
Yumna pulang dengan menggunakan mobilnya. Tidak habis fikir hari ini dia mendapat kesialan. Rumit. Rumit. Semua ini gara-gara Haidar!
Yumna mengendarai mobilnya sedikit kencang, jalanan tidak terlalu padat. Fikirannya tidak bisa ia pakai dengan jernih. Ia malah seenaknya menyalip kanan dan kiri, tak peduli dengan suara klakson dan umpatan dari pengemudi lain. Sepertinya berkendara saat fikirannya tidak fokus sangat tidak cocok untuk Yumna. Berbahaya baginya dan bisa membahagiakan orang lain.
"Ya ampun, bagaimana ini bisa terjadi?!" Yumna setengah berteriak kesal. Dia menepikan mobilnya di jalanan yang sepi, tangannya memegang kemudi dengan kuat, mencengkeramnya hingga buku-buku tangannya memutih.
"Aaahhh dasar Haidar!!!! Kenapa juga aku harus bertemu lagi dengan dia!!!!" Yumna merasa kesal bahkan dia tidak segan untuk memukulkan keningnya beberapa kali pada setir mobil.
"Ya tuhan, kenapa mesti dia..." Yumna menangis bombay, tanpa air mata. Lebay ah Yumna 😒.
Suara telfon membuat Yumna tersadar. Mama. Yumna segera mengangkat panggilan dari sang mama.
"Iya ma? Hemmm....aku di jalan...iya...ini lagi pulang kok..." Yumna menjawab tanpa bersemangat. Dia segera mematikan telfonnya.
Sampai di rumah.
Lily menyambut kedatangan putri sulungnya dengan senang hati. Bibirnya tak berhenti tersenyum bahagia. Lily menarik tangan Yumna untuk duduk di sofa.
"Cerita sama mama sejak kapan kamu dan Haidar pacaran? Benar sejak di Singapura?" tanya Lily. "Tapi nenek tidak pernah bilang apa-apa soal Haidar!"
Yumna merasa jengah karena hari ini terlalu banyak nama Haidar yang ia dengar.
"Ma Yumna capek." Yumna mencoba menghindar dari sang mama. Dia berdiri, tapi tangannya di tarik kembali oleh Lily hingga Yumna kembali duduk di sofa.
"Eh tunggu dulu! Kamu ini kalau sudah lama punya pacar kenapa selalu bilang menjomblo? Coba dari awal kamu bilang punya pacar, mama kan gak perlu susah untuk jodohin kamu!" Lily mulai kesal.
"Ah, mama juga main jodoh-jodohan segala. Kan dari awal memang Yumna gak mau di jodohin. Lagipula Yumna...Emmm... itu... anu... kita sempat putus nyambung! Makanya Yumna tidak berani bawa dia ke rumah." Yumna beralasan.
__ADS_1
"Oooohhh..." Lily mengangguk-anggukan kepalanya sambil mengusap dagunya dengan telunjuk. "Apa Haidar itu cowok yang mama lihat waktu ada di pestanya Tia?"
"Mama lihat?"
"Gak lihat wajahnya sih, cuma lihat punggungnya. Bener dia yang kasih kamu jas malam itu?"
Yumna mengangguk.
"Ooohhh so sweet!!" Lily dengan wajah di buat semanis mungkin. "Romantis banget. Papa kamu aja gak pernah kayak gitu sama mama!" Yumna memutar bola mata malas, dia tidak suka mamanya memuji-muji Haidar.
"Ya sudah, kalau begitu. Sana kalau mau istirahat!" Lily menggerakkan tangannya khas mengusir.
Yumna berdiri, lalu duduk kembali. Dia memegang lengan Lily dan memijitnya perlahan.
"Ma...emm...Yumna kan udah terbukti punya pacar nih... Jadi... Yumna masih boleh kan kalau menikmati waktu Yumna."
"Maksud kamu menikmati waktu apa?" Lily langsung mendelik ke arah Yumna, lalu tersenyum. "Dengan Haidar? Oh tentu. Itu akan lebih baik sayang. Kamu mau kapan? Kamu siap kapan? Nanti kalau mereka kesini mama akan bilang untuk mempercepat acara pernikahan kalian!" Lily sangat antusias, matanya berbinar. Berbeda dengan Yumna yang merasa shock, bukan itu maksud Yumna.
"Justru itu sayang, kalau kalian menikah kalian kan pasti bisa berfikir dengan baik. Bisa lebih dewasa dalam menghadapi masalah. Bisa menekan ego masing-masing dan tentunya kalian juga akan saling menjaga perasaan satu sama lainnya. Mama yakin Haidar juga akan jaga perasaan kamu. Mama lihat dia sepertinya orang baik kok!" Lily mengelus pipi Yumna dengan sayang.
'Baik dari mana? Kalau mama tahu apa yang udah dia perbuat sama aku dari dulu apa mama yakin masih bilang dia baik?' monolog Yumna dalam hati.
"Tapi ma, Yum..."
"Tidak ada tapi-tapi. Pilih saja antara Haidar dan Putra. Mama tidak mau tahu pokoknya dalam waktu dekat ini kamu harus menikah. TITIK. Pakai TANDA SERU TIGA!" Ucap Lily sambil menunjuk tepat di depan hidung Yumna, yang berarti tidak bisa di bantah.
"Ma..." Yumna dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Tidak! Sekarang kamu pilih siapa? Mama tinggal menyampaikan kamu ingin menikah dengan Putra..." Lily mengulurkan tangan kirinya. "...atau Haidar!" mengulurkan tangan kanan.
Yumna masih terdiam, keduanya pilihan itu tidak ada yang oke menurutnya.
"Oke, berarti kalau kamu tidak mau menikah dengan Haidar mama akan telfon keluarga Suseno untuk datang kemari dan menerima pinangan mereka!" Lily mengambil hpnya dan mencari nama Suseno disana.
Yumna segera merebut hp dari tangan Lily, dan menyimpannya di atas meja.
"Eh, eh. Tidak-tidak! Ya sudah, lebih baik dengan dia daripada dengan pria yang tidak aku kenal sama sekali!" tukas Yumna membuat Lily tersenyum tipis hampir tidak terlihat.
"Anak yang baik!" cubit Lily di pipi Yumna. Lily mengambil hpnya lalu pergi ke kamar, meninggalkan Yumna yang merutuki ketidakberdayaan dirinya.
"Aaahhh apa yang harus aku lakukan?!" Yumna menyandarkan kepalanya, memejamkan matanya sesaat.
"Cie..cieee.... yang udah punya gebetan..." Tiba-tiba Syifa ada di belakang Yumna dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kursi. Wajahnya berada tepat di samping sang kakak.
"Kakak kok gak pernah cerita kalau udah punya gebetan? Jahat! Punya adik cewek tuh bagi-bagi cerita dan pengalaman dong kak!" ujar Syifa dengam wajah cemberut. Yumna hanya diam.
"Kak, kapan dia datang? Kapan dia melamar kakak? Kapan kalian akan menikah? Aku penasaran wajah calon kakak ipar aku seperti apa! Dia ganteng gak? Tinggi gak? bla..bla...bla..."
"Apaan sih dek? Jangan ganggu deh!" Yumna merasa kesal karena Syifa tidak berhenti bicara. Dia mengambil bantal sofa dan memukulkannya ke wajah sang adik. Dia langsung berdiri dan melangkah ke arah tangga.
"Kakak, Ih kak. Belum jawab pertanyaan aku. Kakakk!!!!" teriak Syifa dari bawah.
"Kakakkk!!! Inget, cowoknya jangan yang rambutnya keriting ya...." teriak Syifa lagi.
"Emang kenapa kalau rambutnya keriting?" seru Yumna dari tengah tangga, tidak berhenti melangkah.
__ADS_1
"Pokoknya jangan, aku gak suka!" jawab Syifa.
"Enggak kok, tenang aja. Dia mah rambutnya gak keriting. Kribo malahan!" jawab Yumna tenang.