YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
355


__ADS_3

"Tidak apa-apa, yang terpenting kamu sudah kembali sekarang ini. Janji sama Mama kamu jangan pergi-pergi lagi, ya," pinta Yumna. Yumna menganggukkan kepalanya mendengar ucapan ibunya tersebut.


"Kamu istirahat dulu di kamar, biar koper Azkhan yang bawakan ke atas," titah Lily. Azkhan menurut perintah ibunya dan pergi ke lantai atas dengan membawa koper milik Yumna.


"Atau kamu mau makan dulu?" tanya Lily.


"Nggak, Ma. Aku udah jajan tadi di luar. Syifa dan Arkhan mana?" tanya Yumna.


"Mereka masih di luar, ada kegiatan. Kalau begitu kamu istirahat saja dulu, pasti capek sudah perjalanan jauh ya," titah Lily. Yumna mengangguk dan pergi ke lantai atas.


"Pa, untuk Haidar gimana?" tanya Lily pada sang suami.


"Itu nanti saja kita bicarakan. Ma, tolong Papa dong," ucap Bima mendekat dan menatap sang istri.


"Tolong apa?"


"Papa gatel sedari tadi punggungnya," ujar Bima. Lily menggaruk belakang tubuh suaminya itu.


"Bawah, Ma. Bawah lagi," perintahnya.


"Sini?" Lily menggaruk hingga ke bawah, bahkan banyak tempat di punggung Bima.

__ADS_1


"Terus, Ma. Ke bawah lagi."


Lily mengikuti perkataan suaminya menggaruk hingga ke bawah.


"Geser ke depan, Ma."


"Sini?" tanya Lily menggeserkan tangannya ke arah depan.


"Depan lagi, terus bawah!" ucap sang suami. Sadar jika dia sedang dikerjai suaminya, Lily menarik tangannya dan mencubit pinggang suaminya dengan keras.


"Ah, aduh!" ringis Bima kesakitan.


"Ih, enak dong ngerjain kamu. Mau," rajuk laki-laki itu. Lily menatap sang suami yang bak anak kecil merengek, dia segera beringsut dan memilih untuk pergi ke dalam kamarnya.


"Ma. Mama! Mau ...." Bima kecewa karena Lily malah meninggalkannya.


Lily berhenti sejenak dan membalikkan tubuhnya. "Masa iya kerjanya di ruang tamu!" ujar Lily yang membuat senyum Bima terbit. Bima segera pergi untuk menyusul Lily yang sudah sampai di kamarnya.


Ingat umur, Bimaaa!!!🙈


...*...

__ADS_1


Yumna tidak bisa tidur, banyak hal yang dia pikirkan mengenai hidupnya, dia juga sadar jiak mungkin dia telah keterlaluan dengan pergi meninggalkan suaminya.


"Nak, apa kalian akan benci sama Mama karena Mama pergi kemarin?" tanya Yumna mengelus perutnya yang sudah membuncit, tapi tentu saja tidak ada jawaban dari dalam sana, hanya gerakan saja yang terasa pada telapak tangannya.


"Maaf, ya jika Mama masih egois. Mama nggak akan kayak gitu lagi di kemudian hari," ucap Yumna masih betah mengelus perutnya. Yumna akhirnya bangkit untuk menikmati angin sore yang sepoi-sepoi dari balkon kamarnya. Langit mendung di atas sana, kelam seperti hatinya sekarang ini. Dia memang tidak suka jika Haidar berhubungan kembali atau bahkan hanya membantu mantan kekasihnya saja.


Apa aku keterlaluan? batin Yumna masih memikirkan kepergiannya kemarin yang hampir satu bulan lamanya, dia mendapatkan foto Haidar yang tampak kurus dan juga kusut, foto yang dikirimkan oleh Mitha sewaktu membujuknya untuk kembali waktu itu.


Entah beberapa saat lamanya Yumna ada di balkon kamar, dia tidak berniat untuk pergi jika saja tidak ada ketukan di pintu kamarnya.


"Kakak!" teriak suara yang Yumna sudah tahu sangat jika itu adalah adiknya.


"Buka saja pintunya," ucap Yumna setengah berteriak.


Pintu terbuka dan tampak Syifa berlari menuju ke arahnya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Kakak! Ya ampun, aku kangen banget sama Kakak," ucap gadis manis itu memeluk Yumna dengan erat.


"Tega banget Kakak ninggalin kita di sini. Jangan pergi lagi nanti," ucap Syifa sambil berderai air mata, pundaknya sampai bergerak naik dan turun menangis karena bahagia. Yumna hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar perkataan dari adiknya itu.


"Iya, Kakak nggak akan pergi lagi," janji Yumna.

__ADS_1


__ADS_2