YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
158. Goresan Luka


__ADS_3

"Benar tidak ada yang luka?" tanya Juan dengan khawatirnya, membuat Shifa merasa berdebar di dalam dadanya.


"T-tidak. Aku baik-baik saja." ucap Syifa. padahal dia merasakan perih pada kakinya.


"Benar kamu nggak apa-apa, Dek?" Yumna bertanya untuk meyakinkan sang adik. Syifa hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku nggak apa-apa kok, nggak ada yang sakit juga." ucap Syifa lagi.


"Syukurlah."


Juan menatap keduanya secara bergantian, "Kalian setelah ini mau pulang?" dia bertanya kepada keduanya. Syifa mengangguk.


"Iya kami akan pulang, tapi sepertinya harus menunggu hujan reda." Yumna berbicara sambil melihat ke arah luar. Hujan sangat deras mengguyur bumi, hingga motor Yumna pun sudah kebasahan di pelataran parkir pertokoan tersebut.


Juan mengikuti arah pandang Yumna. Hujan memang deras, tidak mungkin jika dua wanita itu akan pulang dengan menerobos hujan.


"Kalau kalian ingin pulang bagaimana kalau aku antarkan?" tanya Juan menawarkan diri.


Yumna dan Syifa menatap ke arah juan.

__ADS_1


"Eh tidak perlu, kami berdua akan menunggu hujan saja. Mungkin juga tidak akan lama lagi," Yumna menolak sementara Syifa hanya diam saja. Dia lebih memilih melihat ke arah guyuran air hujan yang kini mendominasi wilayah itu.


"Kalau menurut kamu itu akan merepotkan aku Aku tidak apa-apa kok. Orang ku yang sudah menabrak kalian jadi aku ingin bertanggung jawab dengan kalian. lagian aku lihat adik kamu juga sepertinya kedinginan." Yumna melirik ke arah adiknya. Syifa tengah memeluk dirinya sendiri. Sepertinya adiknya itu memang sedang kedinginan.


"Oke, antarkan kami pulang tolong, tapi bgaimana dengan motorku?" tanya Yumna kepada Juan.


Juan berdiam sebentar. "Kamu bawa jas hujan?" Yumna mengangguk mendengar pertanyaan itu.


"Biar sopir ku yang membawa motor kalian, kamu dan Syifa aku yang antar pakai mobil."


"Baiklah. Syifa kita pulang diantar Pak Juan ya?" Yumna bertanya kepada adiknya.


"Ayo!" seru Juan kepada keduanya.


Yumna dan Syifa berjalan di depan Juan. Juan memperhatikan cara berjalan Syifa yang terlihat aneh, seperti terlihat ada rasa sakit di kakinya.


Warna merah darah segar terlihat di sepatu Shifa yang berwarna putih. Tujuan menghentikan laju langkah kaki Syifa dengan menahan tangannya.


"Tunggu. sepertinya kaki kamu sakit?" tanya Juan yang membuat Yumna juga menghentikan langkahnya. Yumna menoleh kepada adiknya.

__ADS_1


"Bener itu dek? kaki kamu ada yang sakit?" tanya Yumna, kini dia langsung berjongkok di depan kaki sang adik dan terkejut ketika melihat ada noda darah di sepatu warna putihnya.


"Ya ampun Dek kamu berdarah!" seru Yumna yang terkejut melihat darah di kaki adiknya itu. Yumna menaikkan sedikit celana adiknya hingga melihat goresan luka yang lumayan cukup dalam. Dari sana masih mengucur darah segar. Syifa tidak berani menunduk, sedari dulu dia takut dengan darah. Jika melihatnya dia bisa pingsan.


"Aku nggak apa-apa Kak, ini hanya luka kecil. Gak sakit." Syifa tersenyum meringis ke arah kakaknya.


"Luka kecil bagaimana? Ini ada pecahan kaca juga. Apa kamu tadi terjatuh di atas pecahan kaca?" tanya Yumna kepada adiknya. Syifa hanya menggelengkan kepalanya tanda ia tidak tahu, tapi memang kakinya terasa perih.


Tanpa banyak bicara Juan menggendong Yumna di depan tubuhnya. Yumna dan Syifa sama-sama terkejut dengan perlakuan pria di depannya ini. Dengan segera pria itu membawa Syifa berjalan mendekat ke arah mobilnya berada. Syifa terpana melihat wajah tampan yang kini sangat dekat dengannya.


"Yumna kenapa hanya diam saja, tolong bantu aku bawa Syifa ke mobil!" seru pria itu sambil menggerakkan kepalanya mengisyaratkan Yumna untuk segera mengikutinya.


Yumna tersadar lalu segera mengikuti langkah kaki Juan hingga ke dekat mobilnya. Disana sopir Juan juga telah bersiap.


"Bawa motor itu dan ikuti kami!" Titah Juan kepada pria paruh baya yang menjadi sopirnya. Juan segera memasukkan Syifa ke kursi belakang. Disusul dengan Yumna yang masuk ke sana. Juan setengah berlari menuju ke kursi pengemudi. Segera dia melajukan mobilnya untuk berbaur ke ke jalanan yang cukup padat.


"Kenapa kamu nggak bilang sih, Dek?" tanya Yumna yang menahanan laju darah yang keluar dari kaki adiknya.


"Aku kira tadi tidak akan separah itu,"' Syifa memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak melihat darahnya sendiri.

__ADS_1


"Kita akan ke rumah sakit, kamu tahan sebentar ya." Juan berkata tanpa melirik sama sekali ke arah belakang. Dia melajukan mobilnya cukup cepat. Di belakangnya menyusul sang sopir yang membawa motor Yumna.


__ADS_2