YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
277. Perhatian Haidar


__ADS_3

Yumna tidak hanya berdiam diri saja setelah pernikahannya dengan Haidar, dia masih tetap bekerja karena kontrak yang telah dia tandatangani berlaku untuk dua tahun ke depan. Papa Bima dan juga Papi Arya tidak bisa berbuat banyak karena Yumna juga yang ingin bekerja selama dia belum mengandung buah cintanya bersama dengan Haidar.


Pagi ini Yumna dan Haidar bangun lebih pagi, bahkan sebelum matahari keluar dari peraduannya. Alarm yang Yumna pasang membuat keduanya bangun dari jam empat pagi dan lagi-lagi melakukan ritual penyatuan mencetak generasi yang baru. Padahal, semalam mereka juga sudah melakukannya. Kursi hadiah dari Mami Mitha masih saja teronggok di sudut kamar menjadi saksi penyatuan mereka berdua.


Lelah sudah pasti, tapi keduanya sangat bahagia dan menikmati waktu mereka.


"Aku mau siapin sarapan," ucap Yumna memaksakan diri untuk bangkit meski rasanya sakit di area inti tubuhnya. Berbeda dengan kemarin saat baru saja memulai, malam ini Haidar sudah berani untuk bergerak lebih bersemangat lagi, sampai rasanya pinggangnya rontok dan juga pegal.


"Sekali lagi, Yumna," ucap Haidar menahan tubuh Yumna dan melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri.


"Ini sudah siang, Haidar. Waktunya aku bikin sarapan. Nanti kita bisa kesiangan," ucap Yumna menatap jam yang ada di dinding kamarnya.)


"Aku sarapan kamu juga sudah cukup, kok." Haidar tidak peduli, menarik tubuh Yumna dan memaksa wanita itu berbaring lagi, dengan gerakan cepat Haidar mengunci tubuh polos sang istri di bawah tubuhnya. Mulai menciumi leher jenjang wanita itu dan membuat tanda merah lagi di sana.


"Haidar," d*sah Yumna tidak tahan, rasanya panas yang ada di dalam tubuhnya kini terbakar lagi.


Haidar tidak menggubris panggilan Yumna, dia hanya ingin sarapan istrinya sekarang ini, belum kenyang rasanya karena dia ketagihan saat Yumna menyebutkan namanya di antara gerakan indah mereka berdua.


Dering telepon terdengar dengan sangat jelas, membuat Yumna mendorong Haidar dengan kuat. Yumna mengambil hp-nya dan segera mengangkat panggilan tersebut yang berasal dari ibunya.


"Mama," ucap Yumna sambil berbisik dan menunjuk benda pipih miliknya. Panggilan itu dia perbesar dengan speaker suara.


"Iya, Ma?" tanya Yumna saat mendengar suara sang ibu dari seberang sana.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Lily, tidak melihat Yumna sedari kemarin membuatnya merasa khawatir.


"Baik, memangnya kenapa, Ma?" tanya Yumna sekali lagi.


"Gak apa-apa. Mama cuma pengen tau kabar kamu aja. Kok dari kemarin kamu gak telepon Mama?" tanya Lily. Yumna menjadi merasa bersalah, memang sedari kemarin dia terlalu sibuk dengan Haidar sampai belum menelepon ibunya.


"Maaf, Ma. Yumna ... anu–." Yumna sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan Lily.


"Ya sudah kalau kamu baik-baik saja. Ini Mama mau tanya, apa mobil kamu Mama kirimkan ke sana? Kamu butuh mobil kan untuk pulang pergi kerja?" tanya Lily selanjutnya.


"Ada aku yang akan antar jemput Yumna, Ma. Mama jangan khawatir," tukas Haidar saat Yumna hendak menjawab.

__ADS_1


"Eh, Haidar. Ada kamu rupanya," ucap Lily sedikit malu, dia tidak menyangka jika ada Haidar juga di sana.


"Mama cuma mau tanya soal mobil. Kamu kan pergi kerja jauh kalau antar jemput Yumna setiap hari."


"Gak masalah kok, Ma. Justru aku takut kalau Yumna bawa mobil sendiri, nanti kalau dia melamun sambil bawa mobil gara-gara inget dan kangen sama aku bisa bahaya, Ma," ucap Haidar sambil tertawa kecil saat melihat Yumna memberikan tatapan tajam.


"Ish, kamu nih. Gak segitunya juga kali!" ujar Yumna kesal. Haidar terkekeh melihat wajah marah sang istri.


"Ya sudah kalau begitu. Tolong titip anak Mama ya? Jaga dia dengan baik."


"Siap, Ma. Lagian sudah kewajiban Haidar untuk menjaga Yumna setelah menikah, kan? Mama jangan khawatir, kali ini Haidar akan jaga Yumna dengan sangat baik, tidak akan ada yang kurang sama sekali. Hanya saja ...." Haidar terdiam menatap Yumna dengan senyum jahilnya.


"Apa?" tanya Lily dengan tidak sabar.


"Mama tidak perlu khawatir, Yumna baik-baik saja kalau siang. Mama hanya harus khawatir kalau malam saja. Dia aku makan soalnya," ucap laki-laki itu, lalu kabur ke arah kamar mandi saat kembali melihat istrinya dengan tatapan marah padanya.


"Haidar rese!" teriak Yumna sambil melemparkan bantal hingga terjatuh di lantai. Haidar tertawa terkekeh, lalu menutup pintu kamar mandi. Tidak terkira malunya Yumna kini kepada sang ibu.


Astaga, kenapa gue punya suami rese amat ya. Malu! gumam Yumna di dalam pikirannya.


"Gak apa-apa, setidaknya ada satu orang yang bisa menghidupkan suasana. Mama tau dengan sifat kamu yang kaku, Yumna. Mama yakin kalau Haidar yang akan bisa memberikan warna yang lebih baik dalam hidup kamu. Haidar yang akan bisa membuat kamu menjadi orang yang berarti, Haidar yang akan bisa membuat kamu menjadi orang yang peduli dengan diri kamu sendiri. Dia juga yang akan bisa membuat kamu menjadi diri kamu yang sesungguhnya, yang akan bisa mengeluarkan kamu dari zona yang kamu kira nyaman selama ini. Mama senang kamu dengan Haidar," ucap Lily, terdengar suara wanita yang telah melahirkannya itu terisak pelan dari tempatnya.


"Mama senang," ucap Lily sekali lagi, lalu tidak terdengar lagi suaranya.


"Ma. Mama nangis?" tanya Yumna dengan pelan.


"Enggak. Gak nangis, kok. Mama cuma senang akhirnya ada seseorang yang bisa membuat kamu senang dan jadi diri kamu sendiri," ucap Lily lagi.


Yumna tersenyum perih. Ya, benar sekali. Hanya Haidar yang bisa melakukan itu untuknya, hanya dengan Haidar dia bisa tersenyum dan tertawa dengan lepas.


"Ya sudah kalau begitu. Mama tutup dulu teleponnya. nanti kita sambung lagi malam. Mama mau siapkan sarapan dulu buat yang lainnya," ucap Lily, lalu berpamitan kepada Yumna.


Yumna terdiam menatap layar hpnya yang gelap. Rasanya sangat sedih sekali mendengar ucapan ibunya tadi. Ternyata selama ini Lily sangat mengkhawatirkannya.


"Yumna, kok nangis?" tanya Haidar membuat Yumna tersentak dan menatap suaminya itu. Haidar baru saja selesai mandi, wajah dan rambutnya masih terlihat basah tengah dia usap dengan menggunakan handuk yang kering.

__ADS_1


"Gak apa-apa." Yumna mengusap sudut matanya yang basah. Dia tersenyum dan berharap jika Haidar tidak khawatir terhadapnya. Haidar mendekat dan duduk di samping Yumna, mengambil kedua pipi Yumna dengan telapak tangannya yang masih terasa dingin.


"Gak apa-apa kok matanya basah? Ada apa, Sayang?" tanya Haidar seraya menatap istrinya. Sekali lagi Yumna menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Gak apa-apa. Aku cuma kangen sama mama," ucap Yumna. Bukan dusta, tapi memang itu yang dia rasakan sekarang ini.


Haidar mendekatkan diri kepada istrinya tersebut dan mencium dua kelopak mata Yumna bergantian. "Nanti. Kalau kita ada hari libur kita berkunjung ke tempat Mama Lily. Oke?" ucap Haidar. Yumna menganggukkan kepalanya.


"Iya."


"Ya sudah, kamu mandi dulu. Air hangat sudah aku siapkan. Jangan lama-lama, aku akan masak di dapur," ucap Haidar lagi.


Yumna menatap Haidar dengan tidak percaya. "Emang kamu bisa masak?" tanya Yumna.


Haidar menarik kedua sudut bibirnya ke samping. "Kalau cuma telur dadar, telur ceplok, atau mie instan aku bisa," ucapnya sambil tersenyum.


"Sudah sana, mandi dulu. Atau, aku gendong ke kamar mandi? Kita mandi bareng lagi?" tanya Haidar sambil menggerakkan alisnya naik dan turun dengan cepat. Yumna segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Enggak usah. Aku mau mandi sendiri!" teriak Yumna lalu berdiri dan setengah berlari dengan lilitan selimut di tubuhnya. Haidar terkekeh melihat tingkah istrinya yang bak anak kecil.


Sepuluh menit kemudian, Haidar telah selesai memasak telur dadar, dengan banyak bawang daun dan juga beberapa potongan tomat seperti yang sering dia lihat saat Mama Lily menghidangkan makanan tersebut untuk Yumna. Haidar kembali ke dalam kamar saat Yumna sedang memngeringkan rambut dengan handuk kecil di tangannya.


"Makanan sudah siap."


"Kamu makan duluan saja. Aku masih belum beres," ucap Yumna masih terus menggosokkan handuk pada rambutnya.


"Makan bareng aja, deh." Haidar mengambil hairdryer yang ada di dalam laci meja rias dan menasangnya pada colokan listri, seketika suara hairdryer terdengar saat dia menyalakannya. "Sini," ucap Haidar lalu mengambil alih rambut Yumna dan mengeringkannya dengan sabar.


"Aku bisa lakukan sendiri," ucap Yumna.


"Sudah. Aku saja. Kamu hanya tinggal diam dan terima rambut kamu kering saja," ucap laki-laki itu lagi. Yumna kini hanya diam, menurut kepada laki-laki yang telah sah menjadi suaminya untuk yang kedua kali. Rasanya bahagia sekali saat mendapatkan perhatian yang lebih dari suaminya ini.


"Terima kasih, Haidar," ucap Yumna.


"Sama-sama, Cantik."

__ADS_1


__ADS_2