YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
312


__ADS_3

"Maaf, aku belum bisa perhatikan kamu dengan baik. Aku masih butuh waktu yang banyak untuk bisa mengenal dan memperhatikan kamu, Yumna. Tapi aku janji, akan berusaha keras buat mengenal kamu lebih baik lagi," ujar Haidar. sambil mengusap.kepala Yumna dari balik selimut.


Yumna merenung mendengar ucapan suaminya itu, merasakan kelembutan yang Haidar berikan untuknya. Dia tiba-tiba saja berpikir jika mungkin sikapnya kali ini keterlaluan. Perlahan wanita itu menyingkirkan selimut dan duduk.


Yumna menatap suaminya, tampak Haidar tersenyum kecil menatap Yumna. "Maafkan aku, Haidar. Aku keterlaluan, ya?" tanya Yumna mengakui, Haidar menggelengkan kepalanya.


"Aku sadar jadi kamu itu enggak mudah, apalagi kamu sekarang ini sedang mengandung anakku. Aku bisa kok sabar dan tahan kalau pun kamu berubah," ujar Haidar. Yumna terharu dan semakin merasa bersalah ketika mendengar hal tersebut. Bibirnya yang tipis sedikit bergetar menahan tangis.


"Maaf. Aku minta maaf karena nggak tau ada apa dengan aku," ucap Yumna. Hal tersebut membuat Haidar menarik tangan Yumna dan memeluknya erat.


"Sudah. Jangan sedih. Aku nggak apa-apa, kok. Malah aku yang seharusnya ngertiin kamu dan lebih perhatian lagi sama kamu," ucap Haidar mengelus punggung Yumna dengan lembut. Yumna merasakan kenyamanan dan hangatnya pelukan Haidar, hanya bisa membalas pelukan suaminya itu erat.


Dari mulai siang itu, Haidar dan Yumna hanya berbaring saja. Rencana untuk pergi menonton mereka batalkan karena Yumna yang ingin tiduran di kamar tanpa melakukan apapun. Haidar tak kurangnya menawarkan apa pun untuk Yumna, tapi istrinya itu hanya menggelengkan kepala dan hanya ingin memeluknya seharian.


Makan malam, Haidar tengah sibuk memasak untuk Yumna, sebuah hidangan sederhana karena sang istri hanya menginginkan telur dadar dengan banyak daun bawang dicampur saos sambal dan juga tomat segar. Untuk Haidar sendiri, dia memakan mie instan karena terlalu malas untuk memasak makanan berat lainnya.


Yumna makan dengan lahap, Haidar menarik napas lega karena sempat berpikir bisa saja Yumna sulit makan seperti ibu hamil pada biasanya.


"Enak?" tanya Haidar saat Yumna memasukkan suapan kelima. Yumna mengangguk senang dan fokus dengan makanannya sendiri. Begitu juga dengan Haidar yang menyeruput mie instan dengan telur di dalamnya.


Biasanya, Yumna akan marah jika Haidar makan mie instan, tapi kali ini dia hanya cuek dan tidak mau berkomentar apa-apa. Hampir setengah dari makanan yang ada di piringnya sudah dia makan. Piring tersebut dia dorong tanda selesai.


"Habiskan makanannya," ujar Haidar. Yumna menggelengkan kepalanya, perutnya sudah mulai terasa tidak nyaman dan takut jika dia akan mengeluarkan makanan itu lagi.


"Sudah cukup, Haidar. Rasanya perut aku nggak nyaman."

__ADS_1


"Kenapa? Sakit?" tanya Haidar khawatir, dengan segera Yumna menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.


"Nggak sakit. Cuma agak gimana ya perutnya. Takut kalau ...." Yumna menggerakkan tangannya di depan mulut, mengisyaratkan sesuatu yang Haidar pahami.


"Oh, ya sudah. Kamu mau langsung istirahat ?" tanya Haidar lagi.


"Tunggu kamu selesai makan," jawab Yumna. Haidar melanjutkan makannya dengan lahap, memasukkan lembar demi lembar mie ke dalam mulutnya. Asap yang mengepul dari dalam mangkok itu tampak menggoda di mata Yumna, tak sadar lidahnya terjulur mengusap tepian bibir.


"Sayang, itu enak?" tanya Yumna pelan. Haidar mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari mie tersebut.


"Hemm, enak," jawab laki-laki itu. "Mau?" tawarnya.


Yumna menggelengkan kepala, Haidar lanjut untuk makan kembali. Perut Yumna serasa tidak nyaman, tapi rasanya tergoda untuk sekedar mencicipi makanan milik sang suami.


Hingga pada dua suapan terakhir, akhirnya Yumna sudah tidak tahan lagi.


"Nih." Mangkok makanan tersebut dia serahkan kepada Yumna. Tampak wajah wanita itu berbinar mendapatkan apa yang dia mau. Haidar tersenyum senang, hanya melihat wajah bahagia Yumna membuat hatinya semakin berbunga-bunga.


Tidak menunggu apa pun lagi, Yumna menyendok mie tersebut dan memakannya dengan senang hati, kakinya berayun ke depan dan belakang bak anak balita yang mendapatkan makanan kesukaannya.


"Enak. Kenapa tadi aku nggak minta ini aja, ya?" ujar Yumna menyesal.


"Mau aku bikinin?" tanya Haidar.


"Nggak usah, nanti aja kalau aku mau," jawab Yumna. Mangkok putih itu dia angkat dan menempelkannya di bibir, meminum kuahnya hingga habis tak tersisa.

__ADS_1


Setelah makan malam, mereka berdua kembali ke dalam kamar, menonton tv yang ada di dalam sana. Akan tetapi, seakan terbalik, tv-lah yang tengah menonton mereka sekarang ini karena kedua orang itu sedang bermanja-manja dengan Haidar di pangkuan Yumna.


"Kira-kira, kamu mau anak perempuan atau laki-laki?" tanya Haidar sambil mengelus perut Yumna yang ada di depan wajahnya.


"Aku nggak bisa milih, apa pun yang diberikan Tuhan, itu lah rezeki buat kita," ucap Yumna. Haidar tersenyum senang mendengar ucapan istrinya itu.


"Lebih bagus lagi kalau kita dapat keduanya sekaligus," ujar Haidar. Yumna terkekeh. Entah apakah bisa atau tidak, tapi mungkin saja.


"Semoga aja, Haidar. Mama dan mami pasti akan senang kalau denger kabar ini," ujar Yumna, kemudian dia teringat akan sesuatu dan menegakkan punggungnya.


"Haidar, kamu belum telepon orangtua kita, kan?" tanya Yumna lagi.


"Belum, aku belum kasih tau siapa pun, kecuali Pak Dani yang memang sudah menduga kalau kamu sedang hamil. Apa kita akan berikan kejutan buat mereka?" tanya Haidar lagi.


Yumna mengangguk dengan cepat. "Iya, aku sedang pikirin itu. Tapi ... gimana caranya kasih kejutan yang berkesan sama mereka?" tanya Yumna bingung. Yumna mencoba untuk berpikir keras, tapi tidak tahu juga apa yang ingin dia lakukan.


"Kenapa nggak lihat aja di medsos? Kan banyak cara buat kasih kejutan sama keluarga kita," ujar Haidar. Yumna mengambil HP-nya dan mencari cara bagaimana mengejutkan keluarga besarnya juga mertuanya.


Haidar bangun dan duduk di samping Yumna, ikut melihat apa yang ditonton sang istri.


"Aku nggak tau harus yang mana," ujar Yumna menyerah. Semua yang dia lihat membuatnya bingung. Inginnya membuat kejutan yang berkesan untuk kehamilannya kini.


Haidar hanya terkekeh pelan, mengusap dan mencium kepala Yumna. "Nanti aku akan cari cara. Kamu jangan pusing soal ini," ucap Haidar, Yumna menganggukkan kepala dan memilih untuk merebahkan diri di dada Haidar.


"Apa kita lakukan di ulang tahunku saja?" tanya Yumna sambil memainkan permukaan dada Haidar.

__ADS_1


"Ide yang bagus," ucap Haidar.


Aku kira, Yumna lupa dengan hari ulang tahunnya,' gumam Haidar. Dia sungguh berharap jika Yumna lupa agar dia bisa menyiapkan hari ulang tahun Yumna sebaik mungkin.


__ADS_2