanya dia tidak pernah bilang kalau dia adalah anak seorang pengusaha," ucap Randy bingung.
Kali ini Aldy yang tertawa dan menepuk pundak sahabatnya tersebut. "Itulah hebatnya anak dari Bima Satria Mahendra, kamu boleh tidak percaya tapi itu lah kenyataannya. Mereka tidak mencolok, mereka juga tidak memamerkan nama belakang mereka. Apalagi Yumna, dia sosok yang sederhana sedari dulu," ujar Aldy.
"Kamu harus tahu kalau dia lebih memilih menjadi karyawan biasa di perusahaan ayahnya daripada dikenal sebagai pemimpin."
"Kenapa seperti itu?" tanya Randy bingung. Aldy hanya mengangkat kedua bahunya.
"Itulah hebatnya dia," ujar Aldy.
Randy kini hanya terdiam dan semakin mengagumi sosok Yumna. Satu dari sekian banyak orang yang bisa seperti wanita itu. Jika dia perhatikan selama di perusahaan, sikap Yumna memang sangat sederhana sekali, dia juga tidak membanggakan siapa suaminya Padahal laki-laki itu adalah seorang pemimpin perusahaan juga.
Ya ampun, harusnya aku datang ke kehidupan kamu lebih cepat, gumam laki-laki itu lalu meminum airnya hingga habis.
__ADS_1
Udara malam semakin dingin hingga membuat kaca depan mobil Haidar berembun. Jam kini sudah menunjuk ke angka sepuluh lebih, mobil berjalan dengan cukup pelan kena Haidar melihat Yumna kini bersandar dan menutup matanya.
"Sayang, kita berhenti ke minimarket dulu ya," pinta Yumna kepada sang suami.
"Oke, mau beli sesuatu?" tanya Haidar.
"Pengen beli es krim," ucap wanita itu yang membuat Haidar mengerutkan keningnya.
"Ini sudah malam Sayang, di luar juga dingin kayak begini kok beli es krim?" ujar Haidar.
"Tenggorokan aku rasanya panas, kayaknya kalau makan es krim enak gitu," ucap Yumna.
"Oke kita akan beli es krim dulu."
Haidar lalu melajukan mobilnya sedikit kencang dan tak lama mereka berhenti di sebuah minimarket terdekat. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang, dengan Yumna yang sedang menikmati es krimnya di dalam mobil.
"Kaki aku sakit sekali," ucap Yumna sambil duduk di tepi ranjang dan melemparkan sepatu heels setinggi tiga cm yang tadi dia pakai. Dia mengurut betis kakinya dengan perlahan dengan menggunakan kayu putih, rasanya lumayan nyaman.
"Aku bantu," ucap Haidar. Dia naik ke atas kasurnya setelah membuka sepatu dan juga jas yang dia pakai, mengangkat kaki Yumna untuk dia pangku di atas kakinya. Perlahan tangan itu menurut kakinya, membuat Yumna menjadi nyaman.
"Sayang, yang tadi itu beneran bos kamu?" katanya Haidar membuka pembicaraan.
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Nggak ada apa-apa. Tapi aku nggak suka lihat dia."
"Kenapa nggak suka?" tanya Yumna bingung.
"Waktu dia lihatin kamu kayaknya tatapan dari dia beda banget," ucap Haidar lagi yang membuat Yumna tertawa sedikit keras.
"Astaga Haidar, kamu tuh kalau cemburu harus lihat siapa dia. Dia itu cuma Bos, lagian kan dia juga tahu aku udah punya suami," ucap Yumna lagi sambil menggelengkan kepalanya.
Haidar menatap tak suka sang istri. Meskipun sudah mempunyai suami, tapi seorang laki-laki yang tidak tahu malu tetap saja bisa melirik wanita yang telah bersuami. "Aku memang cemburu kalau ada laki-laki lain yang deketin kamu. Kenapa, aku salah?"
"Kamu nggak salah, tapi rasanya kurang tepat kalau kamu cemburu sama dia. Dia itu cuma bos aku di tempat kerja,"
"Iya aku tahu. Dia memang bos kamu, tapi justru itu yang bikin aku nggak suka. Kamu jangan dekat-dekat sama dia," ucap Haidar.
Yumna tertawa lagi, melihat wajah sang suami yang lucu seperti itu.
"Aku dekat dari mana? Aku dan dia cuma satu perusahaan, dia ada di lantai atas, aku ada di lantai bawah. Kita juga hampir nggak ketemu setiap hari. Lagian ngobrol seperti itu juga baru tadi, mungkin karena lihat aku ada di sana. Selama di perusahaan kami tidak pernah bicara," ucap Yumna menerangkan kepada sang suami.
Haidar tetap tidak terima dengan perkataan Yumna. Jelas tatapan Randy membuatnya curiga. "Tetep aja aku nggak suka lihat dia sama kamu, kamu bisa bilang kalau dia cuma Bos, tapi rasanya tatapan dia sama kamu itu beda," ucap Haidar.
Yumna mengambil tangan Haidar dan mendekatkan dirinya ke arah suaminya itu, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Kamu itu kebangetan deh cemburunya. Udah, ah. Aku nggak suka kalau kamu kayak gitu terus. Cemburu nggak jelas, bikin aku bete. Tidur yuk," ajak Yumna.
__ADS_1
Haidar bangun dan melepaskan diri dari pelukan sang istri. "Aku mau ke kamar mandi dulu."
Kini dua orang itu berbaring berdampingan, mereka saling menatap satu sama lain dengan tangan Yumna yang memegang erat tangan Haidar. Memang semua hal ini tidak biasa, tapi Haidar akan membiasakan diri dengan ini semua.