
Yumna menatap Haidar yang sama bingungnya.
"Haidar, anakku kenapa nggak nangis?" tanya Yumna kemudian mencoba mencari keberadaan dokter di sudut ruangan. Dokter dan perawat itu tampak sedang sibuk, membuat Yumna menjadi khawatir.
"Apa yang terjadi?" tanya Yumna lagi. Haidar menatap dokter sekilas, tapi dokter itu tidak menjelaskan apa pun. Hanya ada ketegangan yang terjadi di antara dokter dan dua perawatnya.
Melihat suasana yang horor seperti itu, Yumna menangis tersedu. Dia takut saat ini. Jangan sampai ada sesuatu hal buruk terjadi kepada anak-anaknya.
"Haidar," panggil Yumna takut.
"Tenang, Sayang. Tenang."
Justru karena ucapan Haidar yang seperti itu membuat Yumna menjadi semakin ketakutan. Pikiran Yumna semakin gundah gulana, sudah pergi ke mana saja memikirkan nasib anaknya itu. Air mata Yumna sudah tidak bisa dibendung lagi.
Hingga akhirnya, nada dokter penuh kelegaan disusul oleh tangisan nyaring anaknya yang lain. Dua tangis bayi terdengar menggema di ruangan itu.
"Alhamdulillah," ucap dokter dan suster terdengar di telinga Yumna dan Haidar. Beberapa menit menegangkan, akhirnya bisa mereka lewati. Anak kedua Yumna meminum air ketuban sehingga dokter harus melakukan tindakan sesegera mungkin.
"Dokter, anak saya nggak apa-apa, kan?" tanya Yumna lirih, tenaganya sudah habis untuk melahirkan kedua anaknya itu.
Dokter tersenyum dan mendekat pada Yumna, sementara satu perawat mengurusi sisa lahiran.
"Alhamdulillah, semua selamat. Selamat ya, Bu Yumna dan Pak Haidar telah menjadi orang tua mulai dari sekarang," ucap dokter tersebut.
__ADS_1
Tak lama perawat datang dan menggendong anak Yumna kemudian memberikannya kepada dokter.
"Anak pertama laki-laki, dan anak kedua anak perempuan. Semuanya sehat, selamat ya," ujar dokter tersebut.
Yumna menangis melihat anak-anaknya yang tampan dan cantik, meskipun masih banyak lendir dan darah di tubuh mereka. Dia menarik tangan dokter dan mencium anaknya satu persatu tanpa jijik sama sekali.
Dokter mempersilakan untuk Haidar mengumandangkan Adzan untuk kedua anaknya. Dengan lancar Haidar melantunkan adzan di dekat telinga anak-anaknya.
Pintu terbuka, Haidar keluar terlebih dahulu karena akan dilakukan tindakan selanjutnya untuk Yumna dan anak-anaknya.
Semua keluarga yang menunggu di depan ruangan bersalin menatap Haidar dengan penuh tanda tanya karena Haidar berjalan dengan gontai dan tatapan yang kosong tanpa ekspresi sama sekali, membuat semua orang kebingungan dan ketakutan.
"Haidar, gimana cucu Mami? Selamat kan? Yumna?" tanya Mitha, pun dengan Lily yang beberapa menit yang lalu telah kembali dari kantin bersama dengan Bima.
"Yumna, gimana?" tanya Lily ikut mendekat pada Haidar. Sedangkan para kakek dan paman serta bibinya menatap Haidar yang masih berjalan bak orang linglung.
"Haidar!" seru Mitha berlutut di lantai dan menggoyangkan tubuh Haidar yang tidak sadarkan diri.
"Eh, dia malah pingsan!" ujar Mitha menggelengkan kepalanya.
Arkhan dan Azkhan membantu mengangkat Haidar dan memindahkannya ke bangku panjang yang ada di sana, sementara Syifa mengipasi kakak iparnya itu agar segera bangun.
"Aduh, saat kayak gini malah pingsan. Gimana anak ini. Kita belum tau kabar Yumna dan cucu kita," ujar Mitha kesal dan memukul lengan Haidar. Mitha menatap kesal putranya yang tertidur di atas pangkuannya.
__ADS_1
"Mami, sabar. Anak kita lagi pingsan kenapa dianiaya?" ujar sang suami.
"Ya, Mami kesel, kan belum tau kabar menantu dan cucu udah pingsan aja!" ujar Mitha sekali lagi. Tepat pada saat itu dokter keluar dari ruangan itu dan memanggil keluarga pasien.
"Kami! Kami neneknya!" seru Mitha, tak ingin tertinggal informasi, dia segera mengangkat kepala Haidar dan memindahkannya ke kursi dengan cukup kasar saking tidak sabarnya. Arya melihat itu hanya meringis dan menggelengkan kepalanya. Sungguh kasihan sekali sang anak yang dianiaya oleh ibunya bahkan saat tidak sadarkan diri.
"Mana cucu kami? Gimana keadaan Yumna?" tanya semua orang memberondong pertanyaan pada dokter.
Dokter tersenyum dan dari belakang keluarlah dua anak yang ada di gendongan perawat.
"Selamat, keduanya sehat dan selamat."
"Cucu yang mana yang pertama? Perempuan atau laki-laki?" tanya Mitha antusias.
"Ini pasti anak pertama, perempuan. Hidungnya kayak Kak Yumna, tapi matanya kayak Bang Haidar. Jadi Dokter, ini perempuan atau laki-laki?" tanya Yumna pada salah satu anak yang tertidur di tangan dokter.
Dokter memberi tahu yang mana anak pertama dan mana anak kedua.
"Waaah, mirip Kak Yumna. Ini juga mirip Kak Yumna!" seru Azkhan takjub dengan dua bayi yang ada di tangan perawat.
"Iya, tapi matanya mirip Haidar kan?" ujar Mitha bangga.
Sementara itu Arkhan tersenyum senang melihat betapa bahagia keluarnya dengan kehadiran dua bayi itu.
__ADS_1
"Om Arkhan sini dong, sapa keponakannya," ujar Lily.
Arkhan mendekat dan bisa melihat wajah keponakannya itu dengan sangat jelas. Bukan hanya sekedar keponakan, tapi juga dia merasa seperti sudah menjadi ayah dari keponakannya itu meski hanya satu hari.