
Terlihat hp Yumna yang terlepas dari genggamannya dan masih menyala. Haidar mengambil hp Yumna pelan-pelan, takut jika Yumna terbangun. Dia tertegun saat melihat foto di layar hp Yumna. Seorang pria yang Yumna akui sebagai kakaknya. Tanpa sadar Haidar mengeratkan genggaman tangannya, rahangnya mengeras.
"Kalau Yumna suka sama pria ini kenapa dulu tidak batalkan saja pertunangan nya denganku?" lirihnya. Haidar menyimpan kembali hpnya di tempat semula. Dia berjalan ke kamar mandi dengan perasaan yang tak karuan.
Haidar membuka bajunya dan melemparkannya dengan kasar ke lantai kamar mandi. Sesuatu terasa tak nyaman di dalam hatinya. Marah, tapi dia juga bingung marah karena apa. Dia hanya bisa mengeratkan gigi-giginya dengan emosi yang menggelegak di dalam dirinya.
Yumna terbangun dari tidurnya. Dia merasa tubuhnya lumayan segar.
"Aku ketiduran!" gumam Yumna, dia bangun dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Ah ya ampun! Baru kali ini bisa tidur sampai pules di tempat asing!"
Tak sengaja Yumna melihat Haidar yang tengah berdiri di depan lemarinya. Yumna terdiam melihat Haidar yang hanya memakai handuk melilit di tubuhnya, tanpa sadar memperhatikan otot-otot yang menonjol di tubuh Haidar.
Haidar sedang memilih baju, tidak tahu jika Yumna sudah terbangun. Dia memakai kaos putih yang sudah diambilnya. Tanpa sengaja handuk yang melilit di pinggangnya terlepas. Yumna yang melihat pemandangan tak terduga itu lantas menutup kedua matanya, refleks berteriak. Haidar terkejut, dia membalikan dirinya dengan cepat dan melihat Yumna yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Haidar cepat tutupi!" teriak Yumna, Haidar masih belum mengerti.
"Apa?" tanya Haidar. Yumna tidak berani membuka mata, dia menunjuk ke arah tubuh Haidar.
"Itu, handuk kamu lepas. Cepat tutupi!" Haidar melihat ke arah bawah, dan segera mengambil handuknya yang terjatuh kembali melilitkannya dengan erat di pinggangnya.
"Kamu sengaja ya!" teriak Yumna. Masih menutupi pandangannya. Haidar merasa kesal, dia mengambil celana training dari dalam lemari dan segera pergi ke kamar mandi.
'Kenapa dia bangun! Nanti di sangka gue sengaja mau mesum lagi!' gumam Haidar kesal.
Yumna mengintip dengan satu matanya saat mendengar suara pintu tertutup keras. Tidak melihat Haidar disana, barulah Yumna menurunkan tangannya.
"Ish orang itu... Gak bisa apa ganti baju di kamar mandi?!" geram Yumna. "Ah mataku ternoda..."
Tak berapa lama Haidar keluar dari kamar mandi. Yumna menatap Haidar canggung, teringat saat bagian belakang Haidar terekspos dengan jelas di matanya. Wajah Yumna mendadak panas.
"Seneng lihat pemandangan? Apa jangan-jangan elo sengaja pura-pura tidur supaya bisa intip gue waktu ganti baju?" tanya Haidar.
Yumna mendecih tak suka. "Siapa juga yang seneng, yang ada mata gue terpapar virus karena lihat aktor porno. Live lagi! Aah mataku udah gak perawan lagi. Ternoda!" ucap Yumna kesal sambil mengusap kedua matanya.
"Pura-pura, padahal suka kan?" tanya Haidar. Yumna mengambil bantal dan melemparnya ke arah Haidar.
"Eh Haidar, bisa gak sih kalau lain kali elo ganti baju di kamar mandi? Paling enggak bawa celana ke dalam sana. Inget ada gue sekarang disini!" protes Yumna.
"Iya. Gue lupa tadi, lagian elo juga tadi tidur, gak tahu aja ternyata elo udah bangun!" jawab Haidar dia kembali melemparkan bantal itu ke Yumna.
__ADS_1
"Elo gak mandi?" tanya Haidar.
"Gak ah nanti aja sore, lagian tadi kan keluar dari hotel juga gue udah mandi!" jawab Yumna.
Suara ketukan di pintu terdengar, Haidar membuka pintu dan terlihatlah bi Nah yang berdiri di depan sana. Bi Nah menahan semyumannya saat melihat rambut Haidar yang basah. Dia melirik ke dalam, terlihat Yumna dengan rambut acak-acakan sedang melakukan peregangan di atas kasur.
"Ada apa bi?" tanya Haidar membuyarkan pemikiran Bi Nah.
"Itu mas, makan siang sudah siap!" ucap Bi Nah.
"Iya kami akan segera turun!" ucap Haidar. Bi Nah turun, Haidar kembali menutup pintu.
"Cuci muka. Makan siang ke bawah!" titah Haidar. Dengan malas Yumna berjalan menuju kamar mandi.
...*...
Makan malam tiba. Baru kali ini Yumna makan malam bersama kedua mertuanya. Sebagai seorang istri Yumna meladeni Haidar dengan baik di meja makan. Mengambilkannya nasi serta lauk pauknya. Tak lupa Yumna menyuguhkannya dengan senyum lebar. Haidar terpana.
'Andaikan dia Vio!' membayangkan Vio membuat bibir Haidar tertarik ke samping. Mitha dan Arya senang melihat Haidar dan Yumna yang terlihat bahagia. Mereka makan dengan tenang hingga makanan di piring mereka habis.
"Mi, pi. Besok Yumna mulai masuk kerja. Boleh kan?" tanya Yumna menatap Mitha dan Arya bergantian. Berharap kalau mertuanya tidak keberatan. Arya hanya diam, sedangkan Mitha menghela nafasnya berat.
"Apa tidak bisa kamu tinggal di rumah saja?" tanya Mitha sedikit kecewa. "Sebenarnya mami ingin kamu diam di rumah, fokus mengurus Haidar. Dan juga fokus untuk mempersiapkan kehamilan kamu!"
"Kalian gak akan menunda punya momongan kan?" selidik Mitha saat melihat Yumna dan Haidar saling pandang.
"Enggak kok, mi. Tapi kita gak mau terburu-buru juga. Biar apa adanya aja. Gak pa-pa kan?" tanya Haidar dengan pelan.
Sekali lagi Mitha menghela nafasnya.
"Ya sudah. Kalau soal kehamilan kan mami juga gak bisa berbuat apa-apa. Toh mami juga dapetin kamu setelah hampir empat tahun menikah!" ucap Mitha pasrah.
"Lagipula biar Yumna gak bosen juga diem di rumah terus." ucapan Mitha membuat wajah Yumna berbinar senang. "Tapi ingat, mami gak mau kalau sampai kamu kelelahan! Dan ingat juga dengan kewajiban kamu sebagai seorang istri! Masalah masak atau beres-beres tidak perlu khawatir, sudah ada yang kerjakan. Yang jadi kewajiban kamu adalah berikan kami cucu secepat mungkin!" ucap Mitha penuh harap.
"Betul!" Arya mengangguki ucapan istrinya, sedangkan Yumna dan Haidar menelan ludahnya dengan susah payah.
"Oh ya, kata mama kamu, baju kamu sudah di siapkan, besok pagi akan ada yang mengantarkannya kesini!" ucap Mitha.
"Iya, mi!" jawab Yumna.
__ADS_1
Haidar dan Yumna kembali ke kamar. Haidar mengambil bantal dan selimut dari atas kasur.
"Gue mau tidur di sofa!" ucap Haidar.
Yumna yang sedang memainkan hpnya hanya melirik Haidar sebentar.
"Ya bagus lah kalau elo mau ngalah!" ucap Yumna lalu kembali ke hpnya.
"Takut di ***** lima jari lagi pipi gue!" ucap Haidar, merasa ngilu mengingat semalam dirinya di tampar Yumna karena lagi-lagi bermimpi tentang balon air.
Haidar berjalan ke arah sofa dan merebahkan dirinya disana. Dia menarik selimut dan kemudian membuka hpnya, berbalasan chat dengan Vio.
Yumna merasa sedikit takut, dia mengeratkan selimutnya bahkan menggulung dirinya sendiri. Takut jika Haidar berlaku yang tidak-tidak terhadapnya seperti semalam, meskipun alasannya lagi-lagi bermimpi main lempar balon air yang membuat Yumna kesal setangah mati.
Merasa gelisah. Yumna bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari posisi ternyaman, namun rasa takut tetap mengalahkannya.
"Cepetan tidur. Kayak ulat bulu aja pake selimut sampe segitunya!" ucap Haidar. Dia mengerti akan ketakutan Yumna.
"Ini antisipasi!" jawab Yumna. "Awas loh ya, jangan naik ke ranjang gue!" ucap Yumna mengancam.
Haidar menyibak selimutnya, dan berjalan mendekat ke arah Yumna. "Emang kenapa kalau gue naik ke atas ranjang. Ini ranjang gue, bukan ranjang elo!"
Yumna merasa takut melihat Haidar yang semakin mendekat. Apalagi ketika sebelah kakinya sudah naik ke atas ranjang.
"Eh mau ngapain lo!" tunjuk Yumna, ia beringsut mundur.
"Mau apa terserah gue dong! Ini kan kamar gue!" jawab Haidar dengan senyum menyerigai di bibirnya.
"Eh Haidar inget perjanjian kita! Elo gak boleh..."
"Gak boleh apa?" potong Haidar, dia terus mendekat. Yumna semakin mundur hingga dia tak sadar sudah berada di tepi ranjang dan terjatuh ke bawah.
Bugh...
"Akhh!" teriak Yumna terkejut. Dia merasa sakit pada kepala bagian belakangnya yang baru saja mencium lantai.
Haidar merasa khawatir. Dia mendekat dan melompat turun dari ranjang untuk membantu Yumna berdiri.
"Elo gak papa?" Tanya Haidar khawatir. Haidar mengajak Yumna untuk duduk.
__ADS_1
"Jauh-jauh sana! Mau ngapain lo?" Yumna menyilangkan kedua tangannya di depan dada, takut.
"Gue mau ngambil headphone!" ucap Haidar, mengambil headphone dari atas nakas.