YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
217. Tunggu Sebentar Lagi


__ADS_3

"Hah? Haidar?" tanya Lily dengan terkejut dan bingung.


Syifa menjadi serba salah dengan apa yang baru saja dia lakukan, membocorkan rahasia sang kakak kepada mamanya.


"Tapi Mama jangan bilang sama Kak Yumna kalau aku yang bocorkan rahasia dia. Ya, Ma. Nanti Kak Yumna bisa marah sama aku!" rengek Syifa, terbayang jika kakaknya marah seperti apa, dia pasti tidak mau membantu dirinya lagi jika sedang diganggu oleh si kembar tengil. Apalagi sesuatu yang menjadi ancaman dirinya tadi, Yumna mana mau membelikannya jika Syifa ingkar janji.


"Ma!" Syifa menggoyangkan lengan Lily.


"Yakin Haidar yang itu?" tanya Lily sekali lagi. Dia kira Yumna tidak akan bersama dengan Haidar lagi.


"Iya, kemarin saja wajah Kak Yumna berseri waktu dia chat. Syifa lihat nama Haidar yang chat Kak Yumna. Mungkin gak sih Ma, kalau itu Haidar mantan kakak ipar Syifa?" tanya Syifa.


"Gak tau," jawab Lily.


...***...


Yumna merasakan hidungnya yang gatal, sudah dua kali bersin hingga mengeluarkan cairan dari dalam hidungnya.


"Kamu kenapa sih? Flu?" tanya Haidar, dia mengambil tisu dan menyerahkannya pada Yumna.


"Gak tau, tapi tadi waktu di rumah aku baik-baik aja, kok." Yumna mengelap hidungnya yang basah dan membuang tisu bekas pakai ke dalam tempat sampah yang ada di dekat kakinya.


"Mau pulang lagi? Istirahat kalau kamu gak enak badan. Maaf, ya. Aku malah ajak kamu pergi," ucap Haidar menyesal.


"Eh, tidak usah. Aku gak apa-apa, kok. Beneran aku gak sakit, cuma gatel aja hidungnya," ucap Yumna lagi.


"Jadi? Mau lanjut aja?"


"Heem, lanjut aja perginya," ucap yumna dengan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Haidar melirik ke arah Yumna, gadis itu masih mengeringkan hidungnya dengan menggunakan tisu.


"Em ... Yumna," Panggil Haidar.


"Iya?" Yumna menoleh ke arah mantan suaminya itu.


"Aku sebenarnya gak nyaman sama mama dan Papa Bima harus pergi dengan cara kayak gini sama kamu. Apa kamu gak mau kalau kita jujur saja?" tanya Haidar, pandangannya lurus ke depan, konsentrasi pada jalanan yang cukup ramai.


Yumna terdiam, dia menundukkan kepalanya. Bingung juga dengan keadaaan dirinya. Ingat dengan kemarahan mama dan papa dulu saat mengetahui tentang pernikahan mereka.


"Aku gak tau, rasanya masih ingat waktu mama dan papa marah," jawab yumna.


"Tapi aku akan terima konsekuensinya, apapun itu," ucap Haidar lagi.


Yumna menatap mantan suaminya, bicara dengan sungguh-sungguh meski pandangan dia tidak tertuju kepada dirinya.


"Gak tau, lah Haidar. Aku masih bingung bagaimana cara menyampaikan hal ini sama mama dan juga papa," ucap Yumna.


"Apa kamu gak bisa tunggu lebih lama lagi?" tanya Yumna. Ada setitik rasa takut di hati jika Haidar akhirnya menyerah karena hal ini.


"Tidak, aku gak akan menyerah semudah itu." Haidar memegang tangan Yumna, menggenggamnya dengan erat. Terasa hangat hingga membuat Yumna berdebar rasa di hatinya.


"Aku gak akan menyerah secepat itu, Yumna. Mari kita berjuang bersama-sama," ucap haidar membuat senyum yang ada di bibir Yumna terbit seketika.


Yumna tidak akan melupakan masa-masa indah dirinya dengan Haidar. Dia membayangkan, jika saja dulu dia dan Haidar seakur ini, mungkin saja perpisahan itu tidak akan terjadi. Akan tetapi, keduanya memang masih bersikap egois, haidar dengan Vio, sedangkan Yumna dengan ego karena tidak mampu membuat Haidar jatuh cinta pada dirinya.


Mulai dari sekarang, bukankah sah jika mereka berdua mempertahankan kisahnya untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya?


...***...

__ADS_1


Bima menatap ke kejauhan, terlihat dua orang yang sangat dia kenali sedang melakukan lari kecil bersama. di sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari kediaman Yumna.


Di sebuah bangku panjang, di belakang sebuah pohon yang lumayan cukup besar, Bima sedang duduk memperhatikan dua orang itu. Dia tidak akan khawatir akan ada yang mengenalinya.


Bima terlalu khawatir dengan anak sulungnya hingga dia nekat mengikuti Yumna hingga sampai ketempat ini. Hubungan Yumna yang telah membaik dengan Haidar, belum dia dengar dari mulut putrinya sendiri, malah dia mendengar jika putrinya itu cukup sering bertemu dengan Haidar dari orang yang selama ini dia suruh untuk membuntuti Yumna.


Kecewa sebenarnya karena Yumna tidak juga membicarakan hal itu dengan dirinya atau pada Lily. yang dia mau, Yumna jujur dengan hubungan dia. Mungkin akan berat untuk memberi restu kembali, tapi jika memang Haidar kali ini sungguh-sungguh dengan Yumna, apa yang bisa dia lakukan? Melarangnya? Sepertinya tidak! Yumna terlihat bahagia sekarang, tertawa dengan ringan bersama pria itu.


Bima menghela napasnya dengan perlahan. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku sambil menyesap minuman kopi yang dia pesan dari salah seorang penjual keliling.


...***...


"Jadi Mas Bima dan Lily belum tau dengan hubungan kalian yang semakin dekat?" tanya Mitha pada Haidar. Terdengar kesal nada suaranya itu mendengar penuturan Haidar barusan jika dirinya dan Yumna masih dalam ranah pertemanan.


"Ya ampun, Haidar. kalian ini kenapa sih? Kenapa juga tidak memperjuangkan apa yang kalian mau? Mau sampai kapan, coba? kalian mau sampai kapan menjalani hubungan yang tidak jelas seperti ini?" tanya Mitha dengan nada yang terdengar gemas, seakan sedang memarahi anaknya yang masih TK.


Haidar hanya diam sambil memutar pulpen yang ada di tangannya. Benar apa kata Mami Mitha barusan, tapi mau bagaimana lagi? Yumna terlalu takut dengan pemikirannya.


"Haidar! Kok diam saja?" Mitha menggebrak meja, membuat Haidar menoleh menatap sang mami yang terlihat sedang kesal.


"Nanti, Mi. Kalau sudah ada kesempatan yang bagus, tentu aku dan Yumna akan bicara dengan jujur sama keluarga Yumna. Biarin Yumna tenang dulu napa, Mi?" ujar Haidar.


"Kalian yang tenang, tapi Mami enggak! Apa harus Mami yang bilang sama Lily dan juga Mas Bima?" gumam Mitha, tapi masih terdengar dengan jelas di tenga Haidar.


Haidar sampai tersentak dari duduknya. Dia menatap Mami Mitha dengan tatapan tidak suka.


"Mi, ini adalah urusanku sama Yumna. Mami jangan sembarangan ikut campur dengan hubungan kami," ucap Hadar dengan tegas.


Mitha menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, menatap kesal pada sang putra yang tidak bisa dimengerti. Apa sesulit itu sampai mereka berdua masih merahasiakannya? batin Mitha.

__ADS_1


"Ya, kan Mami kesal kalau begini terus! Mau sampai kapan Mami harus menunggu? Ini sudah sangat lama, loh. Mami sudah sangat kangen sama yumna," ucap Mitha masih kesal.


"Sabar. Nanti kalau keadaan kondusif, aku pasti akan datang ke tempat Yumna dan meminta izin sama orangtuanya." Haidar berkata dengan sungguh-sungguh. Tunggu sebentar lagi saja, meskipun Yumna tidak suka akan caranya, tapi dia juga tidak mau menunggu terlalu lama untuk Kembali bersama dengan Yumna.


__ADS_2